pramoedya-ananta-toer

6 Penulis Indonesia yang sudah Sampai Mendunia

Ditengah kritikan tajam menyoal budaya membaca di indonesia dan produktifitas karya tulis menulisnya, berikut ini penulis kepunyaan Indonesia yang sudah sampai mendunia :

Berikut ini Penulis penulis indonesia yang sudah sampai mendunia :

1. Pramoedya Ananta Toer
Siapa yang tak kenal dengan Pram, penulis yang tetap produktif meski dalam penjara. Karyanya yang luar biasa salah satunya adalah Tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh dirinya ditengah keterasingan ketika menjadi tahanan politik di Pulau Buru selama 10 tahun. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 buku dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Prestasinya sebagai sastrawan kebanggaan Indonesia membuatnya diganjar dengan berbagai penghargaan internasional seperti Fredom to Write Award dari PEN American Center, penghargaan dari The Fund for Free Expression, Wertheim Award, Ramon Magsaysay Award, UNESCO Madanjeet Singh Prize dan masih banyak lagi.

2. Suwarsih Djojopuspito
Nama ini mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Suwarsih Djojopuspito lahir pada 21 April 1912 merupakan salah satu penulis Indonesia yang hidup dan merasakan masa penjajahan di Indonesia. Semasa hidupnya setidaknya Suwarsih menghasilkan 9 buku yang bukan hanya terbit di Indonesia tetapi juga diakui di negeri Belanda. Karyanya yang terkenal berjudul Manusia Bebas atau Buiten het Gareel dalam bahasa Belanda.

3. Taufik Ismail
Taufik Ismail merupakan salah satu sastrawan kebanggan kita, lahir pada 25 Juni 1935 karya-karyanya diterjemahkan kedalam banyak bahasa salah satunya Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan China. Taufik Ismail dulunya berkuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI (sekarang IPB), akan tetapi kesukaannya terhadap sastra menjadikannya salah satu tokoh penting yang juga turut mendirikan DKJ. Taufik Ismail pernah mendapatkan penghargaan Cultural Visit Award dari Australia, South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand dan masih banyak lagi.

4. Ahmad Thohari
Bagi kamu yang pernah menonton Sang Penari  pasti tahu bahwa film tersebut diangkat dari karya sastra Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Thohari. Sastrawa yang lahir pada 13 Juni 1948 ini pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karyanta telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Selain karyanya yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, Ahmad Thohari pun mendapat penghargaan Sastra ASEAN, SEA Writer Award di tahun 1995.

5. NH Dini
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang akrab kita sebut NH Dini lahir pada 29 Februari 1936 adalah seorang sastrawan, novelis dan feminis Indonesia. Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra ini telah melahirkan lebih dari 20 buku yang banyak bercerita tentang wanita. Karya-karyanya antara lain Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Pertemuan Dua Hati (1986) dan masih banyak lagi yang diambilnya dari realita dan kepekaan terhadap lingkungan. Anaknya, seperti kita tahu Pierre Coffin adalah Sutradara film Despicable Me.

6. Mochtar Lubis
Mochtar Lubis lahir di Padang pada 7 Maret 1922. Karya-karyanya antara lain Perempuan(1956), Kuli Kontrak(1982), Harimau! Harimau! (1975) dan banyak lagi baik cerpen, essai ataupun novel. Mochtar Lubis pernah mendapat penghargaan Magsaysay Award dari Pemerintah Filipina dan Pena Emas dari World Federation of Editor & Publisher.

demikianlah Penulis indonesia yang sudah sampai mendunia.  Namun masih banyak juga sastrawan lainnya yang dimiliki oleh indonesia yang sudah merabah internasional seperti andrea Hirata, Dewi Lestari dan masih banyak lagi. Terus mari kita tingkatkan terus kegemaran dalam membaca maupun menulis. Semoga indonesia bisa menjadi dikenal dunia yang luas dalam karyanya. Terima kasih

Sastra dalam islam3

Sumbangsih Sastrawan Muslim dalam Bidang Sastra

Puncak kejayaan Islam di abad ke-10 menjadi saksi kehebatan seorang sastrawan ternama. Ia bernama al-Hariri. Dia disegani sebagai kontributor besar yang melahirkan sebuah karya luar biasa dalam khazanah sastra dan bahasa Arab klasik yang hingga kini masih terus diperbincangkan, yakni Maqamat.

Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad al-Qasim ibnu Ali al-Hariri (1054-1122). Selain di bidang sastra, karier cemerlangnya turut merambah pada kajian filologi. Dia pun merupakan petinggi pemerintahan. Bahkan, ia berkiprah di dua kota pusat ilmu pengetahuan, yaitu Basra dan Baghdad.

Kondisi tersebut membuat kegiatan intelektualnya kian terpacu. Berbagai karya yang dihasilkan pada ranah sastra dan filologi membuktikan kapasitasnya sebagai figur cendekiawan yang produktif. Sejarawan Julie Scott Meisami dan Paul Starkey dalam Encyclopedia of Arabic Literature menuliskan catatan tentang al-Hariri.

Menurut Meisami dan Starkey, ada sebuah karya al-Hariri yang memberi pengaruh besar pada bidang sastra dan tata bahasa Arab. Judulnya, Dhurat al-Ghawwas fi Awham al- Khawwas. Melalui karyanya ini, al-Hariri menyinggung banyaknya kesalahan penggunaan frasa serta tata bahasa Arab.

Karya lainnya, Mulhat al I’rab, berisi kumpulan puisi. Oleh kalangan sastrawan dan ilmuwan humaniora pada masanya maupun sesudahnya, karya ini dianggap sangat penting dalam membangkitkan semangat mendalami kajian bidang sastra. Namun, tak bisa dimungkiri, al-Maqamat-lah yang melambungkan nama al-Hariri dalam ranah ilmu.

Pengertian-Fungsi-Tujuan-Wawasan-Nusantara

Pengertian, Fungsi, Tujuan Wawasan Nusantara

Topik kita kali ini yaitu pengertian, fungsi, dan wawasan nusantara dimana tidak hanya disitu saja kami juga akan melengkapi dengan menyajikan juga latar belakang, implementasi dan kedudukannya serta masih banyak lagi. Pertama-tama pembahasan kita mengenai Pengertian Wawasan Nusantara. Secara umum, Pengertian Wawasan Nusantara adalah cara pandang dan sikap bangsa indonesia mengenai diri dan bentuk geografisnya menurut Pancasila dan UUD 1945 dalam mengutamakan kesatuan wilayah dan menghargai kebhinekaan untuk mencapai tujuan nasional.

Pengertian Wawasan Nusantara Secara Etimologis Secara Etimologis, Pengertian Wawasan Nusantara adalah cara pandang terhadap kesatuan kepulauan yang terletak antara dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu samura hindia dan samudra pasifik. Istilah wawasan nusantara berasal dari kata Wawas (Bahasa Jawa)  yang artinya “pandangan, tinjauan atau penglihatan indrawi”, dan kemudian ditambahkan akhiran an , sehingga arti wawasan adalah cara pandang, cara tinjau, cara melihat. Sedangkan kata Nusantara terdiri dari dua kata yaitu nusa yang berarti “pulau atau kesatuan kepulauan” dan antara yang berarti “letak antara dua unsur yaitu dua benua dan dua samudra”. Sehingga arti dari kata nusantara adalah kesatuan kepulauan yang terletak dari dua benua yaitu asia dan australia dan dua samudra yaitu samudra hindia dan pasifik.

1. Pengertian Wawasan Nusantara Menurut Definisi Para Ahli – Setelah arti umum dan etimologis wawasan nusantara, jika ditinjau dari pengertian wawasan nusantara menurut para ahli antara lain sebagai berikut…

– Prof. Dr. Wan Usman, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi prof. Dr. Wan Usman adalah cara pandang bangsa Indonesia mengenai diri dan tanah airnya sebagai negara kepulauan dengan semua aspek kehidupan yang beragam.
– Kel. Kerja LEMHANAS, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Kel. Kerja LEMHANAS (Lembaga Pertahanan Nasional) 1999 adalah cara pandang dan sikap bangsa indonesia mengenai diri dan lingkungan yang beragam dan bernilai startegis dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.
– Tap MPR Tahun 1993 dan 1998 Tentang GBHN, Pengertian wawasan nusantara menurut definisi Tap MPR tahun 1993 dan 1998 tentang GBHN adalah cara pandang dan sikap bangsa Indonesia mengenai diri dan lingkungan dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa serta kesatuan wilayah dalam menyelenggarakan kehidupan masyarakat, berbangsa, dan bernegara untuk mencapai tujuan nasional.

2. Fungsi Wawasan Nusantara – Terdapat berbagai fungsi wawasan nusantara yang baik secara umum, menurut pendapat para ahli dan pembagiannya antara lain sebagai berikut..

a. Fungsi Wawasan Nusantara Secara umum – Wawasan nusantara berfungsi sebagai pedoman, motivasi, dorongan serta rambu-rambu dalam menentukan segala kebijaksanaan, keputusan, tindakan, dan perbuatan bagi penyelenggaraan Negara di pusat dan daerah maupun bagi seluruh rakyat Indonesia dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara.
b. Fungsi Wawasan Nusantara Menurut Cristine S.T. Kansil, S.H., MH dkk yang mengutarakan pendapatnya dalam bukunya pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi antara lain sebagai berikut..
– Membentuk dan membina persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Indonesia
– Merupakan ajaran dasar nasional yang melandasi kebijakan dan strategi pembagunan nasional

c. Fungsi Wawasan Nusantara dibedakan dalam beberapa pandangan antara lain sebagai berikut..

– Fungsi wawasan nusantara sebagai konsepsi ketahanan nasional adalah sebagai konsep dalam pembangunan, pertahanan keamanan dan kewilahayan
– Fungsi wawasan nusantara sebagai pembangunan nasional adalah mencakup kesatuan politik, sosial dan ekonomi, sosial dan politik, dan kesatuan pertahanan dan keamanan.
– Fungsi wawasan nusantara sebagai pertahanan dan keamanan adalah pandangan geopolitik Indonesia sebagai satu kesatuan pada seluruh wilayah dan segenap kekuatan negara.
– Fungsi wawasan nusantara sebagai wawasan kewilayahan adalah pembatasan negara untuk menghindari adanya sengketa antarnegara tetangga.

3. Tujuan Wawasan Nusantara – Tujuan wawasan nusantara adalah mewujudkan nasionalisme yang tinggi dari segala aspek kehidupan rakyat indonesia yang mengutamakan kepentingan nasional dari pada kepentingan perorangan, kelompok, golongan, suku bangsa atau daerah. Kepentingan tersebut tetap dihargai agar tidak bertentangan dari kepentingan nasional.

4. Latar Belakang Wawasan Nusantara – Wawasan nusantara dilatar belakang dalam beberapa aspek antara lain sebagai berikut..

a. Falsafah Pancasila, Pancasila merupakan dasar dalam terjadinya wawasan nusantara dari nilai-nilai yang terdapat dalam Pancasila. Nilai-nilai tersebut antara lain sebagai berikut..

– Penerapan HAM (Hak Asasi Manusia). misalnya pemberian kesempatan dalam menjalankan ibadah sesuai dengan agama yang dianutnya.
– Mengutamakan pada kepentingan masyarakat dari pada kepentingan indivud dan golongan
– Pengambilan keputusan berdasarkan dalam musyawarah mufakat.

b. Aspek Kewiilayahan Nusantara, aspek kewilayahan nusantara dalam hal ini pada pengaruh geografi karena indonesia kaya akan SDA dan suku bangsa
c. Aspek Sosial Budaya, aspek sosial budaya dimana dalam hal ini dapat terjadi karena indonesia terdapat ratusan suku bangsa yang keseluruhan memiliki adat istiadat, bahasa, agama dan kepercayaan yang berbeda-beda, yang menjadikan tata kehidupan nasional memiliki hubungan interaksi antara golongan karena dapat menyebabkan konflik yang besar dari keberagaman budaya.
d. Aspek Sejarah,  Dapat mengacuh kepada aspek sejarah karena indonesia memiliki banyak pengalaman sejarah yang tidak ingin terulangnya perpecahan dalam bangsa dan negara Indonesia. Dimana kemerdekaan yang didapatkan merupakan hasil semangat persatuan dan kesatuan bangsa indonesia, sehingga harus dipertahankan untuk persatuan bangsa dan menjaga wilayah kesatuan indonesia

5. Penerapan/Implementasi Wawasan Nusantara – Dalam implementasi wawasan nusantara, perlunya memperhatikan hal-hal berikut..

a. Kehidupan Politik
– Pelaksanaan politik diatur dalam UU partai politik, pemilihan umum, pemilihan presiden dimana pelaksanaannya sesuai hukum dan mementingkan persatuan bangsa. Misalnya dalam pemilihan presiden, DPR, dan kepala daerah harus menjalankan prinsip demokratis dan keadilan, agar tidak menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa indonesia.
– Pelaksanaan kehidupa bermasyarakat dan bernegara harus sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia tanpa pengecualian.
– Mengembangkan sikap HAM dan pluralisme dalam mempersatukan dan mempertahankan berbagai suku, agama, dan bahasa, sehingga terciptanya dan menumbuhkan rasa toleransi.
– Memperkuat komitmen politik dalam partai politik dan pada lembaga pemerintahan untuk meningkatkan kebangsaan, persatuan dan kesatuan.
– Meningkatkan peran indonesia dalam dunia internasional dan memperkuat korps diplomatik dalam upaya penjagaan wilayah Indonesia khususnya pulau terluar dan pulau kosong.

b. Kehidupan Ekonomi
– Harus sesuai berorientasi pada sektor pemerintahan, perindustrian, dan pertanian
– Pembangunan ekonomi harus memperhatikan keadilan dan keseimbangan antara daerah, sehingga dari adanya otonomi daerah dapat menciptakan upaya dalam keadilan ekonomi.
– Pembangunan ekonomi harus melibatkan partisipasi rakyat, seperti dengan memberikan fasilitas kredit mikro dalam pengembangan usaha kecil.

c. Kehidupan Sosial
– Mengembangkan kehidupan bangsa yang serasi antara masyarakat yang berbeda, dari segi budaya, status sosial, maupun daerah.
– Pengembangan budaya Indonesia untuk melestarikan kekayaan Indonesia, serta dapat dijadikan kegiatan pariwisata yang memberikan sumber pendapatan nasional maupun daerah.

d. Kehidupan Pertahanan dan Keamanan

– Memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk beperan aktif karena merupakan kewajiban setiap warga negara seperti meningkatkan kemampuan disiplin, memelihara lingkungan, dan melaporkan hal-hal yang mengganggu kepada aparat dan belajar kemiliteran.
– Membangun rasa persatuan dengan membangun rasa solidaritas dan hubungan erat antara warga negara berbeda daerah dengan kekuatan keamanan agar ancaman suatu daerah atau pulau menjadi ancaman bagi daerah lain untuk membantu daerah yang diancam tersebut.
– Membangun TNI profesional dan menyediakan sarana dan prasarana bagi kegiatan pengamanan wilayah indonesia, khususnya pulau dan wilayah terluar Indonesia.

6. Kedudukan Wawasan Nusantara – Dalam paradigma nasional, kedudukan wawasan nusantara adalah sebagai berikut…
– Pancasila sebagai falsaah, ideologi bangsa dan dasar negara berkedudukan sebagai landasan idil
– UUD 1945 adalah landasan konstitusi negara yang berkedudukan sebagai landasan konstitusional.
– Sebagai visi nasional yang berkedudukan sebagai landasan visional
– Ketahanan nasional sebagai konsepsi nasional yang berkedudukan sebagai landasan konsepsional
– GBHN (garis-garis besar haluan negara) sebagai politik dan strategi nasional atau sebagai kebijakan dasar nasional yang berkedudukan sebagai landasan operasioal.

7. Landasan Wawasan Nusantara – Wawasan nusantara dilandasi dengan dua landasan antara lain sebagai berikut..
– Landasan Idil adalah pancasila
– Landasan Konstitusional adalah UUD 1945

8. Asas Wawasan Nusantara –  Asas wawasan nusantara adalah ketentuan dasar yang harus dipatuhi, ditaati, dipelihara demi mewujudkan ketaatan dan kesetiaan kepada setiap komponen atau unsur pembentuk bangsa Indonesia (golongan/suku) terhadap kesepakatan (commitmen) bersama. Macam-macam asas wawasan nusantara adalah sebagai berikut…

– Kepentingan/tujuan yang sama
– Keadilan
– Kejujuran
– Solidaritas
– Kerja sama
– Kesetiaan terhadap kesepakatan

9. Hakikat Wawasan Nusantara – Hakikat wawasan nusantara adalah hakikat yang selalu utuh dengan menyeluruh dalam lingkup nusantara untuk kepentingan nasional, tanpa menghilangkan kepentingan lainnya sepert kepentingan daerah, golongan, dan perorangan.

10. Dasar Hukum Wawasan Nusantara – Dasar hukum wawasan nusantara diterima sebagai konsepsi politik kewarganegaraan yang tercantum dalam dasar-dasar hukum antara lain sebagai berikut..
Tap MPR. No. IV/MPR/1973 pada tanggal 22 maret 1973
Tap MPR. No IV/1978/22/Maret/1978/ tentang GBHN
Tap MPR. No. II/MPR/1983/12/Maret/1983

Pengertian, Fungsi, Tujuan Wawasan Nusantara
Demikianlah informasi mengenai Pengertian, Fungsi, Tujuan Wawasan Nusantara. Semoga teman-teman dapat menerima dan bermanfaat bagi kita semua baik itu pengertian wawasan nusantara, fungsi wawasan nusantara, tujuan wawasan nusantara, pengertian wawasan nusantara secara etimologis, pengertian wawasan nusantara menurut para ahli, latar belakang wawasan nusantara, Implementasi wawasan nusantara, kedudukan wawasan nusantara, landasan wawasan nusantara, asas wawasan nusantara, hakikat wawasan nusantara dan dasar hukum wawasan nusantara, itulah berbagai materi yang kami bahas, Sekian dan terima kasih. “Salam Berbagi Teman-Teman”.
Referensi :

– Heri Herdiawanto dan Jumanta Hamdayama, 2010, Cerdas, Kritis dan Aktif Berwarganegara, Penerbit Erlangga: Jakarta.
– Abdulkarim, Aim. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan: Membangun Warga Negara yang Demokratis. Bandung: PT Grafindo Media Pratama.
– Suradinata,Ermaya. (2005). Hukum Dasar Geopolitik dan Geostrategi dalam Kerangka Keutuhan NKRI.. Jakarta: Suara Bebas. Hal 12-14.
– Sunardi, R.M. (2004). Pembinaan Ketahanan Bangsa dalam Rangka Memperkokoh Keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Jakarta:Kuaternita Adidarma. Hal 179-180.
– Alfandi, Widoyo. (2002). Reformasi Indonesia: Bahasan dari Sudut Pandang Geografi Politik dan Geopolitik. Yogyakarta:Gadjah Mada University.
– Hidayat, I. Mardiyono, Hidayat I.(1983). Geopolitik, Teori dan Strategi Politik dalam Hubungannya dengan Manusia, Ruang dan Sumber Daya Alam. Surabaya:Usaha Nasional.Hal 85-86.

keanekaragaman-hayati

Pengertian Tentang keanekaragaman Hayati

Pengertian Keanekaragaman Hayati Banyak para ahli yang memberikan pendapatnya dalam mendefinisikan pengertian keanekaragaman hayati. Namun secara umum, Pengertian Keanekaragaman hayati menurut UU. No. 5 Tahun 1994 adalah keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber termasuk di antaranya daratan, lautan, dan ekosistem akutik lain, serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies dalam ekosistem. Keanekaragaman hayati disebut juga dengan biodiversitas (biodiversity).

Menurut pendapat Soerjani (1996) yang mengatakan bahwa keanekaragaman hayati menyangkut keunikan suatu spesies dan genetik di mana makhluk hidup tersebut berada. Keanekaragaman hayati disebut unik karena spesies hidup di suatu habitat yang khusus atau makanan yang dimakannya sangat khas. Contohnya komodo (Varanus komodoensis) hanya ada di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, Gili Dasami, dan Padar; Panda (Ailuropoda melanoleuca) yang hidup di China yang hanya memakan daun bambu; dan koala (Phascolarctos cinereus) yang hidup di Australia yang hanya memakan daun Eucalyptus (kayu putih).

Macam-Macam Keanekaragaman Hayati – Berdasarkan pengertiannya,  keanekaragaman hayati dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu keanekaragaman gen (genetik), keanekaragaman spesies (jenis), dan keanekaragaman ekosistem. Berikut Macam-Macam Keanekaragaman Hayati..

1. Keanekaragaman Gen
Keanekaragaman gen adalah variasi atau perbedaan gen yang terjadi dalam satu jenis atau spesies makhluk hidup. Keanekaragaman gen menyebabkan variasi antarindividu sejenis. Seperti keanekaragaman tanaman padi dan mangga. Tanaman padi terdapat beberapa macam atau varietas seperti IR, PB, kapuas, rojolele, dan sedani. Tanaman mangga memiliki banyak varietas seperti arum manis, manalagi, gadung, dan golek. Keanekaragaman mangga dan padi disebabkan oleh variasi gen.

Perbedaan variasi gen menyebabkan sifat yang tidak tampak (genotipe) dan sifat yang tampak (fenotipe) pada setiap makhluk hidup menjadi berbeda. Variasi makhluk hidup dapat terjadi akibat perkawinan sehingga susunan gen keterunannya berbeda dari susunan gen induknya. Selain itu, variasi makhluk hidup dapat pula terjadi karena interaksi gen dengan lingkungan.

2. Keanekaragaman Spesies
Keanekaragaman spesies adalah perbedaan yang dapat ditemukan pada komunitas atau kelompok berbagai spesies yang hidup di suatu tempat. Keanekaragaman hayati antarspesies (tingkat spesies) mudah diamati karena perbedaannya mencolok. Sebagai contoh, keanekaragaman antara kurma, sagu dan kelapa. Meskipun tumbuh-tumbuhan itu merupakan satu kelompok tumbuhan palem-paleman, masing-masing memiliki fisik yang berbeda dan hidup di tempat yang berbeda. Seperti kelapa tumbuh di pantai, kurma tumbuh di daerah kering dan sagu tumbuh di pegunungan basah (rawah gambut).

Contoh lain adalah variasi antara singa, kucing, dan harimau. Ketiga hewan teramsuk dalam satu kelompok kucing.  Namun singa, kucing dan harimau terdapat perbedaan fisik, habitat dan tingkah laku.

3. Keanekaragaman Ekosistem
Keanekaragaman ekosistem adalah suatu interaksi antara komunitas dan lingkungan abiotiknya pada suatu tempat dan waktu tertentu. Semua makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya yang berupa faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik meliputi makhluk hidup seperti tumbuhan atau hewan lain. Faktor biotik seperti cahaya, tanah, iklim, suhu, air, dan kelembapan (disebut juga faktor fisik); serta salinitas, tingkat keasaman, dan kandungan mineral (disebut faktor kimia).

jangan slaah

JANGAN SALAH GUNAKAN! BERKARYA SENI BUKAN BERARTI BEBAS ANTI DISIPLIN

“Seniman adalah sebuah tanda dari kehidupan yang melepas bebas suatu kehidupan” -Chairil Anwar, penyair- Namanya juga jagongan, pasti forumnya tidak resmi atau setengah resmi. Apalagi topik jagongannya mengenai soal seni, yang kata orang adalah bagian ekspresi kebebasan. Seni -termasuk seni teater- identik dengan kebebasan. Kalau tidak salah tafsir, hal itu juga tersirat dari quote penyair Chairil Anwar, bahwa seniman adalah sebuah tanda dari kehidupan yang melepas-bebas.

Ungkapan Chairil tersebut tentu bukan sebuah isarat seorang seniman hidup semau kita, akan tetapi sebagaimana Sastrawan Syam Sdp memahami ungkapan Chairil tersebut sebagai sebuah ketidakpercayaan pada apa yang disebutnya sebagai “hukum wahyu” dalam proses kreatif, dimana inspirasi akan datang sendiri pada penyair untuk minta ditulis. Pemahaman demikian oleh Chairil disebut dangkal dan picik, tak lebih dari angin lalu saja.

Untuk menghasilan sebuah karya seni –lebih-lebih karya seni yang baik- seorang seniman harus dibekali sikap disiplin diri. Itulah mengapa, sekali lagi itulah mengapa, Dramawan Andhi Setyo Wibowo, saat berbicara dalam Jagongan Seni di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FIP Universitas Hasyim Asy’ari “sekuat tenaga” menegaskan, bahwa berkesenian membutuhkan kediplinan yang bisa jadi mengalahkan militer. Kedisiplinan tentu saja bukan hanya monopoli tentara atau militer. Akan tetapi seorang seniman butuh kedisiplinan. Karena itu, tidak kalah dengan militer, seorang seniman adalah sosok yang dituntut untuk disiplin.

Berkarya seni tetap tidak lepas dari proses produksi. Ada sebuah proses penciptaan dan produksi seni, yang di dalamnya sarat dengan time scheduling, proses dan manajemen melahirkan karya seni. Dan hal ini ditemukan dalam setiap berkesenian, apapun bidangnya.

Saya mengutip sebuah cerita penulis sandiwara, roman dan cerita pendek asal Inggris, W Somerset Maugham (1874 – 1965) yang sampai usia tuanya tetap menulis tidak kurang dari 1000 perkataan setiap pagi sebelum sarapan. Meski ia sudah menjadi penulis ternama, ia tetap menulis apapun itu. Ternyata yang dilakukan Maugham berbuah manis, dimana lebih dari 50 bukunya disukai oleh berjuta orang di seluruh dunia. Dengan aktivitas tersebut Maugham dapat menjaga, memperkaya dan lihai meracik kata (ibnumufti.web.id). Begitu juga Penulis Joanne Kathleen Rowling yang jamak kita sapa JK Rowling yang karena keterbatasan dana untuk mengcopy naskah tulisannya, maka ia menyalin naskah tersebut dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual di setiap harinya.

Sama yang disampaikan Cak Kepik (sapaan ini lebih karib untuk Dramawan Andhi Setyo Wibowo) yang mencontohkan, sebuah drama teater juga membutuhkan sebuah proses yang sarat dengan kedisiplinan. Cak Kepik yang sudah malang-melintang di panggung drama tahu betul, antara proses berteater dan disiplin bak ibarat dua sisi keping mata uang yang tidak bisa dilepaskan.

Drama adalah sebuah karya sastra yang dipanggungkan. Dalam memanggungkan sebuah karya sastra dalam sebuah drama teater harus melalui proses produksi, sehingga dibutuhkan tim keproduksian, memerlukan sebuah manajemen waktu yang baik, mulai dari urusan surat-menyurat, penggalian dana, proses dekorasi stage/panggung, penulisan naskah, penyutradaraan, hingga penentuan aktor dalam sebuah casting. Semua itu membutuhkan sebuah kedisiplinan.

Dalam forum Art Exhibition and Literature #1 di Unhasy, Budayawan Binhad Nurrohmat juga mewanti-wanti, bahwa meski seorang sastrawan dewasa ini bisa menulis karya dengan gaya bebas, akan tetapi seorang sastrawan itu lebih dari sekedar asal mengeluarkan kata. Mereka lebih banyak membaca, entah itu buku, manusia, atau alam. Belum lagi, sebelum sebuah karya lahir, diblejeti dalam sebuah forum diskusi sastra untuk mentashih atau menguji sebuah karya sastra.