Thomas Todo Golo dalam opininya di harian Pos Kupang (2 Mei 2013) mengutip pernyataan Jus Badudu, pendekar bahasa Indonesia tahun 1980-an dari Universitas Padjadjaran Bandung yang dimuat harian Kompas. Lewat Kompas (1986) Jus Badudu menyatakan betapa besarnya sumbangan orang-orang NTT dalam proses pembakuan bahasa Indonesia. Badudu bahkan menyebut sumbangan orang-orang NTT sekitar 60-70 %.

Badudu mencatat, sumbangan orang NTT dalam proses pembakuan bahasa Indonesia berkat jasa ilmuwan bahasa, wartawan, dan sastrawan. Disebutkannya sejumlah nama yang berjasa itu, yakni Gorys Keraf, Marcel Beding, Valens Doy, Gerson Poyk, Dami N. Toda, dan Julius Sijaranamual. Dari 6 nama ini, tinggal sastrawan Gerson Poyk yang masih hidup.

Pada momen peringatan Bulan Bahasa pada Oktober 2015 ini, saya mau mengangkat sekaligus mengenang jasa besar Gorys Keraf, ilmuwan bahasa dari NTT. Gorys Keraf lahir pada 17 November 1936 di Lamalera, Lembata. Meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 di Jakarta dalam usia 61 tahun. Menyelesaikan SD di Lamalera, SMP di Seminari Hokeng (1954), SMAK Syuradikara Ende (1958), Fakultas Sastra Universitas Indonesia (FSUI), Jakarta (1964). Gelar Doktor dalam bidang linguistik pada 1978 dengan promotor Amran Halim, J.W.M. Verhaar, dan E.K.M. Masinambouw. Judul disertasinya Morfologi Dialek Lamalera (1978). Gelar profesor dari Universitas Indonesia pada 1991.

Tahun 1970-an dan 1980-an, Gorys Keraf adalah nama besar dalam dunia pengajaran bahasa Indonesia. Namanya paling banyak dikenal para pelajar dan mahasiswa. Bukunya yang pertama berjudul Tatabahasa Indonesia (1970) membuat namanya meroket cakrawala ilmu bahasa dan tata bahasa Indonesia. Namanya terus melambung menyusul terbit bukunya yang kedua Komposisi (1971).

Gorys Keraf adalah ilmuwan bahasa dan dosen sejati. Sejak meraih gelar Sarjana Sastra (1964), Gorys Keraf memilih jadi dosen di FS UI sampai akhir hayatnya tahun 1997. Selain dosen di FS UI (S1, S2, dan S3), juga dosen di FISIP UI, Pascasarjana Hukum UI, Universitas Trisakti, dan Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Sebanyak 174 judul buku tata bahasa Indonesia yang diteliti Bambang. Hasil penelitiannya berjudul “Menguak Alisjahbana dan Keraf: Pengajaran Bahasa Indonesia,” dimuat dalam Majalah Basis (Nomor 12, Tahun XXXVI, 1987, halaman 457-477).

Hasil penelitian Bambang menunjukkan, dari 174 buku tata bahasa Indonesia yang pernah terbit selama 82 tahun di Indonesia, “hanya” dua buku yang paling banyak dibaca dan paling berpengaruh di Indonesia. Sebagian besar orang Indonesia mengenal bahasa Indonesia dari dua buku itu. Daya tahan pemakaian masing-masing buku lebih dari 25 tahun.

Pertama, buku Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia (jilid 1 dan 2) karangan Sutan Takdir Alisjahbana atau STA (Penerbit Dian Rakyat, Jakarta, 1949). Kedua, buku Tatabahasa Indonesia karangan Gorys Keraf (Penerbit Nusa Indah, Ende, 1970). Menurut Bambang, kedua buku ini “pengaruhnya begitu mendalam merasuki relung-relung pengajaran bahasa Indonesia!”

Buku “tata bahasa STA” (1949) sampai tahun 1981 (selama 32 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-43 (jilid 1) dan cetak ulang ke-30 (jilid 2). Sementara itu, buku “tata bahasa Gorys Keraf” yang terbit tahun 1970, sampai dengan tahun 1984 (selama 14 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-10, dan sampai beliau meninggal dunia pada 30 Agustus 1997 (selama 27 tahun) telah mengalami cetak ulang ke-15.

Jumlah buku tata bahasa Gorys Keraf yang beredar di masyarakat jauh melampaui jumlah yang terdata, karena sebagian besar buku ini dijual ilegal di pasaran bebas. Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) pada tahun 1988 pernah mensinyalir, buku paling banyak dibajak dan dijual secara ilegal di pasaran bebas adalah Tatabahasa Indonesia karangan Gorys Keraf.

Keperkasaan buku tata bahasa Gorys Keraf sampai tahun 1990. Pamornya mulai meredup tatkala Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1988). Sejak tahun 1990 sampai dengan tahun 2015 ini (selama 25 tahun), tidak ada lagi buku tata bahasa Indonesia yang pengaruhnya sebesar buku STA dan Gorys Keraf.

Karya Gorys Keraf dalam bentuk buku adalah Tatabahasa Indonesia (1970), Komposisi (1971), Eksposisi dan Deskripsi (1981), Argumentasi dan Narasi (1982), Diksi dan Gaya Bahasa (1984), Linguistik Bandingan Historis (1984), Linguistik Bandingan Tipologis (1990), Tata Bahasa Rujukan Bahasa Indonesia (1991), Cakap Berbahasa Indonesia (1995), dan Fasih Berbahasa Indonesia (1996).

Kemuculan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang disusun Tim 8 Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B Jassin menuai kontroversi.

Di dunia maya, kalangan aktivis sastra mempertanyakan metode pemilihan tokoh yang dipilih Tim 8. Bahkan tak sedikit kalangan yang mempertanyakan terpilihnya Denny JA menjadi salah satu tokoh tersebut. Karya-karya Denny JA melalui puisi esainya dinilai tidak berpengaruh sama sekali.

Namun, Tim 8 memiliki penilaian sendiri melalui perdebatan sengit pihak internal atas siapa saja yang berhak masuk dalam 33 tokoh tersebut. Jamal D. Rahman, ketua Tim 8 sebagai penyusun buku mengatakan pihaknya bukan menilai melalui karya sastrawan semata.

Dia memberi contoh, banyak karya sastrawan seperti Danarto dan Seno Gumira Ajidarma yang sangat baik dan diakui oleh publik. Tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia sangat kurang.

Adapula, katanya, karya yang dihasilkan sastrawan biasa saja, tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan sastra Indonesia menjadi perdebatan dan polemik yang cukup berkepanjangan.

Adapun, ke-33 tokoh sastra Indonesia paling berpangaruh yang menuai pro dan kontra tersebut antara lain:
1. Kwee Tek Hoay
2. Marah Roesli
3. Muhammad Yamin
4. HAMKA
5. Armijn Pane
6. Sutan Takdir Alisjahbana
7. Achdiat Karta Mihardja
8. Amir Hamzah
9. Trisno Sumardjo
10. H.B. Jassin
11. Idrus
12. Mochtar Lubis
13. Chairil Anwar
14. Pramoedya Ananta Toer
15. Iwan Simatupang
16. Ajip Rosidi
17. Taufik Ismail
18. Rendra
19. NH. Dini
20. Sapardi Djoko Damono
21. Arief Budiman
22. Arifin C. Noor
23. Sutardji Calzoum Bachri
24. Goenawan Mohammad
25. Putu wijaya
26. Remy Sylado
27. Abdul Hadi W.M.
28. Emha Ainun Nadjib
29. Afrizal Malna
30. Denny JA
31. Wowok Hesti Prabowo
32. Ayu Utami
33. Helvi Tiana Rosa

Setiap era selalu melahirkan generasi penulis populer dengan berbagai karya yang fenomenal dan memberi nuansa yang berbeda bagi dunia sastra Indonesia. Setiap penulis memiliki ciri khas tersendiri dalam karyanya baik itu novel, cerita pendek, fiksi, naskah drama maupun lainnya. Jalan cerita yang unik dengan para tokoh yang berkarakter dan kuat merupakan salah satu faktor yang membuat karya si penulis laris manis.

Berikut ini adalah beberapa penulis di tahun 2000an dengan karya-karya populernya:

  1. Raditya Dika

    Dika Angkasaputra Moerwani atau dikenal dengan nama Raditya Dika ini lahir di Jakarta, 28 Desember 1984; umur 29 tahun, akrab dipanggil Radith, adalah seorang penulis asal Indonesia.Raditya Dika dikenal sebagai penulis buku-buku jenaka. Tulisan-tulisan itu berasal dari blog pribadinya yang kemudian dibukukan. Buku pertamanya berjudul Kambing Jantan masuk kategori best seller. Buku tersebut menampilkan kehidupan Dikung (Raditya Dika) saat kuliah di Australia. Tulisan Radith bisa digolongkan sebagai genre baru. Kala ia merilis buku pertamanya tersebut, memang belum banyak yang masuk ke dunia tulisan komedi. Apalagi bergaya diari pribadi.

    Beberapa hasil karya Raditya Dika mulai dari Novel, Penulis Skenario, sampai menjadi Sutradara yang ia hasilkan yaitu:
    Novel – Kambing Jantan: Sebuah Catatan Harian Pelajar Bodoh (2005), Cinta Brontosaurus (2006), Radikus Makankakus: Bukan Binatang Biasa (2007), Babi Ngesot: Datang Tak Diundang Pulang Tak Berkutang (2008), Marmut Merah Jambu (2010), Manusia Setengah Salmon (2011).
    Skenario – Maling Kutang (2009), Cinta Brontosaurus (2013), Manusia Setengah Salmon (2013), Marmut Merah Jambu (2014).
    Sutradara – Marmut Merah Jambu (2014), Malam Minggu Miko The Movie (2014).

  2. Dewi Lestari

    Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee ini lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976; umur 38 tahun. Dee adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia, di mana pertama kali dikenal masyarakat sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi. Ia merupakan alumnus SMA Negeri 2 Bandung dan lulusan Universitas Parahyangan, jurusan Hubungan Internasional.Berbagai karyanya menjadi best seller. Yang monumental adalah Supernova yang pertama dirilis pada 2001, Filosofi Kopi, Rectoverso, Perahu Kertas, dan Madre. Beberapa karya Dee yang diangkat ke layar lebar misalnya Perahu Kertas, Rectoverso, dan Madre.

    Beberapa hasil karya Dewi Lestari dan tahun pembuatannya yang ia hasilkan yaitu:
    Karya – Novel Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh (2001), Novel Supernova: Akar (2002), Kumpulan Prosa dan Puisi “Filosofi Kopi” (2003), Novel Supernova: Petir (2004), Kumpulan Cerita Rectoverso (2008), Novel Perahu Kertas (2009), Kumpulan Cerita Madre (2011), Novel Supernova: Partikel (2012), Novel Supernova: Gelombang (2014).

  3. Andrea Hirata

    Andrea Hirata terlahir dengan nama Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun ini lahir di Belitung, 24 Oktober 1976; umur 38 tahun. Andrea adalah novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia. Ia berasal dari Pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah Laskar Pelangi.Andrea Hirata menggebrak dunia sastra di Indonesia dengan debutnya yang sangat fenomenal yaitu Laskar Pelangi. Setelah Laskar Pelangi menjadi best seller, dia kembali melahirkan karya yang tidak kalah mengagumkan yakni Sang Pemimpi, Edensor, dan Maryamah Karpov.

    Beberapa hasil karya Andrea Hirata dan tahun pembuatannya yang ia hasilkan yaitu:
    Karya – Laskar Pelangi (2005), Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007), Maryamah Karpov (2008), Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas (2010), Sebelas Patriot (2011), Laskar Pelangi Song Book (2012).

  4. Habiburrahman El Shirazy

    Habiburrahman El Shirazy lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30 September 1976; umur 38 tahun adalah novelis nomor 1 Indonesia, dinobatkan oleh Insani Universitas Diponegoro. Selain novelis, sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, dan penyair. Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Hongkong, Taiwan dan Australia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan menumbuhkan semangat berprestasi pembaca.Habiburrahman El Shirazy di kenal sebagai novelis yang selalu mengangkat nilai-nilai religius dalam setiap karyanya. Ayat-Ayat Cinta (2004) merupakan salah satu karyanya yang sangat fenomenal yang kemudian diangkat ke layar lebar, dan mencetak rekor box office.

    Beberapa hasil karya Habiburrahman El Shirazy dan tahun pembuatannya yang ia hasilkan yaitu:
    Karya – Ayat-Ayat Cinta (2004), Pudarnya Pesona Cleopatra (2004), di Atas Sajadah Cinta (2006), Dalam Mihrab Cinta (2007), Ketika Cinta Bertasbih (2009), Ketika Cinta Bertasbih 2 (2009), Bumi Cinta (2010).

Penulis-penulis terkenal di atas hanyalah beberapa dari penulis yang terkenal lain nya. Sebenarnya masih banyak penulis yang tak kalah hebat dan populer dari mereka. Sungguh miris, di jaman sekarang, banyak generasi muda yang enggan mengikuti jejak mereka menjadi penulis. Mungkin mereka lebih nyaman dengan gadget dan permainan game online daripada menggoreskan tinta emas di sebuah buku.

pramoedya-ananta-toer

6 Penulis Indonesia yang sudah Sampai Mendunia

Ditengah kritikan tajam menyoal budaya membaca di indonesia dan produktifitas karya tulis menulisnya, berikut ini penulis kepunyaan Indonesia yang sudah sampai mendunia :

Berikut ini Penulis penulis indonesia yang sudah sampai mendunia :

1. Pramoedya Ananta Toer
Siapa yang tak kenal dengan Pram, penulis yang tetap produktif meski dalam penjara. Karyanya yang luar biasa salah satunya adalah Tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh dirinya ditengah keterasingan ketika menjadi tahanan politik di Pulau Buru selama 10 tahun. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 buku dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Prestasinya sebagai sastrawan kebanggaan Indonesia membuatnya diganjar dengan berbagai penghargaan internasional seperti Fredom to Write Award dari PEN American Center, penghargaan dari The Fund for Free Expression, Wertheim Award, Ramon Magsaysay Award, UNESCO Madanjeet Singh Prize dan masih banyak lagi.

2. Suwarsih Djojopuspito
Nama ini mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Suwarsih Djojopuspito lahir pada 21 April 1912 merupakan salah satu penulis Indonesia yang hidup dan merasakan masa penjajahan di Indonesia. Semasa hidupnya setidaknya Suwarsih menghasilkan 9 buku yang bukan hanya terbit di Indonesia tetapi juga diakui di negeri Belanda. Karyanya yang terkenal berjudul Manusia Bebas atau Buiten het Gareel dalam bahasa Belanda.

3. Taufik Ismail
Taufik Ismail merupakan salah satu sastrawan kebanggan kita, lahir pada 25 Juni 1935 karya-karyanya diterjemahkan kedalam banyak bahasa salah satunya Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan China. Taufik Ismail dulunya berkuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI (sekarang IPB), akan tetapi kesukaannya terhadap sastra menjadikannya salah satu tokoh penting yang juga turut mendirikan DKJ. Taufik Ismail pernah mendapatkan penghargaan Cultural Visit Award dari Australia, South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand dan masih banyak lagi.

4. Ahmad Thohari
Bagi kamu yang pernah menonton Sang Penari  pasti tahu bahwa film tersebut diangkat dari karya sastra Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Thohari. Sastrawa yang lahir pada 13 Juni 1948 ini pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karyanta telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Selain karyanya yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, Ahmad Thohari pun mendapat penghargaan Sastra ASEAN, SEA Writer Award di tahun 1995.

5. NH Dini
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang akrab kita sebut NH Dini lahir pada 29 Februari 1936 adalah seorang sastrawan, novelis dan feminis Indonesia. Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra ini telah melahirkan lebih dari 20 buku yang banyak bercerita tentang wanita. Karya-karyanya antara lain Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Pertemuan Dua Hati (1986) dan masih banyak lagi yang diambilnya dari realita dan kepekaan terhadap lingkungan. Anaknya, seperti kita tahu Pierre Coffin adalah Sutradara film Despicable Me.

6. Mochtar Lubis
Mochtar Lubis lahir di Padang pada 7 Maret 1922. Karya-karyanya antara lain Perempuan(1956), Kuli Kontrak(1982), Harimau! Harimau! (1975) dan banyak lagi baik cerpen, essai ataupun novel. Mochtar Lubis pernah mendapat penghargaan Magsaysay Award dari Pemerintah Filipina dan Pena Emas dari World Federation of Editor & Publisher.

demikianlah Penulis indonesia yang sudah sampai mendunia.  Namun masih banyak juga sastrawan lainnya yang dimiliki oleh indonesia yang sudah merabah internasional seperti andrea Hirata, Dewi Lestari dan masih banyak lagi. Terus mari kita tingkatkan terus kegemaran dalam membaca maupun menulis. Semoga indonesia bisa menjadi dikenal dunia yang luas dalam karyanya. Terima kasih

keanekaragaman-hayati

Pengertian Tentang keanekaragaman Hayati

Pengertian Keanekaragaman Hayati Banyak para ahli yang memberikan pendapatnya dalam mendefinisikan pengertian keanekaragaman hayati. Namun secara umum, Pengertian Keanekaragaman hayati menurut UU. No. 5 Tahun 1994 adalah keanekaragaman di antara makhluk hidup dari semua sumber termasuk di antaranya daratan, lautan, dan ekosistem akutik lain, serta kompleks-kompleks ekologi yang merupakan bagian dari keanekaragamannya, mencakup keanekaragaman dalam spesies dalam ekosistem. Keanekaragaman hayati disebut juga dengan biodiversitas (biodiversity).

Menurut pendapat Soerjani (1996) yang mengatakan bahwa keanekaragaman hayati menyangkut keunikan suatu spesies dan genetik di mana makhluk hidup tersebut berada. Keanekaragaman hayati disebut unik karena spesies hidup di suatu habitat yang khusus atau makanan yang dimakannya sangat khas. Contohnya komodo (Varanus komodoensis) hanya ada di pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, Gili Dasami, dan Padar; Panda (Ailuropoda melanoleuca) yang hidup di China yang hanya memakan daun bambu; dan koala (Phascolarctos cinereus) yang hidup di Australia yang hanya memakan daun Eucalyptus (kayu putih).

Macam-Macam Keanekaragaman Hayati – Berdasarkan pengertiannya,  keanekaragaman hayati dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu keanekaragaman gen (genetik), keanekaragaman spesies (jenis), dan keanekaragaman ekosistem. Berikut Macam-Macam Keanekaragaman Hayati..

1. Keanekaragaman Gen
Keanekaragaman gen adalah variasi atau perbedaan gen yang terjadi dalam satu jenis atau spesies makhluk hidup. Keanekaragaman gen menyebabkan variasi antarindividu sejenis. Seperti keanekaragaman tanaman padi dan mangga. Tanaman padi terdapat beberapa macam atau varietas seperti IR, PB, kapuas, rojolele, dan sedani. Tanaman mangga memiliki banyak varietas seperti arum manis, manalagi, gadung, dan golek. Keanekaragaman mangga dan padi disebabkan oleh variasi gen.

Perbedaan variasi gen menyebabkan sifat yang tidak tampak (genotipe) dan sifat yang tampak (fenotipe) pada setiap makhluk hidup menjadi berbeda. Variasi makhluk hidup dapat terjadi akibat perkawinan sehingga susunan gen keterunannya berbeda dari susunan gen induknya. Selain itu, variasi makhluk hidup dapat pula terjadi karena interaksi gen dengan lingkungan.

2. Keanekaragaman Spesies
Keanekaragaman spesies adalah perbedaan yang dapat ditemukan pada komunitas atau kelompok berbagai spesies yang hidup di suatu tempat. Keanekaragaman hayati antarspesies (tingkat spesies) mudah diamati karena perbedaannya mencolok. Sebagai contoh, keanekaragaman antara kurma, sagu dan kelapa. Meskipun tumbuh-tumbuhan itu merupakan satu kelompok tumbuhan palem-paleman, masing-masing memiliki fisik yang berbeda dan hidup di tempat yang berbeda. Seperti kelapa tumbuh di pantai, kurma tumbuh di daerah kering dan sagu tumbuh di pegunungan basah (rawah gambut).

Contoh lain adalah variasi antara singa, kucing, dan harimau. Ketiga hewan teramsuk dalam satu kelompok kucing.  Namun singa, kucing dan harimau terdapat perbedaan fisik, habitat dan tingkah laku.

3. Keanekaragaman Ekosistem
Keanekaragaman ekosistem adalah suatu interaksi antara komunitas dan lingkungan abiotiknya pada suatu tempat dan waktu tertentu. Semua makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungannya yang berupa faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik meliputi makhluk hidup seperti tumbuhan atau hewan lain. Faktor biotik seperti cahaya, tanah, iklim, suhu, air, dan kelembapan (disebut juga faktor fisik); serta salinitas, tingkat keasaman, dan kandungan mineral (disebut faktor kimia).