Pengertian Karya Sastra

Karya Sastra adalah penciptaan disampaikan kepada komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering mengatakan, baik di pertama atau ketiga orang, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang berhubungan dengan waktu mereka.

Bentuk Karya Sastra

Ada beberapa fungsi sastra, salah satunya disampaikan oleh amriyan Sukandi adalah untuk mengkomunikasikan ide-ide dan menyalurkan pikiran dan perasaan dari pembuat estetika manusia. Gagasan itu disampaikan melalui mandat yang umumnya ada dalam literatur.

Selain ide, dalam literatur ada juga deskripsi peristiwa, gambar psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Hal ini dapat menjadi sumber ide dan inspirasi bagi pembaca. Konflik dan tragedi yang digambarkan dalam karya sastra untuk memberikan kesadaran kepada pembaca bahwa ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata dan dialami langsung oleh pembaca.

Kesadaran yang membentuk semacam kesiapan batin untuk mengatasi kondisi sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sastra juga berguna untuk pembaca sebagai media hiburan.

Jenis-jenis Karya Sastra

Puisi – Karya sastra yang terikat oleh bait dan array, kata singkat tapi kaya makna, kata-kata yang tidak fulgar tapi dibungkus dengan kekerasan, baik klise atau tidak klise.

Pantun – Berasal dari Sumatera, Indonesia. Sajak terikat oleh garis pada setiap baris, dengan rumus abab. Pada pertama dan kedua baris adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.

Roman – Fiksi yang menceritakan kisah hidup seseorang pemuda dari masa kanak-kanak sampai mati, atau dari bayi sampai dewasa. Roman adalah karya sastra lama.

Novel – Bentuk sastra yang menceritakan kisah fiksi kehidupan seseorang yang dianggap mengesankan. Misalnya, hanya memberitahu remaja untuk orang dewasa. Semua karakter dalam novel adalah fiktip belaka, tetapi disesuaikan dengan waktu ketika cerita itu ditulis. Jadi terjadi seakan-akan itu terjadi pada saat itu. Novel ini termasuk sastra modern.

Cerpen – Seperti namanya, cerita pendek biasanya terdiri dari 2-5 lembar kertas folio atau ukuran F4. Cerita pendek hanya menceritakan peristiwa yang paling berkesan yang menimpa tokoh utama.

Dongeng – Cerita lama yang biasanya tidak diketahui anonim, mengatakan hanya dari mulut ke mulut. Meskipun kini telah dikumpulkan dalam bentuk tertulis. Di masa lalu sudah menjadi kebiasaan ketika orang tua menceritakan kisah membuai dia. Sekarang hampir tidak ada orang tua mendongeng kepada anak-anak mereka.

Legenda – Sebenarnya hampir sama dengan dongeng, tidak diketahui siapa penulisnya. Namun legenda mengatakan tempat asal atau kisah kerajaan kuno. Misalnya “Sangkuriang” menceritakan asal-usul Gunung Maras.

Naskah Drama – Cerita lengkap dengan adegan dan dialog dari karakter. Dalam bermain aktor yang terorganisasi dengan baik cerita tentang bagaimana berbicara, adegan, dan ekspresi di wajahnya. Drama biasanya dimulai dengan prolog. Selain dialog antara para pemain, ada juga monolog karakter. Monolog adalah karakter berbicara dengan dirinya sendiri.

SASTRAWAN SOSIALITA

Dalam Kondisi kesusastraan indonesia Muktahir, ujaran Roland Barthes dalam The Death Author yang berbunyi, “Penulis mati setelah karya tercipta”, seolah tidak berlaku lagi. Penulis,dalam hal ini sastrawan, ternyata menolak mati. Nmaun dengan keras kepala, ia memilih tetap hidup untuk menyiarkan karyanya yang telah tercipta, sekalian berusaha membuat dirinya terus menerus muncul di depan umum, bahkan melebihi kemunculan pembahasan tentang karya itu. Inilah masa ketika lampu sorot lebih tertuju kepada sastrawan dari pada karyanya.

Jika semula ajang sosialita hanya menjadi rutinitas pergaulan perempuan elit perkotaan untuk berbagi cerita sambil memamerkan barang terbaru masing-masing dan mengudap makanan ala kafe atau restoran mahal, kini sebagian sastrawan pun melakukannya.

Dalam era budaya populer, sastrawan bukan lagi makhluk penyendiri yang gemar bersunyi-sunyi dalam ruang sempit serupa Manusia Kamar dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma, melainkan sudah menjadi bagian dari apa yang oleh Jean Baudrillard dalam The Consumer Society: Myth and Structures diistilahkan sebagai drugstore atau pusat perdagangan baru.

Di tempat dimana semua kebutuhan, mulai dari barang belanjaan, makanan hingga seni-budaya dan hiburan tersedia, di salah satu sudut kafe atau pusat kebudayaannya, sebagian sastrawan biasanya berkumpul untuk bertukar kabar terbaru setelah lelah menghasilkan karya yang dianggap babon atau usai menghadiri undangan pertunjukan sana-sini. Inilah tapal yang menandai kelahiran sastrawan sosialita.

Dulu, pena adalah senjata andalan penulis untuk melahirkan karya. Kini, para sastrawan sosialita membutuhkan lebih dari sekadar perangkat untuk mencipta karya sebab ia menolak mati setelahnya. Kehadiran gadget pun menjadi penting. Dengan gadget, sastrawan sosialita bisa terus unjuk diri agar keberadaaannya terjaga.

Tak mengherankan jika kemudian jumlah pengikut seorang sastrawan sosialita di media sosial menjadi penting untuk mengukuhkan posisinya. Selain itu, agar tak kehilangan oksigen untuk tetap hadir dan diperhitungkan, ruang hidup baru lewat rupa-rupa acara sosialita terus dicarinya. Salah satunya lewat pekan gembira.

Pekan Gembira

Beberapa tahun terakhir ini, acara semacam pekan gembira untuk para penulis sastra kian marak digelar di Indonesia. Sebut saja Ubud Writers and Reader Festival, Makassar International Writers Festival, Borobudur Writers and Cultural Festival, Salihara Literary Biennale, hingga Asean Literary Festival. Acara-acara tersebut bukan semata sebagai ajang para sastrawan bertemu dan berbincang sastra, tetapi juga sebagai ajang bersosialita.

Merujuk pada penamaan pekan gembira yang memakai bahasa Inggris, hal tersebut tentu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kegiatan itu bukanlah acara kumpul-kumpul biasa. Bahasa, dalam kajian Gayatri Spivak dalam The Burden of English, bukan semata rangkaian kata yang digetarkan oleh lidah, melainkan mengandung ideologi tertentu.

Ketika bahasa Inggris, yang diakui sebagai bahasa dunia dan pernah menjadi bahasa kolonial, dipakai dalam penyebutan sebuah acara yang diadakan di negara-bukan-berbahasa Inggris maka hal tersebut sudah pasti bukan untuk gagah-gagahan semata, melainkan demi menampilkan pesan “internasional” yang ada di dalamnya.

Tentu saja, makna “internasional” bukan merujuk pada negara Kamerun, Libia atau Nepal misalnya, tetapi Eropa atau Amerika Serikat. Dengan melihat acara ini sebagai pintu masuk untuk menjadi bagian dari komunitas penulis “internasional”, tak urung banyak sastrawan sosialita mengajukan diri ikut serta.

Ironisnya, mereka rela bersaing satu sama lain untuk masuk ke dalam daftar tampil yang hanya menyediakan tempat sebagai penampil “kelas dua”, mendampingi penulis internasional yang sebenarnya; bangga menjadi penulis yang “dianak-tirikan” di negerinya sendiri.

Tak bisa dimungkiri, pekan gembira penulis internasional telah dijadikan jaminan “naik kelas” oleh para sastrawan sosialita dalam jenjang karir kepengarangan mereka. Seorang sastrawan sosialita merasa perlu menyebutkan sederet rekam-jejak acara pekan gembira penulis “internasional” mana saja yang pernah dihadirinya demi keinginan untuk tampil lebih besar daripada karyanya sendiri. Serupa makna kata “sosialita” yang berasal dari kata “sosial” dan “elit”, dengan mengikuti kegiatan “sosial” semacam itu maka seorang sastrawan sosialita berharap menjadi bagian “elit” sastra Indonesia dan dunia (Barat).

Ketika Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Poerbotjaraka, Sutomo, dan Ki Hajar Dewantara berkumpul lewat majalah Pujangga Baru, Suara Umum, Pewarta Deli dan Wasita, lahirlah apa yang dikenal sebagai Polemik Kebudayaan. Beberapa tahun kemudian, ketika Chairil Anwar, Sitor Situmorang dan Angkatan ’45 yang lain bertemu dan berbincang bersama maka lahirlah Surat Kepercayaan Gelanggang. Tidak begitu lama setelah peristiwa itu, ketika A.S. Dharta, M.S. Ashar, Henk Ngantung, Joebar Ajoeb dan seniman kiri lain berkumpul, lahirlah Manifesto Lekra.

Sekarang, ketika para sastrawan sosialita berkumpul dalam acara yang berlabel internasional maka apa yang mereka hasilkan tiada lain hanyalah manifesto foto unjuk diri di media sosial dengan wajah sumringah karena merasa telah menjadi bagian dari penulis dunia (Barat).

karangan

Pengertian dan Jenis-jenis Karangan Sesuai Dengan Isinya

Jenis-jenis karangan sangat beragam bisa dilihat dari berbagai sisi, mulai dari sis jenis karangan menurut bobot isinya, sisi jenis karangan dilihat dari cara penyampaiannya, juga tujuan penyampaiannya. Bagi yang sedang menjalani studi dan membutuhkan materi jenis-jenis karangan ini, semoga artikel ini bisa memberikan pencerahan.

Pengertian dan Jenis-jenis Karangan

Mengarang berarti ‘menyusun’ atau ‘merangkai‘. Pada dasarnya mengarang tidak hanya dalam bentuk tertulis. Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara,misalnya dalam sebuah diskusi atau berpidato secara serta-merta (impromptu), otaknya terlebih dahulu harus megarang sebelum mulutnya berbicara. Pada saat berbicara, sang pembicara itu sebenarnya “bekerja keras” mengorganisasikan isi pembicaraanya agar teratur, terarah/terfokus, sambil memikir-mikirkan susunan kata, pilihan kata, struktur kalimat; bahkan cara penyajiannya (misalnya deduktif atau induktif; klimaks atau antiklimaks).

Jadi, Karangan adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topik tahu pokok bahasan.Setiap karangan yang ideal pada prinsipnya mrerupakan uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari alinea.

Jenis Karangan menurut Bobot Isinya :

1. Karangan Ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.(Eko Susilo, M. 1995:11).

Tujuan karangan ilmiah, diantaranya:
– Memberi penjelasan
– Memberi komentar atau penilaian
– Memberi saran
– Menyampaikan sanggahan, serta membuktikan hipotesa.

Jenis-jenis karangan ilmiah, diantaranya :

a. Skripsi
Skripsi ialah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain yang didukung dengan data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung; observasi lapangan atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan.

b. Tesis
Tesis adalah jenis karya ilmiah yang bobot ilmiahnya lebih dalam dan tajam dibandingkan skripsi. Ditulis untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Penyususnan Tesis dituntut kemampuan untuk menggunakan istilah tehnis; dari istilah sampai tabel, dari abstrak sampai bibliografi.

c. Disertasi
Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.Peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya.

2. Karangan Semi Ilmiah
Karangan semi ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan. Penulisannya menggunakan konsep yang tidak formal karena tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah. Penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Contoh Karangan Semi Ilmiah :
– opini
– editorial
– resensi
– anekdot
– hikayat
– Feature

Ciri-ciri Karangan Semi-Ilmiah :
Emotif : kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
– Persuasif : penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
– Deskriptif : pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.

3.  Karangan Non Ilmiah
Karangan Non Ilmiah (Fiksi) adalah satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Karangan non-ilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya formal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis.

Ciri-ciri :
– Bersifat persuasif
– Ditulis berdasarkan fakta pribadi
– Fakta yang disimpulkan subyektif
– Bersifat imajinatif
– Gaya bahasa konotatif dan populer
– Situasi didramatisir
– tidak memuat hipotesis
– Penyajian digabung dengan sejarah
Contoh : cerpen, puisi, novel, komik, dll.

Jenis Karangan menurut Menurut Cara Penyajian dan Tujuan Penyampaiannya :

1. Deskripsi (Pelukisan)
Karangan deskripsi adalah karangan yang memaparkan secara rinci dengan menyertakan bukti-bukti sehingga pembaca seolah-seolah terlibat didalamnya secara langsung.

Ciri-ciri karangan deskripsi :
1. Melibatkan dengan panca indra pembaca
2. Penggunaan objek didapat dengan pengamatan bentuk, warna serta keadaan objek secara langsung
3.  Unsur perasaan lebih tajam daripada pikiran

2. Narasi (Pengisahan)
Karangan narasi ialah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa yang biasanya disusun menurut urutan waktu.Yang termasuk narasi ialah cerpen, novel, roman, kisah perjalanan, biografi, dan autobiografi.

Ciri-ciri karangan Narasi
– Menyajikan serangkaian berita atau kejadian
– Disajikan dalam urutan waktu serta kejadian yang menunjukkan peristiwa awal sampai akhir
– Menampilkan pelaku peristiwa atau kejadian
– Latar (setting) digambarkan secara hidup dan terperinci

3. Eksposisi (Pemaparan)
Karangan Eksposisi adalah karangan yang menjelaskan, menerangkan, memberitahukan suatu masalah atau objek agar orang lain mengetahuinya.

Ciri-ciri karangan Eksposisi :
– Menjelaskan informasi agar pembaca mengetahuinya
– Menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (daya faktual)
– Tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak
– Menunjukkan analisis atau penafsiran secara objektif terhadap fakta yang ada
– Menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi tentang proses kerja sesuatu

4. Argumentasi (Pembahasan)
Karangan argumentasi adalah karangan yang mengutarakan alasan yang bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Ciri-ciri karangan Argumentasi :
– Berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan pengarang sehingga kebenaran itu diakui oleh pembaca
– Pembuktian dilengkapi dengan data, fakta, grafik, tabel, gambar
– Dalam argumentasi pengarang berusaha mengubah sikap, pendapat atau pandangan pembaca
– Dalam membuktikan sesuatu, pengarang menghindarkan keterlibatan emosi dan menjauhkan subjektivitas
– Dalam membuktikan kebenaran pendapat pengarang, kita dapat menggunakan bermacam-macam pola pembuktian.

5. Persuasi (Pengajakan)
Karangan persuasi bertujuan untuk mengajak atau mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu untuk tujuan tertentu.

6. Campuran (Kombinasi)
Karangan Campuran Merupakan sebuah karangan murni , misalnya eksposisi atau persuasi, sering ditemukan karangan campuran atau kombinasi. Isinya dapat merupakan gabungan eksposisi dengan deskripsi, atau eksposisi dengan argumentasi.

Orang yang merangkai atau menyusun kata, kalimat, dan alinea tidak disebut membuat karangan jika tidak sesuai dengan kaidah yang ada. Demikian mengenai Jenis-jenis karangan yang ada di dalam bahasa Indonesia. Terima Kasih.