Sastra Indonesia

Realisme, Tohari, dan Logika Ilmiah

Salah satu contoh nyata karya sastra yang kental dengan realisme di Indonesia adalah sastrawan Ahmad Tohari. Karya-karya Ahmad Tohari yang kebanyakan adalah novel bercorak realis. Tohari bisa berbicara kondisi politik tanah air, kebudayaan masyarakat tradisional, psikologi dan batin manusia, intrik, siasat, dan strategi seakan sedang menghadapi suatu peperangan, filsafat hidup, juga berbicara tentang kesenian. Saat membaca karya-karya Tohari tersebut seakan kita melihat Tohari sebagai seorang ilmuwan yang menguasai banyak hal. Tohari bisa tampil seperti filsuf, antropolog, atau seorang guru bangsa. Meski begitu kita tetap merasakan tuturan Tohari tersebut begitu estetis. Kita tak perlu disibukkan dengan istilah-istilah tehnis yang rumit yang membuat kita harus membuka kamus atau ensiklopedi. Tohari telah meramunya dengan begitu indah namun mampu mengajak kita berpikir ilmiah secara menyenangkan bahkan menemukan keasyikan yang luar biasa. Tohari juga seperti tak sedang menggurui meski ia bisa tampil seperti guru yang sedang berdiri mengajar di ruang kelas. Ia mampu merangsang imaginasi kita dan mengajak berpikir ilmiah.

Ketika kita membaca karya master piece nya yang berupa trilogi berjudul Ronggeng Dukuh Paruk misalnya, betapa memukau baik secara tehnis dan isi yang bisa kita gali dari novel tersebut. Penggambaran watak dan karakter serta suasana batin juga tradisi kuat yang dipegang dan diyakini sebuah masyarakat di pedalaman di Banyumas membuat kita seakan sedang membaca sebuah karya antropologi yang dahsyat.

Jejak itu sesungguhnya juga telah terlihat pada karya-karya awal Tohari seperti Kubah dan Lingkar Tanah Lingkar Air yang kental dengan nuansa politis, Tohari seakan sedang mengajak kita menelaah sebuah proses perubahan darn pergolakan tokohnya. Potret yang kuat yang disajikan dengan memukau tentu saja membuat pembaca makin tertarik dan hanyut secara imaginatif dalam irama yang dimainkan Tohari. Pembaca pemula sekalipun tak akan mengalami kesulitan saat membaca novel-novel Tohari, Tohari seakan berbicara dengan orang banyak dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti namun semua memgandung pesan dan bobot yang sangat kuat.

Selain menulis banyak novel yang jumlahnya telah mencapai belasan judul, Tohari juga menulis cerpen, meski produktifitas cerpen Tohari masih kalah jauh dibanding dengan novel-novelnya. Meski begitu cerpen-cerpen Tohari juga mendapat banyak apresiasi. Cerpen Tohari pernah mendapat penghargaan dan menjadi cerpen pilihan terbaik sebuah media massa nasional yang menerbitkan karya pilihan pada setiap tahun.

Beberapa waktu lalu kita kembali disuguhkan cerpen Tohari berjudul “Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus” yang dimuat Kompas pada Minggu, 4 Desember 2016. Tak seperti cerpen-cerpen kontemporer para penulis generasi kini yang penuh dengan permainan kata yang kadang nampak rumit dan begitu tehnis juga dengan menggunakan logika yang memutar-mutar hingga kemudian pembaca harus mengernyitkan kening untuk memahaminya, Tohari justru menggunakan bahasa yang begitu sederhana dan seolah mengalir begitu saja namun sesungguhnya ia sedang berbicara hal yang ilmiah dan sangat mungkin banyak pembaca tak memahami sebelumnya persoalan yang Tohari bahas hingga ia kemudian menjelaskan pada kita.

Lewat cerpen tersebut sesungguhnya Tohari sedang tampil sebagai seorang guru biologi yang sedang menjelaskan secara ilmiah tentang perbedaan anatomi hewan antara kambing dan anjing. Meski Tohari juga menggunakan istilah-istilah biologi lain seperti nama-nama tumbuhan dalam bahasa latin, seakan semua mengalir di logika kita secara ringan dan menyenangkan tanpa kita dipaksa seperti murid yang sedang menghapal keras.

Penjelasan tentang anatomi kambing dan anjing dengan model dialog antara dua tokoh utama tersebut bukan juga hal yang tanpa risiko karena sang perempuan warung juga seakan tampil sebagai seorang murid nakal yang ingin mengganggu penjelasan sang guru. Lewat tokoh “saya” yang sedang menyadarkan sang murid bernama Jubedi yang sedang tak konsentrasi dengan mata pelajaran hingga Jubedi tak sadar jika ia sedang makan sop anjing padahal Jubedi paham benar akan materi tersebut. Tohari ingin mengembalikan konsentrasi sang murid, meski ada murid nakal yang lain sedang mengganggu. Tokoh “saya” pada akhirnya memang tak berhasil menyadarkan Jubedi, itu karena tokoh “saya” memilih cara yang paling halus dan tak langsung saat menegur Jubedi walau sesungguhnya jika cara frontal yang dipilih tokoh “saya” saat menyampaikan pelajaran pada Jubedi, tentu sangat mudah, hanya saja tokoh “saya” mempertimbangkan bahwa ada “perempuan warung” di situ dan tokoh “saya” tentu saja mempertimbangkan aspek psikologis murid nakal tersebut. Jika saja tokoh “saya” kekeuh untuk mengambil sikap frontal, mungkin yang terjadi kemudian akan ada keributan di rumah makan tersebut.

Pada dasarnya Tohari berhasil mengemas pelajaran biologi atau ilmu hayat dalam cerpen tersebut dengan cara yang sederhana namun memukau. Tohari memang seorang guru yang bijaksana yang mengajak kita berpikir ilmiah dengan cara yang menyenangkan. Selain itu Tohari menyampaikan pesan moral yang dalam tanpa perlu menyakiti perasaan siapapun. Barangkali cerpen tersebut bisa menjadi suatu acuan bagi generasi masa kini, bahwa meski kreatifitas, tehnik, dan inovasi dalam karya sastra telah mengalami kemajuan begitu pesat, tapi kita tak boleh lupa jika karya sastra juga memiliki pesan yang harus disampaikan pada pembaca. Karya sastra tentu tak boleh semata sebuah keasyikan para penulisnya namun abai terhadap gagasan yang harus dikomunikasikan pada pembaca. Setiap penulis memang memiliki gaya dan pilihan aliran masing-masing juga memiliki kebebasan untuk menuangkan karya dengan cara yang disukai namun pesan dan nilai tentu saja lebih bermakna jika mengandung universalitas. Penulis dan pembaca sesungguhnya berada pada suatu alur dialektika. Proses dialektik antara penulis dan pembaca akan menentukan seberapa kuat karya bisa diterima dan berpengaruh pada sebuah masyarakat. Penulis tentu memiliki idealisme sendiri, dan itu adalah hak setiap orang, tapi pembaca juga memiliki penilaian yang tak bisa diabaikan. Selera apapun yang dipilih oleh seseorang namun yang pasti dan tak bisa dihindari adalah mampukah penulis dan pembaca bisa saling memahami dan berinteraksi karena bagaimanapun pembaca memiliki tempat yang signifikan pada suatu karya sastra.

Pengertian Monolog Prolog Dialog Epilog Bahasa Indonesia
Pengertian  Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog

Banyak yang bertanya mengenai istilah Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog dalam dunia sastra, khususnya menulis fiksi. Setelah pembelajaran mengenai menghidupkan dialog, banyak yang ingin mengetahui perbedaan Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog. Istilah-istilah ini sebenarnya istilah yang kita temui dalam karya sastra, dan biasa dipakai dalam sastra drama. Istilah lainnya seperti, Babak, Adegan, Mimik, Pantomim, Pantomimik, Gestur, Bloking, Gait, Improvisasi, Ilustrasi, Kontemporer, dll adalah istilah yang muncul dalam sastra lisan(drama) sama halnya istilah Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog.

Seiring perkembangan, istilah-istilah diatas tidak hanya dipakai dalam sastra drama saja melainkan juga dipakai dalam sastra tulisan (Novel, prosa, dll). Nah kita akan coba bahas satu-satu mengenai Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog

Pengertian  Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog

Dialog
Dialog adalah sebuah percakapan yang dilakukan oleh 2 tokoh atau lebih dengan maksud tertentu untuk tujuan jalannya cerita.
Dalam karya sastra tulisan atau menulis fiksi, dialog memiliki banyak fungsi. Selain untuk menggambarkan percakapan tokoh-tokohnya, dialog juga bisa memunculkan karakter dari masing-masing tokoh. Dialog juga bisa memunculkan perbedaan budaya dari masing-masing tokoh. Misalnya dengan dialek atau bahasa percakapan yang berbeda logat. Juga berfungsi sebagai penggambaran seting/latar pada sebuah cerita.

Monolog
Monolog adalah percakapan yang dilakukan oleh tokoh tunggal kepada dirinya sendiri. Monolog bisa berbentuk percakapan dengan dirinya sendiri dalam cermin, atau percakapan yang berbunyi dalam hati yang berkata pada diri sendiri.

Fungsi dari Monolog biasanya untuk menegaskan keinginan atau harapan dari tokoh tersebut terhadapa sesuatu hal. Bisa juga berbentuk emosional, penyesalan, atau tokoh yang berandai-andai.

Prolog
Prolog bisa disebut juga pengantar naskah yang isinya satu atau beberapa keterangan atau pendapat pengarang mengenai cerita yang akan disajikan. Atau bisa diartikan, prolog merupakan pendahuluan atau peristiwa pendahuluan.

Fungsi dari prolog berguna untuk menerangkan dan membeberkan situasi. Prolog disusun bertujuan untuk membangkitkan minat pemebaca terhadap isi dalam sebuah tulisan(Novel), atau minat penonton (jika dalam sebuah pertunjukan drama/teater). Oleh karena itu biasanya dalam sebuah drama, prolog sering berisi sinopsis lakon, pengenalan para okoh, serta konflik-konflik yang akan terjadi dalam cerita tersebut

Jika Prolog adalah pembuka, maka penutupnya disebut Epilog.

Epilog
Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri sebuah cerita. Epilog pada umumnya berisi mengenai amanat, ata kesimpulan dan pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut. Epilog yang merupakan bagian penutup pada karya sastra penting sebagai bekal bagi pembaca/penonton agar mampu mengambil hikmah dari konflik-konflik dalam cerita serta penyelesaiannya, dan biasanya akan muncul kalimat bijak dalam epilog tersebut

Fungsi dari Epilog adalah menyampaikan inti dari cerita, hikmah, atau komentar atas cerita yang baru saja disajikan. Selain sebagai penutup, epilog juga berfungsi untuk menegaskan pesan-pesan moral, tatanilai, maupun refleksi hidup dan kehidupan yang diceritakan.

Demikian mengenai Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog, semoga bisa memberikan penjelasan yang sesuai dengan apa yang anda butuhkan. Terima Kasih.

pengertian-paragraf

Pengertian Tentang Paragraf

Paragraf adalah sekumpulan kalimat yang saling berkaitan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Paragraf juga salah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam paragraf, gagasan menjadi jelas oleh uraian-uraian tambahan, yang maksudnya tidak lain untuk menampilkan pokok pikiran tadi secara lebih jelas.

Pengertian Paragraf

Dalam batasan kamus, Kamus Linguistik yang disusun Harimurti Kridalaksana membatasi pengertian paragraf:
1.  Paragraf  adalah satuan bahasa yang mengandung satu tema dan perkembangannya;
2. Paragraf  adalah bagian wacana yang mengungkapkan pikiran atau hal tertentu yang lengkap tetapi yang masih berkaitan dengan isi seluruh wacana; dapat terjadi dari satu kalimat atau sekelompok kalimat yang berkaitan.

Sedangkan definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia paragraf adalah bagian wacana yang mengungkapkan satu pikiran atau satu tema yang lengkap dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke dalam atau jarak spasi yang lebih.

Paragraf juga disebut sebagai karangan singkat, karena dalam bentuk inilah penulis menuangkan ide atau pikirannya sehingga membentuk suatu topik atau tema pembicaraan. Dalam 1(satu) paragraf terdapat beberapa bentuk kalimat, kalimat-kalimat itu ialah kalimat pengenal, kalimat utama (kalimat topik), kalimat penjelas, dan kalimat penutup. Kalimat-kalimat ini terangkai menjadi satu kesatuan yang dapat membentuk suatu gagasan. Panjang pendeknya suatu paragraf dapat menjadi penentu seberapa banyak ide pokok paragraf yang dapat diungkapkan.

Sebuah karangan yang tidak dibagi dalam paragraf-paragraf pasti akan sangat meyulitkan pembacanya. Pembaca akan kelelahan dan jenuh menghadapi seluruh karangan sekaligus, terlebih jika karangan tersebut cukup panjang. Pembaca seakan-akan dipaksa untuk terus membaca sampai selesai, tanpa memberinya kesempatan untuk berhenti sejenak untuk kemudian memusatkan konsentrasi kembali. Paragraf sebenarnya tak ubahnya seperti anak tangga. Pembaca (ibarat pemanjat) akan sangat sulit sampai pada puncak pemahaman dengan sekali lompat, jika anak tangga yang menjadi penolong tidak tersedia.

Dengan adanya paragraf-paragraf, pembaca akan tahu di mana pokok gagasan dimulai dan di mana berakhirnya, untuk berikutnya berpindah lagi ke gagasan berikutnya. Begitu seterusnya sampai selesai. Dengan demikian, pembaca dapat dengan mudah menapaki anak-anak tangga tanpa menjumpai kesulitan, karena gagasan-gagasan pokok ditata berurutan menuju ke suatu pengertian yang total, yang hendak disampaikan karangan itu.

Untuk unsur-unsur paragraf telah dijelaskan dalam postingan Unsur-unsur Paragraf

Pada dasarnya, jenis paragraf dibagi menjadi 5, diantaranya Narasi, Deskripsi , Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi. Tetapi, dari setiap jenis paragraf, akan terbagi lagi karena adanya perpaduan atau campuran.

Sedangkan Paragaraf Deduktif dan Induktif adalah salah satu jenis paragraf yang dilihat dari letak gagasan utamanya. Akan kita jelaskan pada postingan Paragaraf deduktif dan Induktif

Macam-macam Paragraf

1.  Paragraf Narasi
Menceritakan atau mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca mengalami sendiri peristiwa itu. Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan satu atau beberapa kejadian dan bagaimana berlangsungnya peristiwa-peristiwa tersebut. Kalimat-kalimat dalam paragraf narasi yang berisi rangkaian kejadian atau peristiwa biasanya disusun menurut urutan waktu (kronologis).

Isi paragraf  narasi boleh tentang fakta yang benar-benar terjadi, boleh pula tentang sesuatu yang khayali. Otobiografi atau biografi seorang tokoh terkenal biasanya ditulis dalam bentuk narasi, dan isi karangan itu memang benar-benar nyata atau berdasar fakta sejarah yang tidak dibuat-buat. Tetapi cerpen, novel, hikayat, drama, dongeng, dan lain-lain seringkali hanyalah hasil kreasi daya khayal seorang pengarang, yang sebenarnya cerita itu sendiri tak pernah terjadi.

Hal-hal yang berkaitan dengan narasi :
– Berbentuk cerita atau kisahan
– Menonjolkan pelaku
– Menurut perkembangan dari waktu ke waktu
– Disusun secara sistematis

Jenis-jenis paragraf narasi :
– Narasi ekspositorik (narasi teknis), adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.
– Narasi sugestif, adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.

2.  Paragraf Deskripsi
Menggambarkan sesuatu (objek) secara terperinci atau mendetil sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat, mendengar, dan merasakannya sendiri. Paragraf deskripsi mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu bertujuan untuk melukiskan suatu objek. Paragraf ini berisi gambaran mengenai suatu hal/ keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

Paragraf deskripsi selalu berusaha melukiskan dan mengmukakan sifat, tingkah laku seseorang, suasana dan keadaan suatu tempat atau sesuatu yang lain. Misalnya, suasana kampung yang begitu damai, tenteram, dan saling menolong, dapat dilukiskan dalam karangan deskripsi. Juga suasana hiruk pikuk ketika terjadi kebakaran, dapat pula disajikan dalam bentuk deskripsi.

3.  Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi adalah Paragraf yang berusaha menerangkan suatu hal atau suatu gagaan. Dalam memaparkan sebuah ide pokok, kita dapat menjelaskan dan melengkapinya dengan memberi keterangan yang cukup atau dapat pula mengembangkannya sehingga menjadi luas dan gampang dimengerti. Memaparkan tentang sesuatu dengan tujuan memberi informasi (menambah wawasan).

Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.

Langkah menyusun eksposisi :
– Menentukan topik/ tema
– Menetapkan tujuan
– Mengumpulkan data dari berbagai sumber
– Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
– Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

4. Paragraf Argumentasi
Mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta. Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Paragraf argumentasi atau persuasi merupakan jenis karangan yang paling sukar bila dibandingkan dengan tiga jenis yang telah diuraikan di muka. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa jenis karangan argumentasi ini lebih penting dan lebih berharga daripada jenis karangan narasi, deskripsi, atau eksposisi. Karangan argumentasi lebih sukar karena pada jenis karangan ini pengarang wajib mengemukakan argumentasi (alasan), bukti atau contoh yang dapat meyakinkan, sehingga terpengaruh dan membenarkan gagasan, pendapat, sikap, dan keyakinannya. Untuk meyakinkan orang lain agar terpengaruh dan kemudian bertindak seperti yang diinginkan, tentu ada persyaratannya.

Pengarang harus berpikir secara kritis dan logis. Dia harus terbuka menerima pendapat orang lain, lalu menganalisis dan mempertimbangkannya secara baik dan rasional. Agar apat mengajukan argumentasi, pengarang sudah pasti harus memiliki pengetahuan dan pandangan yang cukup luas tentang hal yang diperbincangkan.

Kelogisan berpikir, keterbukaan sikap dan keluasan pandangan terhadap masalah yang diperbincangkan , akan banyak sekali peranannya untuk mempengaruhi orang lain. Maka ini semua merupakan persyaratan yang diperlukan untuk membikin karangan argumentasi.itulah sebabnya, tadi dikatakan karangan argumentasi atau persuasi itu lebih sukar. Kecuali lebih sukar, karangan argumentasi juga lebih beresiko karena karangan ini berpendapat dan berusaha meyakinkan orang lain, maka sangat boleh jadi pengarangnya berbeda atau bahkan berlawanan pendapat dengan pembaca.

Sementara itu, jenis karangan narasi, deskripsi, atau eksposisi, resiko yang dihadapi dihadapi pengarang biasanya relatif lebih kecil.

Langkah menyusun argumentasi :
– Menentukan topik/ tema
– Menetapkan tujuan
– Mengumpulkan data dari berbagai sumber
– Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
– Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi

5. Paragraf Persuasi
-Paragraf yang bertujuan untuk meyakinkan dan membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Karangan yang berisi ajakan kepada pembaca dengan menyampaikan alasan, contoh, dan bukti yang meyakinkan sehingga pembaca membenarkannya dan bersedia melaksanakan ajakan hal-hal yang baik demi kepentingan masyarakat banyak.

Giri-ciri persuasi :
– Harus menimbulkan kepercayaan pendengar/pembacanya.
– Bertolak atas pendirian bahwa pikiran manusia dapat diubah.
– Harus menciptakan persesuaian melalui kepercayaan antara. pembicara/penulis dan yang diajak berbicara/pembaca.
– Harus menghindari konflik agar kepercayaan tidak hilang dan tujuan tercapai.
– Harus ada fakta dan data secukupnya.
– Ditinjau dari segi medan pemakaiannya, karangan persuasi dibagi menjadi empat macam, yaitu :
– Persuasi politik
– Persuasi pendidikan
– Persuasi advertensi
– Persuasi propaganda

Demikian ulasan mengenai Paragraf dan Jenis-jenis Paragraf, semoga bermanfaat ya, terima kasih sudah membaca.