Perjalanan Hidup dan Biografi Taufiq IsmailTaufiq Ismail gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935; umur 78 tahun), ialah seorang penyair dan sastrawan Indonesia. Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat.[1] Ayahnya adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Kegiatan: Semasa kuliah aktif sebagai Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962).

Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan ’66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.

Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia (Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)

Penghargaan: Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Bibliografi: Ismael, Taufiq (1995). Prahara Budaya:kilas-balik ofensif Lekra/PKI dkk.:kumpulan dokumen pergolakan sejarah (dalam bahasa Bahasa Indonesia). Bandung: Mizan dan H.U. Republika. hlm. 469. ISBN 979-433-064-7.
Taufiq Ismail. Vernite Mne Indoneziyu (Kembalikan Indonesia Padaku). Puisi Pilihan. Diselenggarakan dan diterjemahkan oleh Victor Pogadaev. Moskow: Klyuch-C, 2010, ISBN 978-5-93136-119-2

Catatan kaki: Harian Singgalang, Ketika Sastrawan Jadi Datuk, 30 Maret 2009
Sumber: Ismail,Taufiq. 2004. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta: Yayasan Indonesia.


Kita tentu mengenal nama Andrea Hirata, penulis Indonesia yang terkenal dengan karyanya Laskar Pelangi. tapi, apakah kita mengenal nama Erick Setiawan?

Erick Setiawan adalah novelis asal Indonesia yang sejak tahun 1991 pindah ke Amerika dan menetap disana. ia terkenal karena novelnya yang fenomenal, Of Bees And Mist, yang terbit tahun 2009. Berbeda dengan Andrea Hirata yang sukses lebih dulu di negara sendiri, Erick Setiawan pertama meraih kesuksesannya di Amerika.

Penulis kelahiran Jakarta tahun 1975 yang pernah menuntut ilmu di Stanford University, Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra, sehingga ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menerbitkan karyanya.

Penolakan tersebut untungnya tidak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya dalam waktu 4 tahun. berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon & Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.

Novel ini ditulis dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa yaitu Spanyol, Belanda, Cina dan tentu saja, Indonesia. novel yang dipuji oleh Washington Post ‘Drama rumah tangga yang mengagumkan’ ini telah beredar di empat benua, Amerika, Asia, Eropa dan Australia. Novel ini juga bisa dibeli secara online melalui toko buku terkenal,Barnes and Noble, dan situs jual beli internasional lain seperti Powell’s, Indiebound serta Amazon.

Indonesia bisa dikatakan sebagai gudangnya sastrawan hebat. Karya-karya anak negeri tak kalah keren kok dengan tulisan dari penulis-penulis negera lain. Pun, karya mereka juga sudah go international karena dianggap sangat menarik untuk dipelajari. Maka dari itu, tak jarang hasil karya dari para penulis berbakat Indonesia diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing.

Karena ada begitu banyak penulis berbakat yang dimiliki bangsa ini, sudah sepatutnya kita berbangga hati. Nah, mau tahu siapa saja mereka? Berikut adalah lima penulis berbakat Indonesia yang karyanya sudah go international dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

1. Goenawan Mohamad

Siapa yang tak pernah mendengar nama besarnya. Dia adalah salah satu sastrawan terkemuka di Indonesia yang karyanya bahkan sudah dibaca hingga ke luar negeri. Lahir di Batang pada 29 Juli 1941, Goenawan semasa muda lebih dikenal sebagai penyair. Bersama beberapa kawannya, dia kemudian mendirikan majalah berita Tempo pada tahun 1971. Sayangnya, tahun 1994 penerbitan Tempo dihentikan karena dianggap terlalu keras mengkritik rezim Orde Baru.

Setelah Soeharto jatuh pada 1998, barulah Tempo dibuka kembali. Untuk memperluas cakupan dari kantor berita ini, Tempo kemudian mengeluarkan surat kabar harian yang disebut Koran Tempo. Setelah menjabat selama dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan akhirnya berhenti sebagai wartawan. Meski begitu, dia tetap setia untuk berkarya di dunia seni dan sastra.

Soal karya tak perlu ditanya, karena tulisan-tulisan Goenawan sudah menembus hingga ke tingkat internasional. Seperti misalnya, kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971) telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Perancis. Bukunya yang berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007) juga sempat dibuat edisi bahasa Inggrisnya dengan judul On God and Other Unfinished Things. Buku tersebut diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.

2. Andrea Hirata

Karya-karya Andrea Hirata yang begitu cemerlang di dunia sastra berhasil membuat para pembaca kagum padanya. Selain jago merangkai kata, pria kelahiran Belitung, 24 Oktober 1967, ini juga dikenal sebagai seorang akademisi. Andrea sempat mengenyam pendidikan di luar negeri, ketika dirinya mendapat beasiswa program master di Universitas Sheffield Hallam, Britania Raya.

Kala itu, tesis Andrea yang ditulis untuk bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan dia bahkan berhasil lulus cum laude. Sekarang, tesis tersebut telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan menjadi buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.

Selain itu, novel-novel yang dikarangnya juga mendapat apresiasi yang sangat positif dari pembaca di luar negeri. Terbukti, tetralogi Laskar Pelangi sudah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa, termasuk Jepang dan Italia. Dan karyanya itu juga telah menjadi Best Seller Internasional.

3. Buya Hamka

Pria yang masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia ini memang dikenal dengan karya romannya yang menyentuh hati. Tentunya, kamu masih ingat dengan film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang langsung bikin publik terpikat dengan karakter Zainuddin dan Hayati. Selain novel tersebut, Di Bawah Lindungan Ka’bah juga sudah diangkat ke layar lebar beberapa waktu lalu.

Karya roman dari Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama penanya, Hamka, juga telah diterjemahkan ke bahasa asing, termasuk Arab. Tak hanya aktif di dunia sastra, Hamka juga dikenal sebagai tokoh terkemuka Muhammadiyah. Dia sempat menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama.

Di bidang akademik, Hamka juga sering diminta untuk mengisi seminar dan ceramah. Untuk segala kontribusinya, Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia pernah mengganjarnya dengan gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta, telah mengukuhkan Hamka sebagai guru besar.

4. Pramoedya Ananta Toer

Berbakat dan berani. Dua kata itu bisa menggambarkan sosok Pramoedya Ananta Toer yang begitu cemerlang dengan karya-karya sastranya. Lahir di Blora, Jawa Tengah, dia dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Selama masa hidupnya, Pramoedya diketahui telah menghasilkan lebih dari 50 karya. Dan semuanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Sastrawan yang meninggal pada 30 April 2006 ini sebetulnya memiliki nama Pramoedya Ananta Mastoer. Namun kata Mas kemudian dihilangkan dari Mastoer, karena dianggapnya terkesan aristokratik. Selama berkecimpung di dunia sastra, Pramoedya pernah dibui selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Bahkan, rezim Orde Baru pernah menahannya selama 14 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sama sekali.

Untuk segala kontribusinya di dunia sastra, Pramoedya telah diganjar dengan berbagai penghargaan, seperti Ramon Magsaysay Award, Wertheim Award, UNESCO Madanjeet Singh Prize, Doctor of Humane Letters, dan masih banyak lagi.

5. Chairil Anwar

Karyanya yang berjudul “Aku” masih diperdengarkan hingga sekarang. Ya, siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar. Lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 26 Juli 1922, Chairil kerap dijuluki “Si Binatang Jalang”. Puisi-puisi yang ditulisnya memang sangat mengena di hati. Hal ini karena Chairil sangat cerdas dalam memilih kata yang sangat pas dan apik.

Kecintaannya pada karya sastra, terutama puisi, dimulai ketika dia dan ibunya pindah ke Jakarta pada 1940. Dia pertama kali mempublikasikan puisinya pada tahun 1942. Sejak itu, Chairil pun semakin aktif menulis dan memasukkan beragam tema dalam puisinya. Sayangnya, kondisi fisik Chairil tak seprima karya-karya puisinya.

Dia bahkan akhirnya meninggal di usia yang masih muda, yakni 27 tahun. Menurut pengakuan beberapa kerabatnya, Chairil memang sudah sejak lama menderita sakit, dan diperkirakan dirinya meninggal akibat TBC. Meski begitu, karya dari pujangga ini tetap dikenang sampai sekarang. Bahkan, karya-karya Chairil sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, bahasa Rusia dan Spanyol.

Belakangan ini, novel menjadi salah satu karya sastra yang menarik banyak perhatian dari masyarakat, khususnya anak muda. Nah, buat kamu-kamu yang suka baca novel pasti sudah nggak asing dengan nama-nama ini. Mereka adalah beberapa dari sekian banyak penulis hebat Indonesia yang terkenal nggak cuma karena cerita dalam novelnya yang emang keren tapi juga karena kutipan atau quotes di dalamnya yang nggak kalah kece.

1. Dewi Lestari

Dewi Lestari atau akrab disapa ‘Dee’ ini merupakan salah satu penulis yang novelnya paling banyak disukai. Novelnya yang berjudul ‘Perahu Kertas’ pun bahkan dituangkan ke dalam sebuah film yang diberi judul sama. Selain itu, Dee yang juga seorang penyanyi, menciptakan sebuah lagu berjudul ‘Malaikat juga Tahu’ yang juga merupakan salah satu judul cerita dalam bukunya, Rectoverso. Dengan lirik dan isi lagu yang menyentuh, nggak heran kalau lagu ini jadi hits yang populer saat itu. Kutipan kalimat yang kece-kece dari dalam novelnya pun banyak bertebaran di situs-situs jejaring internet dan menjadi favorit.

“Aku memandangimu tanpa perlu menatap.
Aku mendengarmu tanpa perlu alat.
Aku menemuimu tanpa perlu hadir.
Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa,
karena kini kumiliki segalanya.”
-Rectoverso-

2. Tere Liye

Jujur saja, pertama kali mendengar namanya kamu bakal ngira kalau Tere Liye ini adalah seorang cewek, kan? Hahaha. Tapi faktanya guys, dia ini seorang laki-laki dengan nama asli Darwis. FYI, kata Tere Liye ini dalam bahasa India artinya ‘untukmu’. Sudah banyak novel yang dia tulis, sebut saja ‘Hafalan shalat Delisa’ dan ‘Moga Bunda Disayang Allah’ yang diangkat ke layar lebar. Kepiawannya merangkai kata-kata membuat Quotesnya, baik yang ada di dalam novelnya maupun yang ia posting di fanspagenya, sangat terkenal dan disukai khusunya oleh anak muda.

“Lepaskanlah.
Maka esok lusa, jika dia adalah cinta sejatimu, dia pasti akan kembali dengan cara mengagumkan.
Ada saja takdir hebat yang tercipta untuk kita.
Jika dia tidak kembali, maka sederhana jadinya, itu bukan cinta sejatimu.”
-Rindu-

3. Asma Nadia

Asma Nadia adalah seorang penulis novel dan cerpen Indonesia yang prestasinya nggak bisa dibilang biasa aja. Melalui karyanya, penghargaan tingkat nasional hingga Asia Tenggara sudah pernah diraihnya. Selain itu, beberapa novel miliknya juga dibuat menjadi film layar lebar dan sinetron yang tayang di statsiun televisi swasta Indonesia. Banyak quotes dalam novelnya yang disukai dan menyentuh hati pembacanya.

“Namun, rasa sakit akan menguatkan seseorang menapaki hidup.
Penderitaan akan menumbuhkan kebijaksanaan.
Kesengsaraan yang melewati batas akan melahirkan kekuatan yang tak bisa diduga.”
-Assalamualaikum, Beijing!-

4. Raditya Dika

Komika yang punya nama asli Dika Angkasaputra Moerwani ini, memang terkenal juga sebagai seorang penulis dan pembuat film. Buku-buku yang dia tulis bergenre komedi yang diselipkan nuansa percintaan ala anak muda. Radit yang sampe sekarang belum nikah ini memang seorang penulis yang membawa angin segar dengan cerita-ceritanya yang anti mainstream, makanya nggak sedikit dari bukunya yang difilmkan dan berhasil mengikat banyak hati para penggemar film Indonesia. Meskipun film-filmnya bergenre komedi, tapi Radit pinter juga lho bikin kata-kata keren yang akhirnya jadi quotes di setiap filmnya.

“Di dalam  bentuk tubuh yang biasa-biasa ini, gue lagi remuk redam hancur minah, compang camping, kuda bunting.
Tapi bagi orang lain yang ngeliat, gue terlihat biasa.
Karena apapun masalah kita, serumit dan sekompleks apapun, orang lain akan tetep jalan dengan hidupnya, seolah tidak memperdulikan, Life must goes on.”
-Cinta Brontosaurus-

5. Salim A. Fillah

Beda dengan penulis sebelumnya, Salim Akhukum Fillah atau populer dengan nama Salim A. Fillah adalah seorang pendakwah sekaligus penulis buku islami. Karirnya sebagai seorang penulis mulai dikenal ketika menerbitkan buku ‘Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan’ pada tahun 2003. By the way, selain menulis buku, Salim A. Fillah juga pernah menulis surat terbuka lho. Surat terbuka itu masing-masing beliau tujukan kepada Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Di dalam buku-bukunya, Salim A. Fillah banyak menarik perhatian pembaca melalui rangkaian kata-katanya.

“Jika kita menghijrahkan cinta dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraf sejarah.
Jika kita menghijrahkan cinta dari “jatuh cinta” menjadi “bangun cinta” maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga.”
-Jalan Cinta Para Pejuang-

6. Habiburrahman El Shirazy

Kalo kamu suka nonton Ayat-ayat Cinta, Di Bawah Lindungan Kakbah, atau Dalam Mihrab Cinta, itu artinya kamu pasti akrab dengan nama ini. Yaps, Habiburrahman El Shirazy atau biasa dipanggil Kang Abik adalah seorang novelis terkenal, bukan cuma di Indonesia tapi beliau juga terkenal di luar negeri seperti Malaysia, Singapura, hingga Australia. Kisah cinta yang dibalut nilai-nilai religi di dalamnya memberi nilai ketertarikan sendiri bagi novelnya. Ini dia salah satu kutipan dari novelnya.

“Cinta adalah sesuatu yang menakjubkan.
Kamu tidak perlu mengambilnya dari seseorang untuk memberikannya kepada orang lain.
Kamu selalu memilikinya lebih dari cukup untuk diberikan kepada orang lain.”
-Dalam Mihrab Cinta-

7. Andrea Hirata

Andrea Hirata ialah seorang penulis paling populer dari Indonesia. Karyanya yaitu novel ‘Laskar Pelangi’ bahkan sudah diakui sampai ke luar negeri dan diterjemahkan kedalam beberapa bahasa asing. Quotesnya yang ditulis dalam novel-novelnya juga nggak kalah kerennya.

“Kebosanan itu kejam, tetapi kesepian lebih biadab dari pada kebosanan.
Kesepian adalah salah satu penderitaan manusia yang paling pedih.”
-Ayah-

Nah, itu tadi beberapa penulis Indonesia yang terkenal dengan quotesnya yang emang keren abis. Sebenarnya di samping yang di atas masih banyak banget penulis-penulis Indonesia lainnya yang juga punya karya dengan kutipan-kutipan keren milik mereka. Kira-kira siapa yang jadi idolamu?

Ada banyak hal yang punya andil untuk mempengaruhi hidup kita, seperti buku, musik, hobi dan lain-lain. Begitu juga dengan quotes yang dicetuskan sastrawan Indonesia. Hanya dengan selarik-dua larik kalimat, kehidupan kita dapat terpengaruh. Memang magis.

Kita lantas dibuat sadar tentang banyak hal. Tentang kehidupan sosial, cinta yang tak picisan, penantian yang sia-sia, dan hal-hal lain yang dekat dengan keseharian. Padahal hanya dengan selarik kalimat. Tak percaya? Yuk simak quotes sastrawan Indonesia yang bakal mengubah hidupmu.

1. “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” – Seno Gumira Ajidarma

2. “Seorang pencerita adalah juga seorang penghapus.” ― Intan Paramaditha

3. “Aku kira, setiap penulis yang jujur, akhir-kelaknya akan kecewa dan dikecewakan.” ― Pramoedya Ananta Toer

4. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”― Pramoedya Ananta Toer

5. “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”― Pramoedya Ananta Toer

6. “Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial.” ― Goenawan Mohamad

7. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca: sebuah kebahagiaan.”― Goenawan Mohamad

8. “Kau harus tahu lupa adalah lahan subur kenangan-kenangan. Biarkan ia mengalir seumpama sungai. Saatnya akan tiba, kau akan betul-betul lupa.” ― M. Aan Mansyur

9. “Mantan kekasih persis seperti utang, kita tidak pernah betul-betul melupakannya. Kita hanya selalu pura-pura melupakannya.”― M. Aan Mansyur

10. “Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu” ― Sapardi Djoko Damono

11. “Barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.” ― Sapardi Djoko Damono

12. “Lalu, apabila kematian adalah keperkasaan kodrati maka kehadirannya, bahkan baru gejalanya, sudah mampu membungkam segala gejolak rasa.”― Ahmad Tohari

13. “Kekalahan di bidang politik adalah kesalahan hidup secara habis-habisan dan akibatnya bahkan tertanggung juga oleh sanak-famili.”― Ahmad Tohari

14. “Kalau yang memuji itu teman baik, itu biasa. Kalau yang mencela itu musuh, juga biasa. Tapi kalau yang memuji itu musuh, dan yang mencela itu kawan, itu menyebabkan saya berpikir-pikir.” ― A.A. Navis

15. “Hal lain yang menghalangi produktivitas ialah pujian kritisi. Pujian itu bagai menantang saya, agar saya menulis yang nilainya sama dengan apa yang terbaik telah saya tulis selama ini.” ― A.A. Navis

16. “Semakin banyak yang kuketahui tentang dirinya, semakin ia tak menarik lagi. Hubungan kita bisa panjang, karena aku tak tahu seluruhnya tentang dirimu.”― Linda Christanty

17. “Kalau hendak membuat api, dengan dua potong kayu, janganlah diperpukulkan, karena maksudmu tidak akan kesampaian. Jangan potong-potong, tapi pergosok-gosokkan dengan perlahan-lahan… Jangan dengan angkara murka, hendaklah dengan sabar juga. Sabar, bukan tanda kalah, melainkan tanda seimbang, tanda sama tengah yang sejati, pangkal mula kehidupan yang benar.” ― Armijn Pane

18. “Keris dan tombak itu budaya agraris, sedangkan pistol itu budaya industrial. Dengan keris dan tombak orang mesti kenal dengan terbunuh, sedangkan dengan pistol orang dapat membunuh dari kejauhan.” ― Kuntowijoyo

19. “Kita bisa memesan bir, namun tidak bisa memesan takdir.” ― Djenar Maesa Ayu

20. “Adakah keindahan perlu dinamai?” ― Ayu Utami

  • 1
  • 2