Dua hal yang membuat sastra koran atau majalah tetap bertahan. Yaitu menciptakan sastra elektronika atau justru menegasi besar-besaran terhadap dunia virtual. KEHADIRAN media massa, khusus koran atau majalah, sejak lama telah memberi ruang bagi sastra (cerpen, puisi, dan cerita bersambung) berkembang di Indonesia. Adanya sastra koran atau majalah, demikian yang sering akrab dikenal, juga membantu melejitkan nama dan karier sang penulis.

Namun, seiring dengan turunnya bisnis media cetak, sejumlah suratkabar mengurangi halaman, tak terkecuali ruang sastra. Salah satu contohnya, koran Suara Merdeka di Jawa Tengah, yang mengurangi rubrik sastra dari empat halaman menjadi satu halaman.

Penulis dan sutradara teater Agus Noor mengatakan, sangat merasakan dampak penurunan ruang sastra secara langsung. Persaingan untuk mempopulerkan karya sastra semakin ketat seiring dengan keterbatasan wadah.

Memulai karier di saat koran tengah menjadi primadona pada 1980-an, Agus merasa terbantu dengan kehadiran koran.

“Paling utama, kita dapat mempublikasikan karya hingga diapresiasi karena lembaga sastra yang dalam hal ini adalah koran, memiliki sifat otoritatif,” ujarnya dalam Diskusi Sastra “Senjakala Ruang Sastra di Media” di Gedung Olveh, Jakarta, Kamis (28/4).

Memasuki awal 2000 hingga sekarang, kondisi mulai berubah. Masyarakat mulai bisa menulis lewat blog dan media sosial. Mereka dapat bebas menuangkan ekspresi untuk dibaca siapapun tanpa memiliki kewajiban untuk diedit, layaknya proses mengirimkan ke media cetak. Tapi, kebebasan itu tidak diiringi dengan kehadiran lembaga yang memiliki sifat otoritas layaknya media cetak. “Sekarang, tidak ada lembaga otoritas yang bisa menjadi sumber perbandingan. Tidak hanya sastra, tapi hal ini juga berlaku dalam film dan musik,” ucap Agus.

Selain kehilangan lembaga otoritatif, Agus juga mengatakan, terhapusnya etalase akan persaingan yang sehat antarpenulis di generasi muda maupun senior. Suasana kompetitif yang dihadirkan di media cetak tentu tidak bisa tergantikan dengan kehadiran blog dan media sosial.

Ketakutan serupa juga dirasakan penulis Djenar Maesa Ayu. Ia mengatakan, generasi muda akan kehilangan media untuk berekspresi, bermimpi, dan berjuang untuk menggapai mimpi itu. Ia pun menceritakan pengalamannya harus harus menunggu tiga tahun hingga cerpennya dimuat di Harian Kompas.

Banyak faktor penyebab hingga akhirnya sejumlah media mengurangi ruang sastra. Selain permasalahan teknis yang dihadirkan dunia digital dengan ciri berkarakter cepat, selera publik pun ikut berubah. Sastra yang kerap diidentikkan sebagai hal serius kian terpinggirkan, berganti dengan konten enteng.

Masih Tetap Ada

Di tengah keterbatasan ruang sastra, Redaktur Budaya dan Sastra Harian Kompas Putu Fajar Arcana menjelaskan adanya secercah titik terang dalam kondisi saat ini. Setidaknya, lebih dari 10 koran masih menampilkan rubrik sastra meski tidak dalam halaman melimpah layaknya beberapa dekade lalu.

Yang membuat sastra itu masih ada di media bukanlah berdasarkan kebijakan atasan di sebuah koran. “Tapi, selalu tumbuh bibit atau anak ideologis yang tercipta secara personal. Mereka mengemban tugas ‘mulia’ hingga menjadi redaktur kebudayaan di suatu media yang menjadi pengendali segala hal ada atau tidaknya ruang kesusastraan,” ujar Putu.

Dengan begitu, keberadaan sastra selalu rentan terhadap berbagai perkembangan; bergantung pada anak-anak ideologis tersebut. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga, anak-anak ideologis itu memudar dan dipastikan ruang sastra akan menemui ajalnya. Kondisi ini, kata Putu, sudah menimpa banyak penerbitan harian di Indonesia, tak terkecuali Kompas.

Sementara itu Redaktur Sastra Harian Suara Merdeka Triyanto Triwikromo menyebut saat ini adalah era generasi internet. “Di mana internet kian populer, dan ‘kebudayaan’ menjadi konteks yang sama rata di mata orang,” tutur Tri, sapaan akrabnya.

Dalam kondisi tersebut, kata dia, muncullah klise massal yang didesakkan oleh pasar. Tri menceritakan, publik telah hanyut dalam kebudayaan mereproduksi teks dalam balutan industri. Jika sebuah novel sukses di pasaran dengan ideologi cinta, maka pengarang lain berlomba-lomba menghasilkan karya serupa demi meraih pencapaian tinggi. Dampaknya, sastra koran atau sastra majalah menjadi sastra minoritas yang langka. Ruang sastra kian mengurang seperti yang dialami Harian Suara Merdeka pada tiga tahun lalu. Penghargaan sastra (untuk koran) pun berhenti, seperti Anugerah Sastra Pena Kencana dan Anugerah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (kini, Kemendikbud).

Tri menjelaskan, ada dua hal yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi keterbatasan minim ruang sastra itu. “Mengikuti alur dalam dunia baru itu dengan menciptakan kemungkinan baru, seperti sastra elektronika, atau justru melakukan negasi besar-besaran pada dunia virtual untuk kemudian mengembalikan diri ke dunia tanpa kesemuan,” tuturnya.


Indonesia konon sarang teroris. Negara kepulauan ini juga juara korupsi peringkat ke sekian, gagal menjadi tuan rumah piala dunia tahun 2022, dan kini malah beredar video seronok mirip artis ternama. Miris bukan? Lantas apa yang bisa dibanggakan dari negeri ini?

Tunggu dulu, Indonesia sejatinya punya banyak tokoh fenomenal yang cemerlang di mata masyarakat internasional, meski kadang tenggelam dan sedikit dibenci bahkan dipenjawa di negerinya sendiri, layaknya potret sang nabi.

Sebut saja sastrawan kenamaan Pramoedya Ananta Toer. Pujangga kelahiran Blora, Jawa Tengah 6 Februari 1925 silam ini adalah penerima sejumlah penghargaan sastra bertaraf dunia.

Pria bersahaja yang wafat 30 April 2006 silam ini pernah menerima The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Nobel Prize for Literature nomination dan Ramon Magsaysay pada 1995, Honorary Doctoral Degree from University of Michigan, Ann Arbor pada 1999, Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres Republic of France dan Fukuoka Asian Culture Grand Prize, Fukuoka, Japan, pada 2000, The Norwegian Authours Union pada 2004, dan sederet penghargaan internasional lainnya.

Puluhan karya berkualitas memang dihasilkan oleh eks tahanan politik (tapol) pada masa orde baru ini. Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Jejak Langkah, Anak Semua Bangsa, dan Rumah Kaca) dan 200 lebih karyanya sudah diterjemahkan ke dalam 40 lebih bahasa di dunia.

Belum lagi karya-karya sastra lain, baik fiksi maupun nonfiksi, yang banyak dicari para pemuja sastra di tanah air maupun di luar negeri.

Karangan Pram, sapaan akrab Pramudya, kental dengan nuansa humanis, anti penjajahan dan feodalisme. Meski tidak secara eksplisit ditorehkan dalam setiap tulisannya. Pram selalu menyerahkan sepenuhnya pada objektivitas pembaca. Seperti yang dia rangkum dalam tetratrologi Bumi Manusia, Gadis Pantai, Nyanyian seorang bisu I, dan II, Di Tepi Kali Bekasi, Jalan Raya Pos Jalan Daendels. Atau Arok-Dedes, yang alur ceritanya dibuat seperti menyimpang dari sejarah yang biasanya dibaca di buku-buku sejarah atau dikisahkan oleh orang tua kepada anaknya.

Tulisan-tulisan Pram juga lekat dengan nuansa realis yang membawa pembaca ke alam lain atau dipertontonkan sebuah detil cerita layaknya sebuah film. Hal ini diakui Pram, terinspirasi dengan karya-karya John Steinbeck, penulis Amerika peraih Nobel Sastra Tahun 1962 dan Maxim Gorky (1868-1936), sastrawan terkemuka dari Rusia.

Kemahiran Pram dalam meramu bahasa dan menganyam frasa, memang tidak lepas dari kegemarannya membaca serta menerjemahkan karya-karya penulis terkemuka. Tentu dengan memanfaatkan kemampuannya dalam beberapa bahasa asing. Tak heran jika pada awal karirnya Pram sempat menjadi “kurir sastra”.

Pada tahun 1950-an, Pram sudah menerjemahkan novel John Steinbeck dengan tajuk Tikus dan Manusia, Kembali pada Tjinta Kasihmu, novel Leo Tolstoy, masih pada tahun yang sama, Perjalanan Ziarah yang Aneh, novel Leo Tolstoy, pada 1954, Kisah Seorang Prajurit Sovyet, novel Mikhail Sholokov, pada tahun yang sama, dan Ibunda, novel terkenal dari Maxim Gorky, serta masih banyak lagi terjemahan novel asing karya penulis terkemuka dunia yang diterjemahkannya.


Sastrawan dan penyair Afrizal Malna menolak Achmad Bakrie Award 2016 pada bidang kesusastraan. Menurut penyair 59 tahun ini, penghargaan Ahmad Bakrie bisa membuat karyanya terkotak-kotak, cuma bergabung dengan satu kelompok.

Bila ia menerima penghargaan tersebut, kata Afrizal, karya-karya yang pernah diciptakannya melenceng dari tujuan semula. “Artinya, saya menjadi bagian konstruksi dia. Jadi lebih baik tidak terima saja,” kata Afrizal saat dihubungi Tempo di Jakarta, Ahad, 21 Agustus 2016.

Selain itu, Afrizal menilai penghargaan Achmad Bakrie Award ini sudah membentuk citra tertentu di mata publik. Salah satu alasannya, kata dia, latar belakang bisnis keluarga Bakrie. “Jadi aku terima atau aku tolak, sama saja dan tidak ada dampaknya. Kalau misal aku ambil duitnya, itu aneh juga,” ujar Afrizal, yang juga aktif di dunia seni pertunjukan.

Afrizal menganggap penghargaan terhadap dunia sastra adalah upaya pembisuan terhadap perkembangan kesusastraan. Ia menyatakan tak menyukai adanya pengkotak-kotakan dalam kesusastraan. “Jadi kaitannya hadiah ini ada di konstelasi politik bergayaan yang susah dicari ujung pangkalnya,” tuturnya.

Namun ia mengapresiasi panitia Achmad Bakrie Award yang telah menunjuknya sebagai penerima penghargaan melalui hasil riset yang lengkap dan utuh. Ini berbeda dengan penghargaan kesusastraan lain. “Penghargaan ini ada argumentasinya. Tapi, sayangnya, ada dalam pengkotak-kotakan konstelasi keberpihakan,” ucapnya.

Penasihat Komite Penghargaan Achmad Bakrie, Rizal Mallarangeng, mengatakan penolakan itu bukan persoalan. “Walaupun Afrizal Malna menolak, tidak menggugurkan penghargaan ini,” kata Rizal Mallarangeng, Sabtu kemarin.

Menurut dia, Afrizal telah memperkaya kebudayaan bangsa Indonesia. Ia mengatakan pihaknya mengapresiasi dan berharap generasi muda terinspirasi dari karya-karya yang sudah dihasilkan Afrizal.

Bahkan Rizal membandingkan hal ini dengan penghargaan Nobel yang juga pernah ditolak oleh para penerimanya, seperti yang dilakukan sastrawan asal Prancis, Jean Paul Sartre. “Ada kontroversi, buat kami tak ada soal.


Ibnu Rusyd memang seorang ulama besar. Ia dikenal sebagai ahli fikih, ushul fikih, filsafat, falak, politik, kedokteran, ilmu jiwa, dan ilmu alam. Hidupnya diisi dengan mencari ilmu dan berkarya menulis buku tiada henti. Ulama asal Andalus (Spanyol) ini di Barat dikenal dengan sebutan Averroes. Pengaruhnya diakui ilmuwan Muslim, Yahudi dan Nasrani. (Muhammad Syahatah Rabi’, al-Turats al-Nafsi ‘inda Ulamâ al-Muslimîn, (Iskandariyah: Dâr al-Ma’rifah al-Jâmi’iyah, 1998), hal. 523).

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd, biasa dipanggil dengan sebutan Abu al-Walid dan gelar cucu laki-laki (al-Hafîd). Gelar tersebut disematkan kepadanya bisa jadi karena Ibn Rusyd satu-satunya cucu dari Ibn Rusyd yang mewarisi tradisi keulamaan dan kenegarawanan sebagaimana kakeknya,  Muhammad bin Rusyd.

Ia lahir pada 520 H/1126 M di Kordoba, salah satu kota ilmu di Andalus. Lingkungan keluarganya sangat taat beragama dan cinta ilmu pengetahuan. Kakeknya sering diminta fatwa dan pendapatnya oleh para pejabat, gubernur, amir, ilmuan, baik yang ada di Andalus maupun yang di Maghrib (Maroko). Tak hanya itu. Para sultan juga sering menjadikan pendapat-pendapatnya sebagai pertimbangan politik. (‘Abduh al-Syamâli, Dirâsat fî Târikh al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islâmiyah, (Beirut: Dâr Shâdir, 1979), Cet. V, hal. 644.  Baca pula Muhammad Syahatah Rabi’, al-Turats al-Nafsi ‘inda Ulamâ al-Muslimîn, hal. 524-525).

Hal tersebut dapat dimaklumi, karena kakeknya adalah ahli fikih dan ilmu lainnya, serta qadli (hakim) di Kordoba. Seperti dijelaskan Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya, orang-orang Andalusia, menjadikan al-Qur’an sebagai dasar dalam pengajarannya, karena al-Qur’an merupakan sumber pokok Islam dan sumber semua ilmu pengetahuan. Mereka tidak membatasi pengajaran anak-anak pada pelajaran al-Qur’an saja, tetapi dimasukkan juga pelajaran-pelajaran lain seperti syair, karang  mengarang, khat, kaidah-kaidah bahasa Arab dan hafalan-hafalan lain. (Ibn Khaldûn Abdurrahman bin Muhammad, al-Muqaddimah, (Beirut: Dâr Ihyâ al-Turâts al-‘Arabi, tth), hal. 346).

Ihwal ini pula yang dulu ditempuh Ibn Rusyd. Sejak masa belia Ibn Rusyd memang haus ilmu. Di kota kelahirannya itu, ia belajar al-Qur’an, sastra Arab, menghafal syair Abu Tamam dan al-Mutanabbi dari ayah dan kakeknya. Setelah itu ia mendalami Fikih dan Ushul Fikih dan ilmu Kalam (teologi). Selain itu, ayahnya memotivasinya untuk menghafal al-Muwaththa’ karya Imam Malik (pendiri madzhab Maliki) tanpa melihat kitabnya dan mengikuti tradisi kalam al-Asy’ariyah.

Masih merasa dahaga dengan ilmu-ilmu yang telah ditekuninya, Ibn Rusyd pun menggeluti ilmu-ilmu lain, seperti kedokteran, ilmu hitung, dan filsafat. Kecerdasan Ibn Rusyd memang muncul sejak kecil. Ketika berusia 12 tahun, ia sudah berguru tentang filsafat dan logika kepada Ibn Thufail, tokoh besar filsafat pada masanya.

Disamping itu, ia belajar ilmu kedokteran dari Abu Ja’far Harun dan Abu Marwan ibn Jarbun al-Balansi. Ia juga mempelajari sastra Arab, matematika, fisika, dan astronomi. (Paul Edward, The Encyclopedia of Philosophy, vol 1 & 2 (New York: Macmilan, 1972), hal. 220). Di bidang kedokteran, Ibn Rusyd menulis kitab al-Kulliyât, Syarah al-Arjûzah al-Mansûbah ila Ibn Sinâ fi al-Thib, Talkhis Kitâb al-Mazâj li Jalinûs, Talkhis Kitâb al-Quwâ al-Thabi’iyah li Jalinûs, Talkhis Kitâb al-‘Ilal wa A’radl li Jalinûs, dan Maqâlah fi al-Mazâj.

Al-Kulliyât merupakan buku pertama yang ditulis Ibn Rusyd. Kitab tersebut sangat populer di Eropa dan diajarkan di universitas-universitas di kawasan tersebut. Tetapi dalam beberapa waktu, ia kalah dengan Qânûn fi al-Thib-nya Ibn Sina. Padahal, al-Kulliyât, sesuai namanya, membahas secara komprehensif tentang kesehatan tubuh dan penyakit-penyakitnya. Di bidang ilmu alam, Ibn Rusyd menulis kitab al-Hayawân.

Pada tahun 1153 Ibn Rusyd pindah ke Maroko¸untuk memenuhi permintaan khalifah ‘Abd al-Mu’min, khalifah pertama dinasti Muwahhidin. Ia meminta Ibn Rusyd untuk membantunya mengelola lembaga-lembaga ilmu pengetahuan yang didirikannya. (Abduh al-Syamâli, Dirâsat fî Târikh al-Falsafah al-‘Arabiyah al-Islâmiyah, hal. 645.)

Selanjutnya pada tahun 1169 risalah pokok tentang medis, berjudul al-Risalah, telah diselesaikannya. Pada tahun ini ia dikenalkan kepada khalifah Abu Ya’kub oleh Ibn Thufail. Hasil dari pertemuan itu Ibn Rusyd diangkat menjadi qadhi di Saville.  Jabatan tersebut ia memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Ibn Rusyd tidak pernah melewatkan malamnya tanpa membaca dan menulis, kecuali dua malam yaitu malam ketika ayahnya wafat  dan malam perkawinannya.

Dua tahun setelah menjadi qadhi di Saville, ia kembali ke Cordova menduduki jabatan hakim agung. Selanjutnya pada tahun 1182 ia bertugas sebagai dokter khalifah di istana al-Muwahhidin menggantikan Ibn Thufail.

Ibn Rusyd termasuk ulama yang kreatif dan produktif. Hal tersebut dapat dilihat dan dibuktikan pada karya dan bukunya yang membahas berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Para sejarawan berbeda pendapat mengenai jumlah karya atau buku yang ditulis Ibn Rusyd. Menurut Renan, Ibn Rusyd telah menulis 78 buku. Buku-buku tersebut ada di perpustakaan Eskurbel, dekat Madrid.  Tetapi menurut Ibn Abi Ashbi’ah, buku-buku tersebut tinggal 50 buah. (Ibid).

Karya-karya Ibn Rusyd meliputi berbagai bidang ilmu: fikih, filsafat, politik, kedokteran, ilmu jiwa (psikologi), ilmu alam dan Kalam. Karya-karya itu ada yang berupa komentar-komentar atas karya Aristoteles dan Plato, maupun karya Ibn Rusyd sendiri.  Ibn Rusyd selama ini sering dianggap sebagai ulama rasional, bahkan masuk barisan Mu’tazilah. Padahal, menurut Ibn Rusyd sendiri, ia adalah seorang Asy’ariy dan bermazhab Maliki.

Walaupun disibukkan dengan urusan politik negara, Ibn Rusyd tidak mau meninggalkan aktivitas mengajar dan menulis, sehingga datang hari malapetaka, yakni usaha pembakaran karya-karyanya di bidang filsafat. Tak lama kemudian, ia wafat pada 9 Shafar 595 H (10 Desember 1198 M). Setelah tiga bulan, jenazahnya dipindahkan ke Kordoba untuk dikebumukan di pemakaman keluarganya.


Thomas Todo Golo dalam opininya di harian Pos Kupang (2 Mei 2013) mengutip pernyataan Jus Badudu, pendekar bahasa Indonesia tahun 1980-an dari Universitas Padjadjaran Bandung yang dimuat harian Kompas. Lewat Kompas (1986) Jus Badudu menyatakan betapa besarnya sumbangan orang-orang NTT dalam proses pembakuan bahasa Indonesia. Badudu bahkan menyebut sumbangan orang-orang NTT sekitar 60-70 %.

Badudu mencatat, sumbangan orang NTT dalam proses pembakuan bahasa Indonesia berkat jasa ilmuwan bahasa, wartawan, dan sastrawan. Disebutkannya sejumlah nama yang berjasa itu, yakni Gorys Keraf, Marcel Beding, Valens Doy, Gerson Poyk, Dami N. Toda, dan Julius Sijaranamual. Dari 6 nama ini, tinggal sastrawan Gerson Poyk yang masih hidup.

Pada momen peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2015 ini, saya mau mengangkat sekaligus mengenang jasa besar Gorys Keraf, ilmuwan bahasa dari NTT. Gorys Keraf lahir pada 17 November 1936 di Lamalera, Lembata. Meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 di Jakarta dalam usia 61 tahun. Menyelesaikan SD di Lamalera, SMP di Seminari Hokeng (1954), SMAK Syuradikara Ende (1958), Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), Jakarta (1964). Gelar Doktor dalam bidang linguistik pada 1978 dengan promotor Amran Halim, J.W.M. Verhaar, dan E.K.M. Masinambouw. Judul disertasinya Morfologi Dialek Lamalera (1978). Gelar profesor dari Universitas Indonesia pada 1991.

Tahun 1970-an dan 1980-an, Gorys Keraf adalah nama besar dalam dunia pengajaran bahasa Indonesia. Namanya paling banyak dikenal para pelajar dan mahasiswa. Bukunya yang pertama berjudul Tatabahasa Indonesia (1970) membuat namanya meroket cakrawala ilmu bahasa dan tata bahasa Indonesia. Namanya terus melambung menyusul terbit bukunya yang kedua Komposisi (1971).

Gorys Keraf adalah ilmuwan bahasa dan dosen sejati. Sejak meraih gelar Sarjana Sastra (1964), Gorys Keraf memilih jadi dosen di FS UI sampai akhir hayatnya tahun 1997. Selain dosen di FS UI (S1, S2, dan S3), juga dosen di FISIP UI, Pascasarjana Hukum UI, Universitas Trisakti, dan Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Sebanyak 174 judul buku tata bahasa Indonesia yang diteliti Bambang. Hasil penelitiannya berjudul “Menguak Alisjahbana dan Keraf: Pengajaran Bahasa Indonesia,” dimuat dalam Majalah Basis (Nomor 12, Tahun XXXVI, 1987, halaman 457-477).

Hasil penelitian Bambang menunjukkan, dari 174 buku tata bahasa Indonesia yang pernah terbit selama 82 tahun di Indonesia, “hanya” dua buku yang paling banyak dibaca dan paling berpengaruh di Indonesia. Sebagian besar orang Indonesia mengenal bahasa Indonesia dari dua buku itu. Daya tahan pemakaian masing-masing buku lebih dari 25 tahun.

Pertama, buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (jilid 1 dan 2) karangan Sutan Takdir Alisjahbana atau STA (Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 1949). Kedua, buku Tatabahasa Indonesia karangan Gorys Keraf (Penerbit Nusa Indah, Ende, 1970). Menurut Bambang, kedua buku ini “pengaruhnya begitu mendalam merasuki relung-relung pengajaran bahasa Indonesia!”

Buku “tata bahasa STA” (1949) sampai tahun 1981 (selama 32 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-43 (jilid 1) dan cetak ulang ke-30 (jilid 2). Sementara itu, buku “tata bahasa Gorys Keraf” yang terbit tahun 1970, sampai dengan tahun 1984 (selama 14 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-10, dan sampai beliau meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 (selama 27 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-15.

Jumlah buku tata bahasa Gorys Keraf yang beredar di masyarakat jauh melampaui jumlah yang terdata, karena sebagian besar buku ini dijual ilegal di pasaran bebas. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada tahun 1988 pernah mensinyalir, buku paling banyak dibajak dan dijual secara ilegal di pasaran bebas adalah Tatabahasa Indonesia karangan Gorys Keraf.

Keperkasaan buku tata bahasa Gorys Keraf sampai tahun 1990. Pamornya mulai meredup tatkala Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988). Sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2015 ini (selama 25 tahun), tidak ada lagi buku tata bahasa Indonesia yang pengaruhnya sebesar buku STA dan Gorys Keraf.

Karya Gorys Keraf dalam bentuk buku adalah Tatabahasa Indonesia (1970), Komposisi (1971), Eksposisi dan Deskripsi (1981), Argumentasi dan Narasi (1982), Diksi dan Gaya Bahasa (1984), Linguistik Bandingan Historis (1984), Linguistik Bandingan Tipologis (1990), Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia (1991), Cakap Berbahasa Indonesia (1995), dan Fasih Berbahasa Indonesia (1996).