Judul Buku : Sejarah Filsafat Cina
Penulis : Fung Yu-Lan
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : 1, November 2007
Tebal : V + 458 Halaman

Kedudukan filsafat dalam peradaban Cina bisa disamakan dengan kedudukan agama pada peradaban-peradaban lain. Di Cina, filsafat selalu menjadi perhatian bagi setiap orang yang berpendidikan. Pada masa lalu, jika seseorang merupakan orang yang berpendidikan, maka pendidikan pertama yang ia terima adalah filsafat. Ketika anak-anak masuk sekolah, maka Buku Yang Empat (The Four Book) adalah pegangan wajib, yang terdiri dari Untaian Ajaran Confucius (Confucius Analects), Buku Mencius (Book of Mencius), Pelajaran Agung ( The Great Learning), dan Doktrin Jalan Tengah (The Doctrine of the Mean).

Dari tradisinya ini, filsafat Cina bertolak dari agama Confucianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Sebagian orang mangatakan bahwa Confucianisme adalah agama, bukan filsafat. Tetapi sesungguhnya Confucianisme itu bukanlah agama, sama halnya dengan Platonisme atau Aristotelianisme. Memang, benar dalam Buku Yang Empat yang menjadi Bibel bagi orang Cina seakan-akan Confucianisme adalah agama. Tetapi di buku tersebut tidak terdapat kisah tentang penciptaan dan tidak menyebutkan tentang surga atau neraka.

Istilah filsafat dan agama keduanya bersifat ambigu. Tetapi bagi orang Cina filsafat dan agama adalah satu-kesatuan yang utuh, yang tak dapat dipisahkan karena kehidupan adalah perjalan reflektif. Orang Cina percaya dari alam semesta pikiran mampu melahirkan konsep tentang kehidupan, konsep tentang alam semesta, dan konsep tentang pengetahuan melalui pemikiran reflektif tersebut.

Agama juga mempunyai hubungan dengan kehidupan. Dalam inti setiap agama besar ada suatu filsafat, kenyataanya, setiap agama besar adalah suatu filsafat dengan superstruktur tertentu, yang terdiri dari tahayul-tahayul, dogma-dogma, ritual-ritual, dan institusi-institusi. Jika orang memahami agama sebagai pengertian ini, yang sesungguhnya tak berbeda dengan penggunaan secara umum, maka orang melihat bahwa Confucianisme tidak bisa dimengerti sebagai sebuah agama.

Tentang Taoisme, terdapat perbedaan Taoisme sebagai filsafat, yang disebut dengan Tao chia (mahzab Tao) dengan Tao sebagai agama (Tao chiao). Ajarannya tidak hanya berbeda, tetapi bahkan kontradiktif. Taoisme sebagai filsafat mengajarkan doktrin agar manusia mengikuti alam, sedangkan Taoisme sebagai agama mengajarkan doktrin agar manusia menentang alam. Misalnya, menurut Lao Tzu dan Chuang Tzu, kehidupan yang diikuti oleh kematian adalah jalan alam, dan manusia harus mengikuti jalan alam ini dengan tenang. Tetapi ajaran utama Tao adalah prinsip dan teknik bagaimana cara menghindari kematian, yang jelas merupakan usaha menentang alam. Agama Tao memiliki jiwa ilmu pengetahuan, yang berusaha menaklukkan alam.

Ada juga perbedaan Buddhisme sebagai sebuah filsafat yang disebut Fo hsueh (Ajaran Budha) dan Buddhisme sebagai agama, yang disebut Fo chiao (agama Budha). Bagi orang Cina yang terpelajar, filsafat Budha lebih menarik daripada agama Budha. Sering sekali kita melihat rahib Budha dan rahib Tao sama-sama ikut serta dalam upacara kebaktian pemakaman Cina. Orang-orang bahkan memahami agama mereka sebagai kefilsafatan.

Menurut tradisi filsafat Cina, fungsi filsafat bukan untuk menambah pengetahuan positif (informasi yang sesuai dengan kenyataan), tetapi untuk meningkatkan taraf jiwa; suatu upaya untuk mencapai apa yang berada di luar dunia nyata saat ini, dan untuk mencapai nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral. Sehingga seorang peneliti filsafat, yakni Charles Morris pernah menyatakan bahwa filsafat Cina adalah filsafat dunia ini. Tetapi filsafat Cina tidak dapat dipahami dari hal yang bersifat lahiriah saja. Sejauh yang terkait dengan ajaran utama tradisi filsafat Cina, jika kita memahaminya dengan benar, tentu tidak dapat dikatakan bersifat dunia ini, juga tidak dapat dikatakan sepenuhnya bersifat dunia lain. Filsafat Cina adalah kedua-duanya.

Dalam buku ini, Fung Yu-Lan sebagai penulisnya mengurai dengan jelas sejarah tradisi filsafat Cina klasik hingga tradisi filsafat Cina Modern. Ia memulai pembahasannya pada masa dinasti Cina pertama Hsia (2205-1766 SM) hingga dinasti Ch’ing (1644-1911 M) di mana filsafat Cina mengalami pertumbuhan dan perkembangannya, dalam persentuhannya dengan politik, ekonomi, dan budaya.

Buku ini merupakan kajian yang komprehensif atas filsafat Cina karena dengan membacanya kita akan melihat bahwa filsafat Cina itu jauh lebih luas cakupannya daripada sekedar Confucius atau Lao Tzu, atau bahkan sekedar madzhab Confucianisme atau Taoisme yang kepadanya kedua tokoh tersebut dipertalikan.

Selama kira-kira dua puluh lima abad, para pemikir Cina telah menyentuh hampir semua pokok bahasan utama yang menjadi perhatian para filsuf Barat, dan meskipun madzhab yang sudah menjadi bagian dari mereka sering melahirkan nama yang sama, hingga beberapa abad lamanya, namun isi ideologi aktual mereka sudah sangat berubah dari satu masa ke masa yang lain. Cina adalah sebuah negeri dengan rentetan sejarah filsafatnya yang amat panjang. Tak aneh jika teks agama, Islam misalnya, terdapat hadist, “carilah ilmu meski ke negeri Cina” itu karena pada hadist itu diturunkan bahkan jauh sebelumnya telah terjadi sebuah dialektika dan kemajuan yang mencengangkan di negeri tersebut.

Puisi-puisi Taufiq Ismail
INDONESIA KERANJANG SAMPAH NIKOTIN

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok. Kalau klarifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya. Maka negeri kita bagi maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasifikasinya.

Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua sampah nikotin. Keranjang sampah nikotin luar biasa besarnya. Dari pinggir barat ke pinggir timur, jarak yang mesti ditempuh melintasi 3 zona waktu yaitu 8 jam naik pesawat jet, 10 hari kalau naik kapal laut, satu tahun kalau naik kuda Sumba, atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang Ponorogo.

Keranjang sampah ini luar biasa besarnya. Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan ke dalamnya berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna, alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi, dan marijuana, berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru. Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia mulut Indonesia menganga menerimanya.

Semua itu, karena gerbang di halaman rumah kita terbuka luas, kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima.

Di pintu depan bandara, karena urgennya modal mancanegara, karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti, dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,

“Silahkan masuk semua, silakan. Monggo, monggo mlebet, dipun, sakecakaken. Sog asup sadayana, asup, asup. Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah.”

Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya. Pedagang-pedagang nikotin yang dinegeri asalnya babak belur digebuki. Di pengadilan bermilyar dolar dendanya. Ketahuan penipunya dan telah memenuhi jutaan penghisapnya. Diusir terbirit-birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga. Dan dengan rasa rendah diri luar biasa kita sambut mereka bersama-sama.

” Monggo, monggo den, linggih rumiyin. Ngersakaken menopo den bagus. Mpun, ngendiko mawon. Aih aih si aden, kasep pisan. Tos lami, sumping, di dieu, Indonesia? Alaa, ranca bana oto angku ko. Sabana rancak. Bao caronyo kami, supayo … ”

Demikian dengan rasa hormat yang lumayan berlebihan. Para pedagang nikotin dari negeri jauh di tepi langit sana. Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya. Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti. Di negeri sendiri telah diusiri dan dimaki-maki. Ke dunia ketiga mereka melarikan diri. Pabrik-pabrik mereka ditutup di negeri sendiri. Lalu didirikan di Dunia Ketiga, termasuk negeri kita ini. Di depan hidung kita penyakit dipindah kesini. Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani. Lalu bangsa kita ditipu dengan gemerlapannya advertensi. Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah. Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi.

PEROKOK ADALAH SERDADU BERANI MATI

Para perokok adalah pejuang gagah berani. Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini. Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati. Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi Dan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perhatikanlah upacara mereka menyala belerang berapi. Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari. Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti. Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi. Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.

Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati. Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri. Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali. Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari. Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.

Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani. Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit yang dengan gembira menanti-menanti. Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.

Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema. Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembulu darah otak. kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas, hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis) penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.

Nama aslinya penyakit rokok.

Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi. 4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5 menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak yang masih memerlukan pencarian rezeki. Terhadap bagaimana terlantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri. Atau nasib duda yang dulu namanya suami. Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri. Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.

Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perjalanan Hidup dan Biografi Taufiq IsmailTaufiq Ismail gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935; umur 78 tahun), ialah seorang penyair dan sastrawan Indonesia. Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat.[1] Ayahnya adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Kegiatan: Semasa kuliah aktif sebagai Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962).

Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan ’66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.

Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia (Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)

Penghargaan: Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Bibliografi: Ismael, Taufiq (1995). Prahara Budaya:kilas-balik ofensif Lekra/PKI dkk.:kumpulan dokumen pergolakan sejarah (dalam bahasa Bahasa Indonesia). Bandung: Mizan dan H.U. Republika. hlm. 469. ISBN 979-433-064-7.
Taufiq Ismail. Vernite Mne Indoneziyu (Kembalikan Indonesia Padaku). Puisi Pilihan. Diselenggarakan dan diterjemahkan oleh Victor Pogadaev. Moskow: Klyuch-C, 2010, ISBN 978-5-93136-119-2

Catatan kaki: Harian Singgalang, Ketika Sastrawan Jadi Datuk, 30 Maret 2009
Sumber: Ismail,Taufiq. 2004. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta: Yayasan Indonesia.

Puisi-Puisi Aziz Abdul Gofar

Pertanda Laut
buat emprit sawah

aku butuh ketemu denganmu
perempuan yang membawa pertanda laut
dalam tahun-tahun membentuk kita
dan menuruti hasrat memburu sesuatu
masih adakah sebuah tanda tak tersentuh
menyimpan rahasia tak terduga

perempuan yang membawa pertanda laut
gedung-gedung sekolah tersenyum putih
aku mengantarmu menaiki tangga kereta
lalu kutunggu di kaki-kaki dinding
membaca deru dari debu tanah lapang

kemudian kukirimkan isyarat laut
yang berjuntai di tubir jingga
kau sudah ngerti aku tak lagi
menghalau emprit-emprit sawah
menjaga ladang dan menelisik kabut
sesuatu telah terjadi dan orang-orang
datang dengan cerita yang sama

aku ingin mengantarmu
sejak dari kelok di tikungan
yang di kawal sekumpulan bambu
menggamitmu menyeberang kali berbatu
beberapa muncul aliran kecil
beberapa malam lepas tak terduga

aku selalu ingin mengikuti jejakmu
meloncati parit-parit dan bubu
yang akan kusampaikan pada
anak angin yang menyusup
ketika kata-kata sampai di depan pintu
ilalang di seberang sana itu perdu
membikin kata-kata menjadi tenang

aku masih ingin memandangimu mengetuk kaca
menunggu sejenak menelisik bunga di taman depan
kuharap ia bakal membikin kau ingat
dengan kalimat yang kuucap di malam pekat

aku selalu ingin memandang sebelum hilang
perempuan harum tanah sawah
tahun-tahun memenjarakan keberadaan
tadi siang adanya datang dalam mimpi
Pelangi di Halaman Belakang
Sepanjang Ponorogo-Bandung

dan ini ombak kembali bertemu semenanjung/ dari tumpukan karang menjelma pantai tak berujung/ bara dan api memadam lautan mendung/ sebelum memburu suar dalam angin yang digulung/ dan kepada pelangi yang menjembatani pulauku dan pulaumu/ kepada penjaga anjungan yang memegang bendera kecil di atas perahu/ aku melipat seluruh malu menjadi segulung senyum tersipu/ lalu perjumpaan kembali seperti kabar burung di sayap angin/ tentang cerita lama yang kita titipkan pada kegaduhan/ padahal kita selalu memaksa zaman bergegas/ ataukah lensaku berembun dan ini zaman jalannya rabun/ beda apakah, selama kubangan berselisih hari/ kemarin aku tawarkan cara hidup serupa tanah/ dan bagaimanakah cara hidupmu yang serupa itu/ toh, anak-anak begitu cepat tumbuh dewasa/ dan kita masih asyik bercanda sebagai gembala

kepada mimpi-mimpikah rindu ini kita payungi/ kedatangannya selalu menjadi perihal tak terhentikan/ selama ini ia tak mengenal ketika/ dari gelisah yang gagal kita padamkan/ perjanjian kita untuk memupusnya melahirkan desau gerimis/ di manakah naungan teduh perlindungan kita saat berjauh/ rumbai atapnya luruh lalu terjatuh/ padahal sisa mendung masih bersembunyi di balik semak liar/ aku merasa takut jika ia datang dan segala jadi terbakar/ sebab rindu yang berkecamuk terlanjur tumbuh dan menjalar/ seperti mimpi yang datang sebelum pagi tadi/ ia selalu ngerti aku yang menyembunyikan rindu/ menatap lekat hingga aku merasa dekat/ dalam semarak malam kerinduan menemukan wajah kota/ yang timur adalah sunyi lembah dan ngarai telaga basah/ yang selatan adalah angin persawahan dan kaki perbukitan/ yang barat adalah suara hutan dan sejarah bebatuan/ yang utara adalah gemuruh gempita peradaban/ merangkum rindu menjadi pendar segala penjuru/ tetapi cuma dengan hati perempuan/ perempuan yang rindu/ aku rela membagi hatiku yang pula rindu/ dan aku cuma mencari pembenaran pada perempuan/ dalam gelepar ketika terlanjur tertawan/ah, mengapa rumah selalu berkeliaran/ di ladang-ladang rindu yang/ begitu jauh/ bersebab hati yang sendiri

di lantai tiga menerawang ke arah bandara/ kunang-kunang datang dan pergi/ selepas saja hingga pagi dini/ ini malam hampir merdeka/ dari redup temaram hotel bintang lima/ sejak kemarin aku ingin memberimu kabar/ ketika cicak membunuh kupu-kupu di dekat lampu/ aku ingin memberimu kabar ketika seorang kawan mengundang/ kemudian kubayangkan wajahmu di lampu-lampu jalan kota/ getaran damai sunyi/ merambat dari sudut-sudut trotoar tua/ sementara dalam ruang-ruang yang terpisah sepasang tangga/ mereka menggubah sepi dengan sengkala diam/ aku ingin memberi kabar padamu/ akan kuceritakan kali pertama bagaimana aku bertemu mereka/ juga tentang duri dan jalan-jalan berlobang yang luput tak terbaca/ sambil kupautkan arah pandang dari lantai dua/ terasa bara menguap membelah udara malam/ menyebar lewat mata lalu berjatuhan di bibir sunyi/ sebelum aku memutuskan menaiki tangga kembali/ aku urung memberi kabar padamu/ tidak pula pada bunga-bunga dan anggur/ juga pada rembulan kota

lalu adamu dan mereka tak pernah lalai mengunjungiku/ datang dan pergi dalam sengkala kesadaranku/ silih berganti menjadi seribu petisi/ adamu dan mereka tak meracun dan sungguh ada/ aku juga setia membawa cawannya/ setetes demi setetes sampai bilah dadaku/ aku masih setia membawa cawan juga penala/ mereka semakin mengada selama/ kujaga dalam jamur-jamur di kepalaku/ aku tidak akan menyesal dengan alunan kota ini/ biar serupa angin gunung yang sesekali menyapa ngarai/ ranumnya membelai rumput-rumput dan hutan jati/ akan ada nama-nama dan macam kota-kota lain/ di ini kota mimpi memberikan nama yang elok/ menjagai dengan manis dan mendongengkan/ hari esok yang penuh rahasia nyanyi malam


Kita tentu mengenal nama Andrea Hirata, penulis Indonesia yang terkenal dengan karyanya Laskar Pelangi. tapi, apakah kita mengenal nama Erick Setiawan?

Erick Setiawan adalah novelis asal Indonesia yang sejak tahun 1991 pindah ke Amerika dan menetap disana. ia terkenal karena novelnya yang fenomenal, Of Bees And Mist, yang terbit tahun 2009. Berbeda dengan Andrea Hirata yang sukses lebih dulu di negara sendiri, Erick Setiawan pertama meraih kesuksesannya di Amerika.

Penulis kelahiran Jakarta tahun 1975 yang pernah menuntut ilmu di Stanford University, Amerika Serikat dalam bidang psikologi dan komputer ini adalah seorang kutubuku dan suka menulis. Sebelum Of Bees and Mist, Erick telah menulis dua novel namun dua naskahnya tersebut mendapat ratusan penolakan dari para agen sastra, sehingga ia tidak pernah mendapat kesempatan untuk menerbitkan karyanya.

Penolakan tersebut untungnya tidak menyurutkan semangatnya dalam menulis. Erick lalu menulis of Bees and Mist yang diselesaikannya dalam waktu 4 tahun. berbeda dengan dua naskah novel terdahulunya, kali ini dalam waktu yang tidak terlalu lama ia memperoleh agen sastra hingga akhirnya pada tahun 2009 novelnya ini diterbitkan oleh penerbit kenamaan Simon & Schuster. Tak hanya itu saja, Of Bees and Mist mendapat sambutan yang positif dari pembaca dan kritikus sastra. Novel ini menjadi finalis QPB New Voices Award 2010 dan masuk dalam longlist penghargaan sastra bergengsi internasional IMPAC Dublin Literary Award 2011.

Novel ini ditulis dalam Bahasa Inggris dan telah diterjemahkan ke dalam empat bahasa yaitu Spanyol, Belanda, Cina dan tentu saja, Indonesia. novel yang dipuji oleh Washington Post ‘Drama rumah tangga yang mengagumkan’ ini telah beredar di empat benua, Amerika, Asia, Eropa dan Australia. Novel ini juga bisa dibeli secara online melalui toko buku terkenal,Barnes and Noble, dan situs jual beli internasional lain seperti Powell’s, Indiebound serta Amazon.