Sastrawan

Menulis merupakan salah satu cara menuangkan ide serta gagasan yang ada didalam pikiran seseorang. Namun saat ini banyak sekali orang yang masih beranggapan bahwa menulis merupakan sesuatu yang dianggap sepele dan membosankan. Faktanya, masih banyak orang mengalami kesulitan didalam menulis sebuah karya satra. Baik dari segi tulisannya, pemilihan kata, dan penempatan tanda baca.

Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan rasa cinta seseorang terhadap sebuah tulisan karya sastra adalah dengan membiasakan diri untuk membaca dan menulis, setelah itu barulah merubah mindset didalam hati dan pikiran bahwa menulis sebuah karya sarta itu sesuatu yang indah, mudah, mengasikan, dan tentunya bermanfaat bagi kehidupan.

Dalam menulis sebuah karya sastra selalu berorientasilah pada aktifitas dan objek yang disukai. Hal-hal apa yang menjadi kesukaan dan kegemaran sehingga kecintaan terhadap sebuah karya sastra berjalan dengan tulus tanpa adanya tekanan. Ciptakan pikiran dan perasaan dalam bentuk karya sastra seperti artikel, cerpen, puisi, atau drama. Ulasan terhadapkarya sastra juga sangat penting karena disini ketelitian dalam mereview hasil karya satra akan semakin baik. Mengkoreksi hasil karya satra berulang-ulang lalu apabila terdapat sebuah tulisan yang dirasa mengandung makna kurang pas segera benahidengan kata yang lebih baik.

Kemudian hal yang tidak kalah pentingnya untuk menanamkan rasa kecintaan terhadap menulis karya sastra adalah mempublikasikannya. Untuk pelajar dan mahasiswa dapat mempublikasikannya melalui madding ( majalah dinding ) ataupun majalah sekolah atau bisa juga mengirim hasil tulisan karya sastra ke media cetak untuk diterbitkan. Tentunya ada rasa kebanggan tersendiri didalam hati apabila tulisan karya sastra dibaca oleh banyak orang.pokonya menulis sebuah karya sastra itu sesuatu yang menantang dan mengasikan. Dengan rajin menulis sebuah karya sastra apapun itu tentunya penulis akan menjadi orang yang berpengalaman luas dan instan expert.

Pengertian Karya Sastra

Karya Sastra adalah penciptaan disampaikan kepada komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering mengatakan, baik di pertama atau ketiga orang, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang berhubungan dengan waktu mereka.

Bentuk Karya Sastra

Ada beberapa fungsi sastra, salah satunya disampaikan oleh amriyan Sukandi adalah untuk mengkomunikasikan ide-ide dan menyalurkan pikiran dan perasaan dari pembuat estetika manusia. Gagasan itu disampaikan melalui mandat yang umumnya ada dalam literatur.

Selain ide, dalam literatur ada juga deskripsi peristiwa, gambar psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Hal ini dapat menjadi sumber ide dan inspirasi bagi pembaca. Konflik dan tragedi yang digambarkan dalam karya sastra untuk memberikan kesadaran kepada pembaca bahwa ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata dan dialami langsung oleh pembaca.

Kesadaran yang membentuk semacam kesiapan batin untuk mengatasi kondisi sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sastra juga berguna untuk pembaca sebagai media hiburan.

Jenis-jenis Karya Sastra

Puisi – Karya sastra yang terikat oleh bait dan array, kata singkat tapi kaya makna, kata-kata yang tidak fulgar tapi dibungkus dengan kekerasan, baik klise atau tidak klise.

Pantun – Berasal dari Sumatera, Indonesia. Sajak terikat oleh garis pada setiap baris, dengan rumus abab. Pada pertama dan kedua baris adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.

Roman – Fiksi yang menceritakan kisah hidup seseorang pemuda dari masa kanak-kanak sampai mati, atau dari bayi sampai dewasa. Roman adalah karya sastra lama.

Novel – Bentuk sastra yang menceritakan kisah fiksi kehidupan seseorang yang dianggap mengesankan. Misalnya, hanya memberitahu remaja untuk orang dewasa. Semua karakter dalam novel adalah fiktip belaka, tetapi disesuaikan dengan waktu ketika cerita itu ditulis. Jadi terjadi seakan-akan itu terjadi pada saat itu. Novel ini termasuk sastra modern.

Cerpen – Seperti namanya, cerita pendek biasanya terdiri dari 2-5 lembar kertas folio atau ukuran F4. Cerita pendek hanya menceritakan peristiwa yang paling berkesan yang menimpa tokoh utama.

Dongeng – Cerita lama yang biasanya tidak diketahui anonim, mengatakan hanya dari mulut ke mulut. Meskipun kini telah dikumpulkan dalam bentuk tertulis. Di masa lalu sudah menjadi kebiasaan ketika orang tua menceritakan kisah membuai dia. Sekarang hampir tidak ada orang tua mendongeng kepada anak-anak mereka.

Legenda – Sebenarnya hampir sama dengan dongeng, tidak diketahui siapa penulisnya. Namun legenda mengatakan tempat asal atau kisah kerajaan kuno. Misalnya “Sangkuriang” menceritakan asal-usul Gunung Maras.

Naskah Drama – Cerita lengkap dengan adegan dan dialog dari karakter. Dalam bermain aktor yang terorganisasi dengan baik cerita tentang bagaimana berbicara, adegan, dan ekspresi di wajahnya. Drama biasanya dimulai dengan prolog. Selain dialog antara para pemain, ada juga monolog karakter. Monolog adalah karakter berbicara dengan dirinya sendiri.

Dua hal yang membuat sastra koran atau majalah tetap bertahan. Yaitu menciptakan sastra elektronika atau justru menegasi besar-besaran terhadap dunia virtual. KEHADIRAN media massa, khusus koran atau majalah, sejak lama telah memberi ruang bagi sastra (cerpen, puisi, dan cerita bersambung) berkembang di Indonesia. Adanya sastra koran atau majalah, demikian yang sering akrab dikenal, juga membantu melejitkan nama dan karier sang penulis.

Namun, seiring dengan turunnya bisnis media cetak, sejumlah suratkabar mengurangi halaman, tak terkecuali ruang sastra. Salah satu contohnya, koran Suara Merdeka di Jawa Tengah, yang mengurangi rubrik sastra dari empat halaman menjadi satu halaman.

Penulis dan sutradara teater Agus Noor mengatakan, sangat merasakan dampak penurunan ruang sastra secara langsung. Persaingan untuk mempopulerkan karya sastra semakin ketat seiring dengan keterbatasan wadah.

Memulai karier di saat koran tengah menjadi primadona pada 1980-an, Agus merasa terbantu dengan kehadiran koran.

“Paling utama, kita dapat mempublikasikan karya hingga diapresiasi karena lembaga sastra yang dalam hal ini adalah koran, memiliki sifat otoritatif,” ujarnya dalam Diskusi Sastra “Senjakala Ruang Sastra di Media” di Gedung Olveh, Jakarta, Kamis (28/4).

Memasuki awal 2000 hingga sekarang, kondisi mulai berubah. Masyarakat mulai bisa menulis lewat blog dan media sosial. Mereka dapat bebas menuangkan ekspresi untuk dibaca siapapun tanpa memiliki kewajiban untuk diedit, layaknya proses mengirimkan ke media cetak. Tapi, kebebasan itu tidak diiringi dengan kehadiran lembaga yang memiliki sifat otoritas layaknya media cetak. “Sekarang, tidak ada lembaga otoritas yang bisa menjadi sumber perbandingan. Tidak hanya sastra, tapi hal ini juga berlaku dalam film dan musik,” ucap Agus.

Selain kehilangan lembaga otoritatif, Agus juga mengatakan, terhapusnya etalase akan persaingan yang sehat antarpenulis di generasi muda maupun senior. Suasana kompetitif yang dihadirkan di media cetak tentu tidak bisa tergantikan dengan kehadiran blog dan media sosial.

Ketakutan serupa juga dirasakan penulis Djenar Maesa Ayu. Ia mengatakan, generasi muda akan kehilangan media untuk berekspresi, bermimpi, dan berjuang untuk menggapai mimpi itu. Ia pun menceritakan pengalamannya harus harus menunggu tiga tahun hingga cerpennya dimuat di Harian Kompas.

Banyak faktor penyebab hingga akhirnya sejumlah media mengurangi ruang sastra. Selain permasalahan teknis yang dihadirkan dunia digital dengan ciri berkarakter cepat, selera publik pun ikut berubah. Sastra yang kerap diidentikkan sebagai hal serius kian terpinggirkan, berganti dengan konten enteng.

Masih Tetap Ada

Di tengah keterbatasan ruang sastra, Redaktur Budaya dan Sastra Harian Kompas Putu Fajar Arcana menjelaskan adanya secercah titik terang dalam kondisi saat ini. Setidaknya, lebih dari 10 koran masih menampilkan rubrik sastra meski tidak dalam halaman melimpah layaknya beberapa dekade lalu.

Yang membuat sastra itu masih ada di media bukanlah berdasarkan kebijakan atasan di sebuah koran. “Tapi, selalu tumbuh bibit atau anak ideologis yang tercipta secara personal. Mereka mengemban tugas ‘mulia’ hingga menjadi redaktur kebudayaan di suatu media yang menjadi pengendali segala hal ada atau tidaknya ruang kesusastraan,” ujar Putu.

Dengan begitu, keberadaan sastra selalu rentan terhadap berbagai perkembangan; bergantung pada anak-anak ideologis tersebut. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga, anak-anak ideologis itu memudar dan dipastikan ruang sastra akan menemui ajalnya. Kondisi ini, kata Putu, sudah menimpa banyak penerbitan harian di Indonesia, tak terkecuali Kompas.

Sementara itu Redaktur Sastra Harian Suara Merdeka Triyanto Triwikromo menyebut saat ini adalah era generasi internet. “Di mana internet kian populer, dan ‘kebudayaan’ menjadi konteks yang sama rata di mata orang,” tutur Tri, sapaan akrabnya.

Dalam kondisi tersebut, kata dia, muncullah klise massal yang didesakkan oleh pasar. Tri menceritakan, publik telah hanyut dalam kebudayaan mereproduksi teks dalam balutan industri. Jika sebuah novel sukses di pasaran dengan ideologi cinta, maka pengarang lain berlomba-lomba menghasilkan karya serupa demi meraih pencapaian tinggi. Dampaknya, sastra koran atau sastra majalah menjadi sastra minoritas yang langka. Ruang sastra kian mengurang seperti yang dialami Harian Suara Merdeka pada tiga tahun lalu. Penghargaan sastra (untuk koran) pun berhenti, seperti Anugerah Sastra Pena Kencana dan Anugerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini, Kemendikbud).

Tri menjelaskan, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi keterbatasan minim ruang sastra itu. “Mengikuti alur dalam dunia baru itu dengan menciptakan kemungkinan baru, seperti sastra elektronika, atau justru melakukan negasi besar-besaran pada dunia virtual untuk kemudian mengembalikan diri ke dunia tanpa kesemuan,” tuturnya.

Indonesia merupakan negara kepulauan di Asia, tepatnya di Asia Tenggara. Tentunya, Indonesia adalah negara tercinta bagi kita semua. Selain merupakan negara kepulauan, Indonesia adalah negara dengan keberagaman suku terbesar di dunia dan dilengkapi dengan penggunaan bahasa yang tiap suku memiliki ciri khas masing-masing. Ada suku Dayak, Jawa, Toraja, Batak, Bugis, Aceh, Betawi, Manado, dan lain-lain hidup dan tumbuh bersama menjalin sebuah persaudaraan walau terbentang jarak antar pulau yang saling memisahkan, namun mereka tetap Indonesia. Suatu kebanggaan bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Tak lepas dari keberagaman bahasa tersebut, tentu hanya bahasa Indonesia sajalah sebagai bahasa pemersatu kita semua. Ya, Itulah bahasa kebanggaan kita, bahasa Indonesia.

Bahasa dan sastra adalah satu kesatuan yang tidak akan terlepas tetap saling mengisi. Karakter sebuah bangsa bisa ditentukan melalui bahasa dan sastra sebagai media seninya. Namun, Kondisi masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini, dengan berbagai masalah nasional yang timbul akibat melemahnya karakter bangsa, telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif pada tahun 2010 untuk mengarustamakan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan tersebut harus senantiasa diiringi dengan penguatan rasa kebangsaan. Dengan semangat kebangsaan yang kuat, cerminan karakter Indonesia akan muncul dalam segala aktivitas yang ditujukan bagi peningkatan kualitas bangsa. Jalur pendidikan mengambil peran penting dalam upaya pencapaian tujuan ini. Sebagai alat ekspresi diri pribadi, alat ekspresi diri makhluk sosial, alat ekspresi diri warga negara, dan alat ekspresi diri profesional, bahasa menjadi kebutuhan dasar dalam dunia pendidikan. Bahasa memiliki peran penting dalam pembentukan karakter seseorang. Jika perspektif peran bahasa dipadukan dalam proses pendidikan guru, bahasa berperan sebagai alat pengembangan kompetensi pendidik. Melalui pembelajaran bahasa yang integratif dengan didasari pemahaman historis filosofis tentang Indonesia yang berlandaskan kearifan lokal, semangat nasional, dan wawasan global, semangat kebangsaan dapat tumbuh untuk memperkuat karakter Indonesia.

Pengaruh globalisali berusaha menawarkan liberalisasi dibidang; agama, budaya, ekonomi, konstitusi, kesehatan, pendidikan bahkan bahasa jika hal ini dibiarkan dapat menggerus jati diri bangsa Indonesia dan dapat melunturkan sikap nasionalisme anak bangsa. Hanya bangsa kreatif yang akan mampu bertahan, dalam arti menemukan jati dirinya. Jati diri bangsa kita adalah Pancasila, yang meliputi beberapa hal yaitu; kepedulian, pengertian, serta nilai-nilai berdasarkan nilai-nilai inti dari Pancasila. Oleh karena itu, optimalisasi bahasa dan sastra di Indonesia harus terus diupayakan semaksimal mungkin, untuk dapat mengembangkan seluruh aspek pendidikan seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik dan adanya perilaku moral yang dapat dimengerti oleh peserta didik. Pendekatan komprehensip dengan menerapkan semua aspek pendidikan pengembangan karakter bangsa.

Berbicara tentang bahasa, adalah salah satu kata yang terdengar tidak asing di telinga kita. Terlebih lagi kita sering menggunakannya sebagai salah satu-satunya alat ekpresi diri dan komunikasi. Dan tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak akan pernah luput dari yang namanya bahasa. Ia selalu dibutuhkan oleh manusia dalam pembentukan masyarakat. Tanpa bahasa, masyarakat tidak akan terwujud. Karena ia merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Dan bahasa juga merupakan bagian kebudayaan yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan sebagai pondasi dasar dari kebudayaan. Ia akan membuka berbagai pintu dan jendela dunia, sehingga akan tampak beragam corak dan budi pekerti suatu bangsa.

Bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili Kumpulan kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad,disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitusaja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kita harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut tata bahasa.

Sementara sastra yang berasal dari bahasa Sansekerta (Shastra) merupakan kata serapan yang berarti “teks yang mengandung intruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “intruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa indonesia, kata ini bisa digunakan untuk merujk kepada “keusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Selain itu, dalam dunia kesusastraan, sastra terbagai menjadi dua. Yaitu tulisan dan lisan. Tulisan bisa dikatakan sebagai karya yang lahir dari tangan-tangan penulis dan menciptakan warna tersendiri untuk menambah khasanah sastra, sementara lisan merupakan wadah atau alat untuk mengungkapkan isi dari sastra yang telah diciptakan tadi.

Menurut Mursal Esten (1978:9), Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia, (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Sementara Plato mengungkapkan bahwa sastra sebagai karya tulisan yang halus merupakan karya yang mencatat bentuk bahasa dengan berbagai cara, yaitu dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan, dan diterbalikkan serta dijadikan ganjil. Dari kedua teori dari para ahli tadi dapat kita rasakan bahwa sastra sejatinya tidak terikat atura. Ia mengalir bagaikan air yang deras di sungai. Mengungkapkan kata-kata yang indah dengan imajinasi yang kreatif, sehingga menghasilkan mahakarya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Bahasa dan sastra merupakan ilmu dan seni. Dikatakan sebagai ilmu, karena bisa dipelajari. Selanjutnya, disebut sebagai seni, karena dapat digunakan dengan memperhatikan berbagai faktor keindahan yang dapat mewarnai bentuk bahasa yang digunakan. Selain sebagai ilmu dan seni, bahasa dan sastra merupakan alat utama, media pengungkap rasa, ide, pikiran, dan gagasan. Karenanya, keduanya merupakan cermin jiwa penggunanya. Sebagai media pengungkap rasa, pikiran, dan gagasan, bahasa berperan penting di dalam mengolah jiwa. Sekalipun ruhani seseorang sedang gundah gulana, tetapi jika kegundahan itu dilahirkan dengan kesejukan berbahasa, maka yang keluar, yang muncul di permukaan adalah karakter kedamaian. Sebaliknya pula, meski jiwa seseorang dalam keadaan tenang, tetapi apabila diekspresikan mengundang konflik, maka yang lahir di permukaan pun adalah kekacauan. Dengan demikian, betapa besar bahasa dan sastra itu berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. Membentuk karakter adalah membentuk jati diri.

Menilik histori pada zaman penjajahan dahulu, kita pasti menyadari bahwa banyak yang sudah diambil oleh para penjajah kita. Salah satunya adalah kekayaan ilmu tentang bahasa dan sastra Indonesia. Bahkan diketahui bahwa bahasa indonesia merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan. Percaya atau tidak Bahasa Indonesia sudah digunakan di 45 negara di dunia. Dan akibat hal tersebut bahasa Indonesia menempati peringkat ke 10 dalam hal bahasa yang paling banyak di pelajari di berbagai negara yang ada di dunia ini. (viva.co.id). Bahasa indonesia pun menjadi bahasa populer di beberapa negara, seperti Australia, Jepang, Vietnam, dan bahkan Bahasa Indonesia diyakini sangat berpeluang menjadi bahasa resmi ASEAN (republika.co.id)

Berbeda dengan negara kita sendiri, “tuan rumah” dari Bahasa Indonesia. Kita tahu bahwa bangsa Indonesia terbentuk dari beraneka ragam suku, budaya, agama, dan bahasa. Bangsa Indonesia merupakan cermin kemajemukan yang ditunjang dengan berbagai simbol pemersatu bangsa. Salah satu pemersatu itu adalah bahasa Indonesia. Namun, masalah yang dihadapi bangsa ini adalah kondisi kebahasaan di Indonesia yang cukup memprihatinkan, terutama penggunaan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia di tempat umum, seperti nama bangunan, nama kompleks perumahan, nama pusat perbelanjaan, serta nama hotel dan restoran, sudah mulai marak menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Nama tempat yang seharusnya menggunakan nama berbahasa Indonesia, tetapi menggunakan kata asing itu menunjukkan mulai lunturnya jati diri keindonesiaan. Kondisi seperti itu harus kita sikapi dengan arif agar kita tidak menjadi asing di negeri sendiri.

Nah, untuk memcahkan masalah ini, semua elemen harus bersatu padu, agar bahasa kita sendiri sebagai bahasa pemersatu bangsa tidak hilang ditelan masa. Salah satunya adalah dengan Penanaman cinta bahasa kepada anak bangsa haruslah dari sejak dini, hingga perguruan tinggi secara optimal melalui; materi pembelajaran yang berkaitan dengan keterampilan siswa dalam berbahasa dengan memanfaatkan berbagai media belajar, metode, pendekatan, strategi pembelajaran, maupun evaluasi pembelajaran. Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia berperan sangat penting didalam menjaga keutuhan dan rasa persatuan Indonesia, karena bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai perekat kebersamaan dan sebagai salah satu simbol jati diri bangsa. Hal itu sejalan dengan semboyan “Bahasa Menunjukkan Bangsa”.

Upaya optimalisasi pembelajaran oleh guru bahasa dan sastra Indonesia dengan menyeserasikan antara metode pembelajaran yang diterapkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh tenaga pendidik dengan pengajaran aktif, inovatif, kreatif, effektif, gembira dan menyenangkan serta pemilihan materi pembelajaran yang digali dari nilai luhur bangsa akan membentuk jati diri siswa yang kelak mampu menghadapi kehidupan dimasa depan yang bermartabat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).


Indonesia konon sarang teroris. Negara kepulauan ini juga juara korupsi peringkat ke sekian, gagal menjadi tuan rumah piala dunia tahun 2022, dan kini malah beredar video seronok mirip artis ternama. Miris bukan? Lantas apa yang bisa dibanggakan dari negeri ini?

Tunggu dulu, Indonesia sejatinya punya banyak tokoh fenomenal yang cemerlang di mata masyarakat internasional, meski kadang tenggelam dan sedikit dibenci bahkan dipenjawa di negerinya sendiri, layaknya potret sang nabi.

Sebut saja sastrawan kenamaan Pramoedya Ananta Toer. Pujangga kelahiran Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 silam ini adalah penerima sejumlah penghargaan sastra bertaraf dunia.

Pria bersahaja yang wafat 30 April 2006 silam ini pernah menerima The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Nobel Prize for Literature nomination dan Ramon Magsaysay pada 1995, Honorary Doctoral Degree from University of Michigan, Ann Arbor pada 1999, Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres Republic of France dan Fukuoka Asian Culture Grand Prize, Fukuoka, Japan, pada 2000, The Norwegian Authours Union pada 2004, dan sederet penghargaan internasional lainnya.

Puluhan karya berkualitas memang dihasilkan oleh eks tahanan politik (tapol) pada masa orde baru ini. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca) dan 200 lebih karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 40 lebih bahasa di dunia.

Belum lagi karya-karya sastra lain, baik fiksi maupun nonfiksi, yang banyak dicari para pemuja sastra di tanah air maupun di luar negeri.

Karangan Pram, sapaan akrab Pramudya, kental dengan nuansa humanis, anti penjajahan dan feodalisme. Meski tidak secara eksplisit ditorehkan dalam setiap tulisannya. Pram selalu menyerahkan sepenuhnya pada objektivitas pembaca. Seperti yang dia rangkum dalam tetratrologi Bumi Manusia, Gadis Pantai, Nyanyian seorang bisu I, dan II, Di Tepi Kali Bekasi, Jalan Raya Pos Jalan Daendels. Atau Arok-Dedes, yang alur ceritanya dibuat seperti menyimpang dari sejarah yang biasanya dibaca di buku-buku sejarah atau dikisahkan oleh orang tua kepada anaknya.

Tulisan-tulisan Pram juga lekat dengan nuansa realis yang membawa pembaca ke alam lain atau dipertontonkan sebuah detil cerita layaknya sebuah film. Hal ini diakui Pram, terinspirasi dengan karya-karya John Steinbeck, penulis Amerika peraih Nobel Sastra Tahun 1962 dan Maxim Gorky (1868-1936), sastrawan terkemuka dari Rusia.

Kemahiran Pram dalam meramu bahasa dan menganyam frasa, memang tidak lepas dari kegemarannya membaca serta menerjemahkan karya-karya penulis terkemuka. Tentu dengan memanfaatkan kemampuannya dalam beberapa bahasa asing. Tak heran jika pada awal karirnya Pram sempat menjadi “kurir sastra”.

Pada tahun 1950-an, Pram sudah menerjemahkan novel John Steinbeck dengan tajuk Tikus dan Manusia, Kembali pada Tjinta Kasihmu, novel Leo Tolstoy, masih pada tahun yang sama, Perjalanan Ziarah yang Aneh, novel Leo Tolstoy, pada 1954, Kisah Seorang Prajurit Sovyet, novel Mikhail Sholokov, pada tahun yang sama, dan Ibunda, novel terkenal dari Maxim Gorky, serta masih banyak lagi terjemahan novel asing karya penulis terkemuka dunia yang diterjemahkannya.