Kemuculan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang disusun Tim 8 Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin menuai kontroversi.

Di dunia maya, kalangan aktivis sastra mempertanyakan metode pemilihan tokoh yang dipilih Tim 8. Bahkan tak sedikit kalangan yang mempertanyakan terpilihnya Denny JA menjadi salah satu tokoh tersebut. Karya-karya Denny JA melalui puisi esainya dinilai tidak berpengaruh sama sekali.

Namun, Tim 8 memiliki penilaian sendiri melalui perdebatan sengit pihak internal atas siapa saja yang berhak masuk dalam 33 tokoh tersebut. Jamal D. Rahman, ketua Tim 8 sebagai penyusun buku mengatakan pihaknya bukan menilai melalui karya sastrawan semata.

Dia memberi contoh, banyak karya sastrawan seperti Danarto dan Seno Gumira Ajidarma yang sangat baik dan diakui oleh publik. Tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia sangat kurang.

Adapula, katanya, karya yang dihasilkan sastrawan biasa saja, tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia menjadi perdebatan dan polemik yang cukup berkepanjangan.

Adapun, ke-33 tokoh sastra Indonesia paling berpangaruh yang menuai pro dan kontra tersebut antara lain:
1. Kwee Tek Hoay
2. Marah Roesli
3. Muhammad Yamin
4. HAMKA
5. Armijn Pane
6. Sutan Takdir Alisjahbana
7. Achdiat Karta Mihardja
8. Amir Hamzah
9. Trisno Sumardjo
10. H.B. Jassin
11. Idrus
12. Mochtar Lubis
13. Chairil Anwar
14. Pramoedya Ananta Toer
15. Iwan Simatupang
16. Ajip Rosidi
17. Taufik Ismail
18. Rendra
19. NH. Dini
20. Sapardi Djoko Damono
21. Arief Budiman
22. Arifin C. Noor
23. Sutardji Calzoum Bachri
24. Goenawan Mohammad
25. Putu wijaya
26. Remy Sylado
27. Abdul Hadi W.M.
28. Emha Ainun Nadjib
29. Afrizal Malna
30. Denny JA
31. Wowok Hesti Prabowo
32. Ayu Utami
33. Helvi Tiana Rosa


Nama Pena : WS Rendra
Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra
Lahir : Solo, 7 Nopember 1935 71
Agama : Islam
Istri : Ken Zuraida

Pendidikan:
– SMA St. Josef, Solo
– Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
– American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)

Karya-Karya Drama :
– Orang-orang di Tikungan Jalan
– SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
– Oedipus Rex
– Kasidah Barzanji
– Perang Troya tidak Akan Meletus
– dll

Sajak/Puisi :
– Jangan Takut Ibu
– Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
– Empat Kumpulan Sajak
– Rick dari Corona
– Potret Pembangunan Dalam Puisi
– Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
– Pesan Pencopet kepada Pacarnya
– Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
– Perjuangan Suku Naga
– Blues untuk Bonnie
– Pamphleten van een Dichter
– State of Emergency
– Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
– Mencari Bapak
– Rumpun Alang-alang
– Surat Cinta
– dll

Kegiatan Lain :
– Anggota Persilatan PGB Bangau Putih

Penghargaan :
– Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
– Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)
– Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Biodata :
W.S Rendra dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Beliau mendapat pendidikan di Jurusan Sastera Barat Fakultas Sastra UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai drama dan teater di American Academy of Dramatical Arts,’ Amerika Syarikat (1964-1967).

Sekembali dari Amerika, beliau mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Tahun 1971 dan 1979 dia membacakan sajak-sajaknya di Festival Penyair International di Rotterdam. Pada tahun 1985 beliau mengikuti Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman, Kumpulan puisinya; Ballada Orang – orang Tercinta, (1956), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak – Sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam puisi (1980), Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang Rangkasbitung (1993) dan Perjalanan Aminah (1997).

Chairil Anwar adalah seorang penyair yang berasal dari Indonesia. Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Ia juga dikenal sebagai “Si Bintang Jalang” dalam karya-nya, yaitu “Aku”. Ia telah menulis sebanyak 94 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia.


Biodata Chairil Anwar
Nama Lengkap : Chairil Anwar
Tanggal Lahir : 26 Juli 1922
Tempat Lahir : Medan, Indonesia
Pekerjaan : Penyair
Kebangsaan : Indonesia
Nama Orang Tua : Toeloes (ayah) dan Saleha (ibu)

Biografi Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha, ayahnya berasal dari Taeh Baruah. Ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Inderagiri, Riau. Sedangkan ibunya berasal dari Situjug, Limapuluh Kota, ia masih punya pertalian kerabat dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.

Sebagai anak tunggal yang biasanya selalu dimanjakan oleh orang tuanya, namun Chairil Anwar tidak mengalami hal tersebut. Bahkan ia dibesarkan dalam keluarga yang terbilang tidak baik. Kedua orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sewaktu kecil Nenek dari Chairil Anwar merupakan teman akrab yang cukup mengesankan dalam hidupnya. Kepedihan mendalam yang ia alami pada saat neneknya meninggal dunia.

Chairil Anwar bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai menulis puisi ketika remaja, tetapi tidak satupun puisi yang berhasil ia buat yang sesuai dengan keinginannya.

Meskipun ia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, tetapi ia tidak membuang waktunya sia-sia, ia mengisi waktunya dengan membaca karya-karya pengarang Internasional ternama, seperti : Rainer Maria Rike, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Ia juga menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.

Pada saat berusia 19 tahun, ia pindah ke Batavia (sekarang berubah nama menjadi Jakarta) bersama dengan ibunya pada tahun 1940 dimana ia mulai kenal dan serius menggeluti dunia sastra. Puisi pertama yang telah ia publikasikan, yaitu pada tahun 1942. Chairil terus menulis berbagai puisi. Puisinya memiliki berbagai macam tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme.

Selain nenek, ibu adalah wanita yang paling Chairil cinta. Ia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Dunia Sastra
Nama Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia berusia dua puluh tahun. Namun, saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di “Majalah Pandji” untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia yang tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Salah satu puisinya yang paling terkenal dan sering dideklamasikan berjudul Aku (“Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!”). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” pada tahun 1946.

Kumpulan puisinya antara lain: Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Seniman Pelopor Angkatan 45 Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).

Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta kepada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun karena masalah kesulitan ekonomi, mereka berdua akhirnya bercerai pada akhir tahun 1948.

Puisi “Aku”
Chairil Anwar pertama kali membaca “AKU” di Pusat Kebudayaan Jakarta pada bulan Juli 1943. Hal ini kemudian dicetak dalam Pemandangan dengan judul “Semangat”, sesuai dengan dokumenter sastra Indonesia, HB Jassin, ini bertujuan untuk menghindari sensor dan untuk lebih mempromosikan gerakan kebebasan. “AKU” telah pergi untuk menjadi puisi Anwar yang paling terkenal.

“Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Akhir Hayat”

Akhir Hayat
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi dengan kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949, penyebab kematiannya tidak diketahui pasti. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Menurut catatan rumah sakit tersebut, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan dirinya dia mengucap, “Tuhanku, Tuhanku…”.

Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa “Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus”.

Setiap era selalu melahirkan generasi penulis populer dengan berbagai karya yang fenomenal dan memberi nuansa yang berbeda bagi dunia sastra Indonesia. Setiap penulis memiliki ciri khas tersendiri dalam karyanya baik itu novel, cerita pendek, fiksi, naskah drama maupun lainnya. Jalan cerita yang unik dengan para tokoh yang berkarakter dan kuat merupakan salah satu faktor yang membuat karya si penulis laris manis.

Berikut ini adalah beberapa penulis di tahun 2000an dengan karya-karya populernya:

  1. Raditya Dika

    Dika Angkasaputra Moerwani atau dikenal dengan nama Raditya Dika ini lahir di Jakarta, 28 Desember 1984; umur 29 tahun, akrab dipanggil Radith, adalah seorang penulis asal Indonesia.Raditya Dika dikenal sebagai penulis buku-buku jenaka. Tulisan-tulisan itu berasal dari blog pribadinya yang kemudian dibukukan. Buku pertamanya berjudul Kambing Jantan masuk kategori best seller. Buku tersebut menampilkan kehidupan Dikung (Raditya Dika) saat kuliah di Australia. Tulisan Radith bisa digolongkan sebagai genre baru. Kala ia merilis buku pertamanya tersebut, memang belum banyak yang masuk ke dunia tulisan komedi. Apalagi bergaya diari pribadi.

    Beberapa hasil karya Raditya Dika mulai dari Novel, Penulis Skenario, sampai menjadi Sutradara yang ia hasilkan yaitu:
    Novel – Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005), Cinta Brontosaurus (2006), Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa (2007), Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang (2008), Marmut Merah Jambu (2010), Manusia Setengah Salmon (2011).
    Skenario – Maling Kutang (2009), Cinta Brontosaurus (2013), Manusia Setengah Salmon (2013), Marmut Merah Jambu (2014).
    Sutradara – Marmut Merah Jambu (2014), Malam Minggu Miko The Movie (2014).

  2. Dewi Lestari

    Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee ini lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976; umur 38 tahun. Dee adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia, di mana pertama kali dikenal masyarakat sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Ia merupakan alumnus SMA Negeri 2 Bandung dan lulusan Universitas Parahyangan, jurusan Hubungan Internasional.Berbagai karyanya menjadi best seller. Yang monumental adalah Supernova yang pertama dirilis pada 2001, Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas, dan Madre. Beberapa karya Dee yang diangkat ke layar lebar misalnya Perahu Kertas, Rectoverso, dan Madre.

    Beberapa hasil karya Dewi Lestari dan tahun pembuatannya yang ia hasilkan yaitu:
    Karya – Novel Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001), Novel Supernova: Akar (2002), Kumpulan Prosa dan Puisi “Filosofi Kopi” (2003), Novel Supernova: Petir (2004), Kumpulan Cerita Rectoverso (2008), Novel Perahu Kertas (2009), Kumpulan Cerita Madre (2011), Novel Supernova: Partikel (2012), Novel Supernova: Gelombang (2014).

  3. Andrea Hirata

    Andrea Hirata terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun ini lahir di Belitung, 24 Oktober 1976; umur 38 tahun. Andrea adalah novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia. Ia berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi.Andrea Hirata menggebrak dunia sastra di Indonesia dengan debutnya yang sangat fenomenal yaitu Laskar Pelangi. Setelah Laskar Pelangi menjadi best seller, dia kembali melahirkan karya yang tidak kalah mengagumkan yakni Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.

    Beberapa hasil karya Andrea Hirata dan tahun pembuatannya yang ia hasilkan yaitu:
    Karya – Laskar Pelangi (2005), Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), Maryamah Karpov (2008), Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010), Sebelas Patriot (2011), Laskar Pelangi Song Book (2012).

  4. Habiburrahman El Shirazy

    Habiburrahman El Shirazy lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 38 tahun adalah novelis nomor 1 Indonesia, dinobatkan oleh Insani Universitas Diponegoro. Selain novelis, sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan dan Australia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca.Habiburrahman El Shirazy di kenal sebagai novelis yang selalu mengangkat nilai-nilai religius dalam setiap karyanya. Ayat-Ayat Cinta (2004) merupakan salah satu karyanya yang sangat fenomenal yang kemudian diangkat ke layar lebar, dan mencetak rekor box office.

    Beberapa hasil karya Habiburrahman El Shirazy dan tahun pembuatannya yang ia hasilkan yaitu:
    Karya – Ayat-Ayat Cinta (2004), Pudarnya Pesona Cleopatra (2004), di Atas Sajadah Cinta (2006), Dalam Mihrab Cinta (2007), Ketika Cinta Bertasbih (2009), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009), Bumi Cinta (2010).

Penulis-penulis terkenal di atas hanyalah beberapa dari penulis yang terkenal lain nya. Sebenarnya masih banyak penulis yang tak kalah hebat dan populer dari mereka. Sungguh miris, di jaman sekarang, banyak generasi muda yang enggan mengikuti jejak mereka menjadi penulis. Mungkin mereka lebih nyaman dengan gadget dan permainan game online daripada menggoreskan tinta emas di sebuah buku.

SASTRAWAN SOSIALITA

Dalam Kondisi kesusastraan indonesia Muktahir, ujaran Roland Barthes dalam The Death Author yang berbunyi, “Penulis mati setelah karya tercipta”, seolah tidak berlaku lagi. Penulis,dalam hal ini sastrawan, ternyata menolak mati. Nmaun dengan keras kepala, ia memilih tetap hidup untuk menyiarkan karyanya yang telah tercipta, sekalian berusaha membuat dirinya terus menerus muncul di depan umum, bahkan melebihi kemunculan pembahasan tentang karya itu. Inilah masa ketika lampu sorot lebih tertuju kepada sastrawan dari pada karyanya.

Jika semula ajang sosialita hanya menjadi rutinitas pergaulan perempuan elit perkotaan untuk berbagi cerita sambil memamerkan barang terbaru masing-masing dan mengudap makanan ala kafe atau restoran mahal, kini sebagian sastrawan pun melakukannya.

Dalam era budaya populer, sastrawan bukan lagi makhluk penyendiri yang gemar bersunyi-sunyi dalam ruang sempit serupa Manusia Kamar dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma, melainkan sudah menjadi bagian dari apa yang oleh Jean Baudrillard dalam The Consumer Society: Myth and Structures diistilahkan sebagai drugstore atau pusat perdagangan baru.

Di tempat dimana semua kebutuhan, mulai dari barang belanjaan, makanan hingga seni-budaya dan hiburan tersedia, di salah satu sudut kafe atau pusat kebudayaannya, sebagian sastrawan biasanya berkumpul untuk bertukar kabar terbaru setelah lelah menghasilkan karya yang dianggap babon atau usai menghadiri undangan pertunjukan sana-sini. Inilah tapal yang menandai kelahiran sastrawan sosialita.

Dulu, pena adalah senjata andalan penulis untuk melahirkan karya. Kini, para sastrawan sosialita membutuhkan lebih dari sekadar perangkat untuk mencipta karya sebab ia menolak mati setelahnya. Kehadiran gadget pun menjadi penting. Dengan gadget, sastrawan sosialita bisa terus unjuk diri agar keberadaaannya terjaga.

Tak mengherankan jika kemudian jumlah pengikut seorang sastrawan sosialita di media sosial menjadi penting untuk mengukuhkan posisinya. Selain itu, agar tak kehilangan oksigen untuk tetap hadir dan diperhitungkan, ruang hidup baru lewat rupa-rupa acara sosialita terus dicarinya. Salah satunya lewat pekan gembira.

Pekan Gembira

Beberapa tahun terakhir ini, acara semacam pekan gembira untuk para penulis sastra kian marak digelar di Indonesia. Sebut saja Ubud Writers and Reader Festival, Makassar International Writers Festival, Borobudur Writers and Cultural Festival, Salihara Literary Biennale, hingga Asean Literary Festival. Acara-acara tersebut bukan semata sebagai ajang para sastrawan bertemu dan berbincang sastra, tetapi juga sebagai ajang bersosialita.

Merujuk pada penamaan pekan gembira yang memakai bahasa Inggris, hal tersebut tentu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kegiatan itu bukanlah acara kumpul-kumpul biasa. Bahasa, dalam kajian Gayatri Spivak dalam The Burden of English, bukan semata rangkaian kata yang digetarkan oleh lidah, melainkan mengandung ideologi tertentu.

Ketika bahasa Inggris, yang diakui sebagai bahasa dunia dan pernah menjadi bahasa kolonial, dipakai dalam penyebutan sebuah acara yang diadakan di negara-bukan-berbahasa Inggris maka hal tersebut sudah pasti bukan untuk gagah-gagahan semata, melainkan demi menampilkan pesan “internasional” yang ada di dalamnya.

Tentu saja, makna “internasional” bukan merujuk pada negara Kamerun, Libia atau Nepal misalnya, tetapi Eropa atau Amerika Serikat. Dengan melihat acara ini sebagai pintu masuk untuk menjadi bagian dari komunitas penulis “internasional”, tak urung banyak sastrawan sosialita mengajukan diri ikut serta.

Ironisnya, mereka rela bersaing satu sama lain untuk masuk ke dalam daftar tampil yang hanya menyediakan tempat sebagai penampil “kelas dua”, mendampingi penulis internasional yang sebenarnya; bangga menjadi penulis yang “dianak-tirikan” di negerinya sendiri.

Tak bisa dimungkiri, pekan gembira penulis internasional telah dijadikan jaminan “naik kelas” oleh para sastrawan sosialita dalam jenjang karir kepengarangan mereka. Seorang sastrawan sosialita merasa perlu menyebutkan sederet rekam-jejak acara pekan gembira penulis “internasional” mana saja yang pernah dihadirinya demi keinginan untuk tampil lebih besar daripada karyanya sendiri. Serupa makna kata “sosialita” yang berasal dari kata “sosial” dan “elit”, dengan mengikuti kegiatan “sosial” semacam itu maka seorang sastrawan sosialita berharap menjadi bagian “elit” sastra Indonesia dan dunia (Barat).

Ketika Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Poerbotjaraka, Sutomo, dan Ki Hajar Dewantara berkumpul lewat majalah Pujangga Baru, Suara Umum, Pewarta Deli dan Wasita, lahirlah apa yang dikenal sebagai Polemik Kebudayaan. Beberapa tahun kemudian, ketika Chairil Anwar, Sitor Situmorang dan Angkatan ’45 yang lain bertemu dan berbincang bersama maka lahirlah Surat Kepercayaan Gelanggang. Tidak begitu lama setelah peristiwa itu, ketika A.S. Dharta, M.S. Ashar, Henk Ngantung, Joebar Ajoeb dan seniman kiri lain berkumpul, lahirlah Manifesto Lekra.

Sekarang, ketika para sastrawan sosialita berkumpul dalam acara yang berlabel internasional maka apa yang mereka hasilkan tiada lain hanyalah manifesto foto unjuk diri di media sosial dengan wajah sumringah karena merasa telah menjadi bagian dari penulis dunia (Barat).