Sastrawan

Sastra Indonesia merupakan sastra yang dibuat di wilayah kepulauan Indonesia. Sastra Indonesia ini merujuk pasa sastra yang bahasa akarnya berdasarkan bahasa melayu ( dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya ). Dalam sejarah sastra Indonesia dikenal dengan istilah angkatan. Angkatan adalah suatu usaha pengelompokan sastra dalam suatu masa tertentu berdasarkan atas cirri khas karya yang dihasilkan pada masa itu. Angkatan-angkatan dalam sejarah sastra Indonesia diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Angkatan Pujangga Lama
Pujangga Lama merupakan bentuk pengklasifikasian karya sastra di Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20. Pada angkatan ini didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan hikayat. Para penulis pada masa ini diantaranya adalah:
• Hamzah Fansuri,
• Syamsudin Pasai,
• Abdurrauf Singkil,
• Nuruddin ar-Raniri,dll.

2. Angkatan Sastra Melayu Lama
Karya sastra Indonesia yang dihasilkan antara tahun 1870-1942 yang berkembang di lingkungan masyarakat Sumatra, seperti Langkat, Tapanuli, Minangkabau, dll. Isi sastranya masih dalam bentuk syair, hikayat, dan terjemahan novel barat. Beberapa karya sastra yang ada pada masa ini adalah:
• Robinson Crusoe (terjemahan)
• Nyai Dasima oleh G. Francis (Indonesia)
• Bunga Rumpai oleh A.F. Van Dewall

3. Angkatan Dua Puluhan (Balai Pustaka)
Disebut angkatan dua puluhan karena angkatan ini lahir di tahun 1920-an. Disebut angkatan balai pustaka karena penerbit yang banyak menerbitkan adalah Balai Pustaka. Pada angkatan ini isi yang ada adalah mengenai prosa ( roman, novel, cerpen, drama ) dan puisi. Beberapa karya sastra angkatan ini adalah:
• Azab dan Sengsara (roman, 1920, oleh Merari Siregar)
• Apa Dayaku karena Aku Seorang Perempuan (Nur Sutan Iskandar, 1923)
• Tak Putus dirundung Malang (roman, 1929, S.I. Alisyahbana)

4. Angkatan Tiga Puluhan (Pujangga Baru)
Angkatan ini lahir sekitar tahun 1933 dan 1942. Disebut pujangga baru karena pada saat itu ada majalah sastra yang terkenal yaitu majalah Pujangga Baroe. Karya sastra angkatan ini bersifat dinamis, individualis, tidak terikat tradisi, intelektual, dan nasionalistik. Terdapat dua kelompok sastrawan Pujangga Baru, yaitu:
• Seni untuk seni => Sanusi Pane, Tengku Amir Hamzah
• Seni untuk Pembangunan Masyarakat => S.T. Alisyahbana, armijn Pane Efendi.
Karya sastra yang dihasilkan antara lain :
• Layar Terkembang (roman, 1936, S.T. Alisyahbana)
• Anak Perawan di sarang penyamun (roman, 1942, S.T. Alisyahbana)
• Belenggu (roman, 1940, Armijn Pane)

5. Angkatan ‘45
Pelopor angkatan ini adalah Cahiril Anwar. Ciri-ciri karyanya antara lain adalah bebas, individualistik, realistik, dan futuristik. Karya-karya dari angkatan ini adalah;
• Kerikil Tajam (1949, Cahiril Anwar)
• Dari Ave Maria ke jalan lain ke Roma (Indrus), dll.

6. Angkatan 1950-1960 an
Pelopornya adalah Pramoedya Ananta Toer. Karya pada masa ini didominasi oleh cerpen dan kumpulan puisi. Contoh karya pada masa angkatan ini, yaitu:
• Pramoedya Ananta Toer
– Kranji dan Bekasi Jatuh (1947)
– Keluarga Gerilya (1951)
• N. H. Dini
– Dua Dunia (1950)
• Mochtar Lubis
– Tak Ada Esok (1950)

7. Angkatan Enam Puluh Enam
Nama angkatan ini diberikan oleh H.B. Jassin. Muncul pada saat keadaan politik Indonesia kacau karena terror PKI. Karya sastranya banyak bersifat protes terhadap keadaan yang kacau pada saat itu. Beberapa karya pada angkatan ini adalah:
• Tirani (kumpulaln puisi oleh Taufik Ismail)
• Bila Malam Bertambah Malam (Putu Wijaya)

8. Angkatan 1980-1990an
Karya pada angkatan ini berisi tentang roman percintaan dan lebih menonjolkan tentang wanita. Beberapa contoh karya pada masa ini adalah:
• N.H. Dini
– Namaku Hiroko
– Dua Hati
Ciri-ciri dari karya N.H. Dini adalah lebih berpengaruh pada budaya barat
• HIlman Hariwijaya
– Lupus

9. Angkatan Reformasi
Munculnya angkatan reformasi ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra, puisi, cerpen, maupun novel yang bertema sosial-politik, dan seputar reformasi. Contoh karya pada masa ini adalah ;
• Widji Thukul
– Puisi Pelo
– Darman

10. Angkatan 2000-an
Contoh karya pada masa ini adalah :
• Habibburrahmana EL SIrzy
– Ayat-ayat Cinta (2004)
– Pudarny Pesona Cleopatra (2005)
• Andrea Hirata
– Laskar Pelangi (2005)

11. Cybersastra
Karya sastra yang dipublikasikan di dunia maya. Situs sastra Indonesia di dunia maya yang salah satunya adalah duniamaya,com.

Seperti inilah kiranya sejarah sastra di Indonesia. Setiap situasi dan kondisi suatu kaum atau negara bisa mempengaruhi isi dari karya-karya sastra Indonesia. Seiring berjalannya waktu, sastra Indonesia akan semakin berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Belanda menjadi sebuah negara terlama yang berhasil menjajah Indonesia. Terhitung sejak tahun 1600-an, Belanda sudah berhasil menancapkan kekuasaannya atas negeri Indonesia. Keinginan Belanda untuk menguasai sumber daya alam Indonesia yang berlimpah menjadi salah satu alasan Belanda untuk tetap berusaha memperhatankan kekuasaannya terhadap Indonesia.

Langkah awal Belanda dalam menguasai Indonesia dimulai dengan adanya VOC yang dibentuk tahun 1602. Visi penting yang dibawa VOC adalah untuk memonopoli perdagangan yang ada di Indonesia. VOC pun mengambil alih pemerintahan di Indonesia yang kemudian dijadikannya sebagai koloni.

Sebagai wilayah koloni, VOC memang berusaha membangun Indonesia. Sekolah – sekolah didirikan. Anak para kepala kampung diberikan pengajaran dan pendidikan hingga ke negeri Belanda. Pembangunan jalan raya dan infrastruktur lain dilakukan. Tapi, tentu saja hal tersebut dilakukan semata – mata untuk memperlancar kegiatan dagang VOC sendiri, alih – alih untuk menyejahterakan penduduk pribumi.

Tentu saja nasib yang lebih buruk menimpa sebagian besar masyarakat Indonesia karena kehilangan hak kebebasan untuk menentukan nasib sendiri. Penindasan, kelaparan dan kerja paksa harus dijalankan masyarakat Indonesia demi mematuhi titah penguasa Belanda.

Selama 300 tahun lamanya, masyarakat Indonesia berada dalam genggaman Belanda tanpa bisa melepaskan diri. Pemberontakan memang dilakukan demi upaya memerdekakan diri dari Belanda. Tapi segala upaya seolah gagal dan dengan mudahnya dimentalkan oleh Belanda.

Gagalnya upaya – upaya ini tak lain karena perjuangan masyarakat Indonesia yang masih bersifat kedaerahan. Mereka berjuang dengan daerah kecilnya masing – masing sehingga tak cukup kuat melawan pemerintahan Belanda yang menguasai seluruh nusantara.

Hingga di awal tahun 1900-an, nampaknya arah perjuangan masyrakat Indonesia mulai menunjukkan titik terang. Nasionalisme tampak bertumbuh dalam masyarakat Indonesia sehingga memunculkan keinginan untuk berjuang bersama seluruh nusantara.

Penyebab munculnya nasionalisme di Indonesia ini tentu memiliki banyak pemicu. Munculnya nasionalisme di Indonesia pada dasarnya disebabkan oleh banyak faktor yang secara umum dibagi dalam dua kelompok, yakni faktor internal dan faktor eksternal.

Berikut ini adalah faktor internal penyebab munculnya nasionalisme di Indonesia.

FAKTOR INTERNAL PENYEBAB MUNCULNYA NASIONALISME DI INDONESIA

  1. Munculnya perasaan senasib sepenanggunangan karena adanya penderitaan yang sama akibat penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.
  2. Kesatuan Indonesia di bawah Pax Neerlandica memberikan jalan ke arah kesatuan bangsa.
  3. Pembangunan sarana komunikasi antara pulau yang membuat semakin mudah dan semakin seringnya rakyat dari berbagai kepulauan untuk berkumpul.
  4. Semakin populernya bahasa Indonesia yang menjadi tali pengikat kesatuan bangsa yang ampuh. Hal ini dikarenakan adanya pembatasan penggunaan atau penyebaran bahasa Belanda di kalangan pribumi sehingga membuat penggunaan bahasa Melayu semakin dipopulerkan dan bahasa yang digunakan pun memunculkan bahasa Indonesia yang cukup mampu untuk mengikat rasa nasionalisme.
  5. Masyarakat Indonesia yang semakin mengenal demokrasi. Ini disebabkan oleh adanya undang-undang desentralisasi 1903, yang diantaranya mengatur tentang pembentukan kotapraja (gemeente atau haminte) dan dewan-dewan kotapraja serta memperkenalkan rakyat indonesia tentang tata cara demokrasi yang modern.
  6. Reaksi atau koreksi terhadap semangat kedaerahan. Masyrakat Indonesia mulai menyadari bahwa semangat kedaerahan tidak cukup menguntungkan untuk bagi perjuangan kemerdekaan karena membuat kekuatan masyarakatnya terpecah belah dan lemah, sehingga diperlukan kesatuan yang lebih kuat yakni dengan nasionalisme.
  7. Inspirasi dari kejayaan Sriwijaya dan Majapahit yang kuat karena kesatuannya yang besar.

FAKTOR EKSTERNAL PENYEBAB MUNCULNYA NASIONALISME DI INDONESIA

  1. Ide-ide barat yang masuk melalui pendidikan barat yang modern. Ide – ide inilah yang menggantikan pendidikan tradisional (pondok, pesantren, wihara-wihara) dan membuka wawasan lebih luas bagi masyarakat Indonesia tentang kemerdekaan dan demokrasi.
  2. Kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 yang mampu menginspirasi serta mengembalikan kepercayaan bangsa Indonesia akan kemampuan diri sendiri.
  3. Pergerakan dan perjuangan bangsa lain dalam menentang penjajahan yang turut membakar semangat nasionalisme, seperti di Turki, Irlandia dan lain-lain.

Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Sejarah perkembangan dan penyebaran Islam di Indonesia pun telah berlangsung cukup lama. Kamu tentu sudah tahu bukan, kerajaan Islam pertama di Indonesia?

Ya, Kerajaan Samudera Pasai adalah kerajaan Islam pertama yang didirikan di Indonesia. Selanjutnya, nusantara mulai dipenuhi oleh kerajaan -kerajaan Islam lain yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Kerajaan -kerajaan Islam yang berdiri di Indonesia ini tentu telah meningalkan jejak. Bentuk jejak peninggalan kerajaan Islam tersebut banyak yang berupa karya seni. Para seniman muslim di Indonesia meninggalkan begitu banyak karya yang menarik untuk dinikmati hingga sekarang.

Mulai dari karya seni yang dituangkan dalam bentuk bangunan masjid, seni pahat, seni ukir, seni lukis, seni pertunjukkan dan bahkan termasuk juga dalam karya sastra.

Kebanyakan dari peninggalan kerajaan Islam ini merupakan perpaduan antara kebudayaan Islam dan kebudayaan setempat. Karenanya, karya -karya tersebut cukup beragam dan menarik.

Ada berbagai jenis karya sastra yang merupakan peninggalan dari kerajaan -kerajaan Islam. Karya sastra peninggalan kerajaan Islam tersebut di antaranya meliputi : hikayat, syair, suluk, babad, dan kitab-kitab.

Nah, berikut ini, kita akan membahas lebih lanjut mengenai aneka karya sastra yang merupakan peninggalan dari Kerajaan Islam di Indonesia.

1. HIKAYAT

Hikayat merupakan bentuk karya sastra yang isinya berupa cerita atau dongeng yang seringkali dikaitkan dengan tokoh sejarah. Hikayat-hikayat peninggalan kerajaan Islam di Indonesia banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab, Persia, India, dan lain-lain.

Awalnya, hikayat-hikayat ini merupakan bentuk dakwah kepada masyarakat. Isinya berupa  ajakan kepada umat Islam agar dapat memperkuat keimanannya.

Hikayat bernapas Islam yang ada di Nusantara, umumnya menampilkan tokoh-tokoh pahlawan yang memperjuangkan kedaulatan suatu daerah.

Contoh hikayat peninggalam kerajaan Islam misalnya Hikayat Raja-raja Pasai, Hikayat ini diperkirakan ditulis pada abad ke-14.

Hikayat Raja -raja Pasai berkisah tentang Merah Silu yang bermimpi bertemu dengan Nabi Muhammad. Lalu, Marah Silu bersyahadat dan menjadi Sultan Pasai pertama dengan gelar Malik al-Saleh.

Hikayat Si Miskin – Dikenal dengan nama Hikayat Marakarma. Hikayat ini mengisahkan tentang Manakarma yang lahir dari keluarga miskin. Namun, karena ia memiliki budi yang baik, pada akhirnya ia sukses menjadi raja.

Hikayat Amir Hamzah – Mengisahkan tentang kepahlawanan Amir Hamzah dalam memperjuangkan Islam serta mempertahankan Melaka dari serangan Portugis. Selain itu, ia juga harus melawan mertuanya yang masih kafir. Hikayat Amir Hamzah diperkirakan ditulis sebelum tahun 1511.

Hikayat Bayan Budiman – Mengisahkan isinya berupa kisah berbingkai yang disadur dari hikayat India, Sukasaptati. Hikayat ini sebelumnya telah diadaptasi ke dalam bahasa Persia oleh Kadi Hassan pada tahun 1371. Hikayat ini berisi tentang kisah burung bayan yang mencegah seorang perempuan muda yang hendak berselingkuh.

Hikayat Prang Sabi – Hikayat ini ditulis oleh Tgk Chik Pante Kulu di tahun 1881. Hikayat ini merupakan inspirator jihad rakyat Aceh dalam melawan Belanda. Di dalamnya, dikisahkan mengenai bidadari surga (ainul mardhiyah) yang menjadi jodoh bagi para pejuang yang mati syahid.

2. SYAIR

Syair merupakan media penyebaran Islam yang menarik. Sebetulnya, syair tidak hanya populer di Nusantara, melainkan juga hampir di seluruh dunia. Syair-syair peninggalan sejarah Islam di Indonesia antara lain:

Syair Ikan Terubuk – Syair anonim ini berisi kisah fiksi yang di dalamnya termuat adab -adab dan tuntunan perilaku beragama.
Syair Kompeni Walanda – Di dalam syair ini merupakan riwayat Nabi.
Syair Perahu karya Hamzah Fansuri – Syair dari penyair yang hidup di Aceh pada masa pemerintahan Sulthan Alaiddin Riayat Syah Sayidil Mukamil (1589-1604 M) ini mengisahkan aneka pengajaran tentang adab.
Syair Perang Banjarmasin – Syair ini diperkirakan ditulis pada abad ke-16. Syair ini memang berisi beberapa pokok ajaran Islam, namun syair yang tidak diketahui pengarangnya ini dipastikan memiliki isi yang pro-Belanda. Hal ini dilihat dari teks pembukanya yang berisi pujian atas pemerintahan Belanda. Syair Peran banjarmasin ini juga mendiskreditkan Pangeran Hidayatullah. Padahal, Pangeran Hidayatullah di mata rakyat adalah sosok patriot.
Syair Siak Sri Indrapura – Isinya berupa silsilah raja-raja Siak.

3. SULUK

Suluk merupakan bentuk karya sastra yang isinya mengenai tasawuf tentang keesaan dan keberadaan Allah SWT. Suluk ini merupakan tembang gubahan Sunan Bonang yang dituliskan pada daun lontar.

Sunan Bonang banyak menggubah sastra berbentuk suluk atau tembang tamsil. Ada pun antara lain Suluk Wijil. Suluk ini pada dasarnya merupakan karya sastra yang berisi tentang ilmu tasawuf.

Ia juga menggubah tembang Tombo Ati (Obat Hati) yang kini masih sering dinyanyikan. Beberapa suluk yang lain adalah :
– Suluk Sukarsa isinya berupa ajaran tentang hakikat kepemimpinan.
– Suluk Syarab al Asyiqin karya Hamzah Fansuri isinya merupakan ajaran wahdat al-wujud, serta mengisahkan tentang tahap-tahap pencapaian makrifat.
– Suluk Malang Sumirang yang ditulis oleh Sunan Panggung dari Demak, sekitar tahun 1520. Suluk ini berisi kritikan terhadap Sultan Demak, dan juga ajaran Sunan Panggung yang dianggap sesat.

4. SASTRA DALAM BENTUK KITAB

Ada pula beberapa kitab peninggalan sejarah Islam. Karya sastra dalam bentuk kitab peninggalam kerajaan Islam antara lain:
– Kitab Manik Maya, dituliskan pada tahun 1740 oleh Raden Mas Ngabei Ronggo. Kitab ini berisi sejarah perkembangan Islam di area Pulau Jawa.
– Kitab Nitisastra, digubah di abad ke-15. Kitab ini tidak diketahui siapa penulisnya. Isi kitab ini mengenai ajaran moral dan pandangan hidup berupa kebijaksanaan.
– Kitab Nitisruti, yang juga tidak diketahi penulisnya ini berisi ajaran tentang filsafat dan moral.
-Kitab Sasana-Sunu, digubah pada 1798 oleh Raden Tumenggung Sastranegara. Kitab Sasana-Sunu ini berisi ajaran tentang tata cara hidup Islam, serta ajaran meneladani Rasulullah.
– Kitab Sastra Gending adalah karya Sultan Agung yang isinya memuat ajaran filsafat dan kebajikan.

5. BABAD

Babad merupakan bentuk cerita sejarah yang didalamnya banyak bercampur dengan mitos dan kepercayaan masyarakat yang kadang tidak masuk akal.

Karya sastra peninggalan Islam berupa babad antara lain:
– Babad Cirebon isinya berupa kisah Pangeran Cakrabuwana yang membangun kota Cirebon serta membangun perkampungan Muslim.
– Babad Demak ini isinya tentang kisah Raden Patah dalam mendirikan Kerajaan Demak.
– Babad Gianti diperkirakan ditulis pada tahun 1803. Di dalam babad Gianti, dibahas mengenai fenomena-fenomena politik yang terjadi di Pulau Jawa sekitar 1741 – 1757.
– Babad Raja-Raja Riau ini isinya berupa silsilah raja-raja Riau yang memiliki corak Islam.
– Babad Sejarah Melayu (Salawat Ussalatin).
– Babad Tanah Jawi dituliskan oleh Carik Braja pada 1788 atas perintah Sunan Paku Buwono III. Babad Tanah Jawi ini berisi silsilah raja-raja dari zaman Mataram Hindu hingga Mataram Islam.

Periodisasi sastra adalah pembagian perkembangan kesusastraan yang pengelompokkannya berdasarkan pada periode waktu tertentu, dimana dalam periode tersebut sastra memiliki ciri khas yang serupa.

Periode sastra membahas mengenai perkembangan sastra dari masa ke masa. Di Indonesia, periodisasi sastra secara umum dibagi menjadi:
1. Kesusastraan Lama, yang terdiri dari:
– masa kesusastraan purba
– masa kesusastraan pengaruh Hindu
– masa kesusastraan pengaruh Arab

2. Kesusastraan peralihan atau masa Abdullah

3. Kesusastraan baru, yang terbagi atas :
– masa Balai Pustaka
– masa Pujangga Baru
– masa Angkatan ‘45
– masa Angkatan ‘66
Berikut akan diuraikan mengenai Kesusastraan Lama dan Masa Peralihan

MASA KESUSTRAAN LAMA

a.Masa Kesusastraan Purba
Kesusastraan purba merupakan kesusastraan melayu sebelum masuknya pengaruh Hindu dan Arab. Pada masa ini kesusastraan masih bersifat lisan atau leluri, karena masih banyak yang tidak mengenal tulisan atau aksara.

Karangan, baik berupa puisi atau pun prosa disampaikan mulut ke mulut oleh seorang yang disebut tukang cerita atau pelipur lara. Di daerah Jawa Barat, tukang cerita atau pelipur lara juga dikenal dengan sebutan Pawang.

Kesusastraan purba dalam bentuk prosa contohnya dongeng, sedangkan dalam bentuk puisi contohnya mantra dan pantun.

b.Masa Pengaruh Hindu
Masuknya agama Hindu ke Indonesia ikut mempengaruhi perkembangan sasatra melayu purba dan kesusastraan daerah. Agama Hindu memunculkan dongeng-dongeng yang berhubungan dengan dewa-dewa dan kepercayaan lain seperti cerita Mahabharata dan Ramayana, dan dalam puisi muncul bentuk gurindam.

Sejak masa kesusastraan yang dipengaruhi hindu ini mulai dikenal kesusastraan tertulis yang dibuktikan dari banyaknya ditemukan prasasti-prasasti dalam tulisan India (tulisan Pallawa), meskipun penyampaian sastra melalui lisan juga masih banyak.

c.Masa Pengaruh Islam
Masuknya ajaran Islam ke Indonesia turut menambah khasanah kesusastraan Melayu dan daerah. Ajaran islam mempengaruhi munculnya sastra dalam bentuk prosa dan puisi yang khas kesusastraan Arab dan Persia.

Contohnya dalam bentuk puisi adalah syair, rubai, nazam, dan gazal, sedangkan contoh dalam bentuk prosa dikenal hikayat seperti Hikayat 1001 malam dan dongeng Abu Nawas.

Ciri-ciri kesusastraan lama secara umum, yakni:

1. Karya sastra disampaikan secara lisan (leluri)
2. Tidak diketahui siapa pengarangnya
3. Isi karangan istana sentris atau selalu menceritakan kehidupan raja, istana dan putra-putri raja
4. Isi cerita bersifat khayalan fantastis yang tidak masuk akal
5. Isi cerita mengandung pengaruh agama dan kepercayaan Hindu dan Arab.

KESUSASTRAAN MASA PERALIHAN (ABDULLAH BIN ABDUL KADIR MUNSYI)

Kesusastraan masa peralihan juga disebut dengan masa Abdullah bin Abdul Kadir Munsyi. Abdullah adalah seorang tokoh sastra yang mempengaruhi perubahan dalam karya sastra melayu lama yang awalnya bersifat khayal, fantastis dan istana sentris menjadi karya sastra yang lebih bersifat objektif dan membahas masalah kehidupan sehari-hari. Misalnya seperti kisah yang menceritakan perjalanan hidupnya dalam karya Hikayat Abdullah.

Jasa-jasa Abdullah dalam perkembangan kesusastraan yakni:

1. Membawa perubahan baru bagi kesusastraan Melayu dengan mengenalkan karya yang bersifat biografi.
2. Menerjemahkan kitab suci Al-Qur’an ke dalam bahasa Melayu.
3. Ikut serta dalam menyusun buku sejarah Melayu.

1. Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketaqwaannya terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  • Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing.
  • Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain

2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab

  • Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
  • Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturrunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan sebagainya.
  • Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
  • Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
  • Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
  • Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
  • Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
  • Berani membela kebenaran dan keadilan.
  • Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia.
  • Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama dengan bangsa lain.

3. Persatuan Indonesia

  • Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan.
  • Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
  • Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia.
  • Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.
  • Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika.
  • Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan

  • Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan kewajiban yang sama.
  • Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
  • Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
  • Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
  • Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebagai hasil musyawarah.
  • Dengan i’tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
  • Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
  • Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
  • Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
  • Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk melaksanakan pemusyawaratan.

5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  • Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
  • Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
  • Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
  • Menghormati hak orang lain.
  • Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
  • Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat pemerasan terhadap orang lain.
  • Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat pemborosan dan gaya hidup mewah.
  • Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
  • Suka bekerja keras.
  • Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
  • Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

Dari pembahasan diatas tentang butir-butir pancasila, bahwa menanamkan nilai pancasila itu sangat penting supaya kita terus berpedoman dalam menjalankan tugas kita sebagai pelajar yang akan menjadi generasi penerus bangsa Indonesia. Setelah kita tahu tentang butir-butir pancasila, kita harus lebih menjunjung tinggi nilai yang terkandung dalam setiap butir pancasila.