BAHASA DAN SASTRA INDONESIA DI MATA DUNIA

Indonesia merupakan negara kepulauan di Asia, tepatnya di Asia Tenggara. Tentunya, Indonesia adalah negara tercinta bagi kita semua. Selain merupakan negara kepulauan, Indonesia adalah negara dengan keberagaman suku terbesar di dunia dan dilengkapi dengan penggunaan bahasa yang tiap suku memiliki ciri khas masing-masing. Ada suku Dayak, Jawa, Toraja, Batak, Bugis, Aceh, Betawi, Manado, dan lain-lain hidup dan tumbuh bersama menjalin sebuah persaudaraan walau terbentang jarak antar pulau yang saling memisahkan, namun mereka tetap Indonesia. Suatu kebanggaan bagi kita sebagai bangsa Indonesia. Tak lepas dari keberagaman bahasa tersebut, tentu hanya bahasa Indonesia sajalah sebagai bahasa pemersatu kita semua. Ya, Itulah bahasa kebanggaan kita, bahasa Indonesia.

Bahasa dan sastra adalah satu kesatuan yang tidak akan terlepas tetap saling mengisi. Karakter sebuah bangsa bisa ditentukan melalui bahasa dan sastra sebagai media seninya. Namun, Kondisi masyarakat dan bangsa Indonesia saat ini, dengan berbagai masalah nasional yang timbul akibat melemahnya karakter bangsa, telah mendorong pemerintah untuk mengambil inisiatif pada tahun 2010 untuk mengarustamakan pembangunan karakter bangsa. Pembangunan tersebut harus senantiasa diiringi dengan penguatan rasa kebangsaan. Dengan semangat kebangsaan yang kuat, cerminan karakter Indonesia akan muncul dalam segala aktivitas yang ditujukan bagi peningkatan kualitas bangsa. Jalur pendidikan mengambil peran penting dalam upaya pencapaian tujuan ini. Sebagai alat ekspresi diri pribadi, alat ekspresi diri makhluk sosial, alat ekspresi diri warga negara, dan alat ekspresi diri profesional, bahasa menjadi kebutuhan dasar dalam dunia pendidikan. Bahasa memiliki peran penting dalam pembentukan karakter seseorang. Jika perspektif peran bahasa dipadukan dalam proses pendidikan guru, bahasa berperan sebagai alat pengembangan kompetensi pendidik. Melalui pembelajaran bahasa yang integratif dengan didasari pemahaman historis filosofis tentang Indonesia yang berlandaskan kearifan lokal, semangat nasional, dan wawasan global, semangat kebangsaan dapat tumbuh untuk memperkuat karakter Indonesia.

Pengaruh globalisali berusaha menawarkan liberalisasi dibidang; agama, budaya, ekonomi, konstitusi, kesehatan, pendidikan bahkan bahasa jika hal ini dibiarkan dapat menggerus jati diri bangsa Indonesia dan dapat melunturkan sikap nasionalisme anak bangsa. Hanya bangsa kreatif yang akan mampu bertahan, dalam arti menemukan jati dirinya. Jati diri bangsa kita adalah Pancasila, yang meliputi beberapa hal yaitu; kepedulian, pengertian, serta nilai-nilai berdasarkan nilai-nilai inti dari Pancasila. Oleh karena itu, optimalisasi bahasa dan sastra di Indonesia harus terus diupayakan semaksimal mungkin, untuk dapat mengembangkan seluruh aspek pendidikan seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik dan adanya perilaku moral yang dapat dimengerti oleh peserta didik. Pendekatan komprehensip dengan menerapkan semua aspek pendidikan pengembangan karakter bangsa.

Berbicara tentang bahasa, adalah salah satu kata yang terdengar tidak asing di telinga kita. Terlebih lagi kita sering menggunakannya sebagai salah satu-satunya alat ekpresi diri dan komunikasi. Dan tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak akan pernah luput dari yang namanya bahasa. Ia selalu dibutuhkan oleh manusia dalam pembentukan masyarakat. Tanpa bahasa, masyarakat tidak akan terwujud. Karena ia merupakan sistem lambang bunyi ujaran yang digunakan untuk berkomunikasi oleh masyarakat pemakainya. Bahasa yang baik berkembang berdasarkan suatu sistem, yaitu seperangkat aturan yang dipatuhi oleh pemakainya. Dan bahasa juga merupakan bagian kebudayaan yang sangat penting, bahkan bisa dikatakan sebagai pondasi dasar dari kebudayaan. Ia akan membuka berbagai pintu dan jendela dunia, sehingga akan tampak beragam corak dan budi pekerti suatu bangsa.

Bahasa terdiri atas kata-kata atau kumpulan kata. Masing-masing mempunyai makna, yaitu, hubungan abstrak antara kata sebagai lambang dengan objek atau konsep yang diwakili Kumpulan kata atau kosakata itu oleh ahli bahasa disusun secara alfabetis, atau menurut urutan abjad,disertai penjelasan artinya dan kemudian dibukukan menjadi sebuah kamus atau leksikon. Pada waktu kita berbicara atau menulis, kata-kata yang kita ucapkan atau kita tulis tidak tersusun begitusaja, melainkan mengikuti aturan yang ada. Untuk mengungkapkan gagasan, pikiran atau perasaan, kita harus memilih kata-kata yang tepat dan menyusun kata-kata itu sesuai dengan aturan bahasa. Seperangkat aturan yang mendasari pemakaian bahasa, atau yang kita gunakan sebagai pedoman berbahasa inilah yang disebut tata bahasa.

Sementara sastra yang berasal dari bahasa Sansekerta (Shastra) merupakan kata serapan yang berarti “teks yang mengandung intruksi” atau “pedoman”, dari kata dasar ‘Sas’ yang berarti “intruksi” atau “ajaran” dan ‘Tra’ yang berarti “alat” atau “sarana”. Dalam bahasa indonesia, kata ini bisa digunakan untuk merujk kepada “keusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Selain itu, dalam dunia kesusastraan, sastra terbagai menjadi dua. Yaitu tulisan dan lisan. Tulisan bisa dikatakan sebagai karya yang lahir dari tangan-tangan penulis dan menciptakan warna tersendiri untuk menambah khasanah sastra, sementara lisan merupakan wadah atau alat untuk mengungkapkan isi dari sastra yang telah diciptakan tadi.

Menurut Mursal Esten (1978:9), Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia, (dan masyarakat) melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Sementara Plato mengungkapkan bahwa sastra sebagai karya tulisan yang halus merupakan karya yang mencatat bentuk bahasa dengan berbagai cara, yaitu dipadatkan, didalamkan, dibelitkan, dipanjangtipiskan, dan diterbalikkan serta dijadikan ganjil. Dari kedua teori dari para ahli tadi dapat kita rasakan bahwa sastra sejatinya tidak terikat atura. Ia mengalir bagaikan air yang deras di sungai. Mengungkapkan kata-kata yang indah dengan imajinasi yang kreatif, sehingga menghasilkan mahakarya yang bisa dinikmati oleh banyak orang.

Bahasa dan sastra merupakan ilmu dan seni. Dikatakan sebagai ilmu, karena bisa dipelajari. Selanjutnya, disebut sebagai seni, karena dapat digunakan dengan memperhatikan berbagai faktor keindahan yang dapat mewarnai bentuk bahasa yang digunakan. Selain sebagai ilmu dan seni, bahasa dan sastra merupakan alat utama, media pengungkap rasa, ide, pikiran, dan gagasan. Karenanya, keduanya merupakan cermin jiwa penggunanya. Sebagai media pengungkap rasa, pikiran, dan gagasan, bahasa berperan penting di dalam mengolah jiwa. Sekalipun ruhani seseorang sedang gundah gulana, tetapi jika kegundahan itu dilahirkan dengan kesejukan berbahasa, maka yang keluar, yang muncul di permukaan adalah karakter kedamaian. Sebaliknya pula, meski jiwa seseorang dalam keadaan tenang, tetapi apabila diekspresikan mengundang konflik, maka yang lahir di permukaan pun adalah kekacauan. Dengan demikian, betapa besar bahasa dan sastra itu berpengaruh terhadap pembentukan karakter seseorang. Membentuk karakter adalah membentuk jati diri.

Menilik histori pada zaman penjajahan dahulu, kita pasti menyadari bahwa banyak yang sudah diambil oleh para penjajah kita. Salah satunya adalah kekayaan ilmu tentang bahasa dan sastra Indonesia. Bahkan diketahui bahwa bahasa indonesia merupakan salah satu bahasa yang paling banyak digunakan. Percaya atau tidak Bahasa Indonesia sudah digunakan di 45 negara di dunia. Dan akibat hal tersebut bahasa Indonesia menempati peringkat ke 10 dalam hal bahasa yang paling banyak di pelajari di berbagai negara yang ada di dunia ini. (viva.co.id). Bahasa indonesia pun menjadi bahasa populer di beberapa negara, seperti Australia, Jepang, Vietnam, dan bahkan Bahasa Indonesia diyakini sangat berpeluang menjadi bahasa resmi ASEAN (republika.co.id)

Berbeda dengan negara kita sendiri, “tuan rumah” dari Bahasa Indonesia. Kita tahu bahwa bangsa Indonesia terbentuk dari beraneka ragam suku, budaya, agama, dan bahasa. Bangsa Indonesia merupakan cermin kemajemukan yang ditunjang dengan berbagai simbol pemersatu bangsa. Salah satu pemersatu itu adalah bahasa Indonesia. Namun, masalah yang dihadapi bangsa ini adalah kondisi kebahasaan di Indonesia yang cukup memprihatinkan, terutama penggunaan bahasa Indonesia. Penggunaan bahasa Indonesia di tempat umum, seperti nama bangunan, nama kompleks perumahan, nama pusat perbelanjaan, serta nama hotel dan restoran, sudah mulai marak menggunakan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Nama tempat yang seharusnya menggunakan nama berbahasa Indonesia, tetapi menggunakan kata asing itu menunjukkan mulai lunturnya jati diri keindonesiaan. Kondisi seperti itu harus kita sikapi dengan arif agar kita tidak menjadi asing di negeri sendiri.

Nah, untuk memcahkan masalah ini, semua elemen harus bersatu padu, agar bahasa kita sendiri sebagai bahasa pemersatu bangsa tidak hilang ditelan masa. Salah satunya adalah dengan Penanaman cinta bahasa kepada anak bangsa haruslah dari sejak dini, hingga perguruan tinggi secara optimal melalui; materi pembelajaran yang berkaitan dengan keterampilan siswa dalam berbahasa dengan memanfaatkan berbagai media belajar, metode, pendekatan, strategi pembelajaran, maupun evaluasi pembelajaran. Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia berperan sangat penting didalam menjaga keutuhan dan rasa persatuan Indonesia, karena bahasa Indonesia telah ditetapkan sebagai perekat kebersamaan dan sebagai salah satu simbol jati diri bangsa. Hal itu sejalan dengan semboyan “Bahasa Menunjukkan Bangsa”.

Upaya optimalisasi pembelajaran oleh guru bahasa dan sastra Indonesia dengan menyeserasikan antara metode pembelajaran yang diterapkan dengan kemampuan yang dimiliki oleh tenaga pendidik dengan pengajaran aktif, inovatif, kreatif, effektif, gembira dan menyenangkan serta pemilihan materi pembelajaran yang digali dari nilai luhur bangsa akan membentuk jati diri siswa yang kelak mampu menghadapi kehidupan dimasa depan yang bermartabat dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

SASTRAWAN SOSIALITA

SASTRAWAN SOSIALITA

Dalam Kondisi kesusastraan indonesia Muktahir, ujaran Roland Barthes dalam The Death Author yang berbunyi, “Penulis mati setelah karya tercipta”, seolah tidak berlaku lagi. Penulis,dalam hal ini sastrawan, ternyata menolak mati. Nmaun dengan keras kepala, ia memilih tetap hidup untuk menyiarkan karyanya yang telah tercipta, sekalian berusaha membuat dirinya terus menerus muncul di depan umum, bahkan melebihi kemunculan pembahasan tentang karya itu. Inilah masa ketika lampu sorot lebih tertuju kepada sastrawan dari pada karyanya.

Jika semula ajang sosialita hanya menjadi rutinitas pergaulan perempuan elit perkotaan untuk berbagi cerita sambil memamerkan barang terbaru masing-masing dan mengudap makanan ala kafe atau restoran mahal, kini sebagian sastrawan pun melakukannya.

Dalam era budaya populer, sastrawan bukan lagi makhluk penyendiri yang gemar bersunyi-sunyi dalam ruang sempit serupa Manusia Kamar dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma, melainkan sudah menjadi bagian dari apa yang oleh Jean Baudrillard dalam The Consumer Society: Myth and Structures diistilahkan sebagai drugstore atau pusat perdagangan baru.

Di tempat dimana semua kebutuhan, mulai dari barang belanjaan, makanan hingga seni-budaya dan hiburan tersedia, di salah satu sudut kafe atau pusat kebudayaannya, sebagian sastrawan biasanya berkumpul untuk bertukar kabar terbaru setelah lelah menghasilkan karya yang dianggap babon atau usai menghadiri undangan pertunjukan sana-sini. Inilah tapal yang menandai kelahiran sastrawan sosialita.

Dulu, pena adalah senjata andalan penulis untuk melahirkan karya. Kini, para sastrawan sosialita membutuhkan lebih dari sekadar perangkat untuk mencipta karya sebab ia menolak mati setelahnya. Kehadiran gadget pun menjadi penting. Dengan gadget, sastrawan sosialita bisa terus unjuk diri agar keberadaaannya terjaga.

Tak mengherankan jika kemudian jumlah pengikut seorang sastrawan sosialita di media sosial menjadi penting untuk mengukuhkan posisinya. Selain itu, agar tak kehilangan oksigen untuk tetap hadir dan diperhitungkan, ruang hidup baru lewat rupa-rupa acara sosialita terus dicarinya. Salah satunya lewat pekan gembira.

Pekan Gembira

Beberapa tahun terakhir ini, acara semacam pekan gembira untuk para penulis sastra kian marak digelar di Indonesia. Sebut saja Ubud Writers and Reader Festival, Makassar International Writers Festival, Borobudur Writers and Cultural Festival, Salihara Literary Biennale, hingga Asean Literary Festival. Acara-acara tersebut bukan semata sebagai ajang para sastrawan bertemu dan berbincang sastra, tetapi juga sebagai ajang bersosialita.

Merujuk pada penamaan pekan gembira yang memakai bahasa Inggris, hal tersebut tentu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kegiatan itu bukanlah acara kumpul-kumpul biasa. Bahasa, dalam kajian Gayatri Spivak dalam The Burden of English, bukan semata rangkaian kata yang digetarkan oleh lidah, melainkan mengandung ideologi tertentu.

Ketika bahasa Inggris, yang diakui sebagai bahasa dunia dan pernah menjadi bahasa kolonial, dipakai dalam penyebutan sebuah acara yang diadakan di negara-bukan-berbahasa Inggris maka hal tersebut sudah pasti bukan untuk gagah-gagahan semata, melainkan demi menampilkan pesan “internasional” yang ada di dalamnya.

Tentu saja, makna “internasional” bukan merujuk pada negara Kamerun, Libia atau Nepal misalnya, tetapi Eropa atau Amerika Serikat. Dengan melihat acara ini sebagai pintu masuk untuk menjadi bagian dari komunitas penulis “internasional”, tak urung banyak sastrawan sosialita mengajukan diri ikut serta.

Ironisnya, mereka rela bersaing satu sama lain untuk masuk ke dalam daftar tampil yang hanya menyediakan tempat sebagai penampil “kelas dua”, mendampingi penulis internasional yang sebenarnya; bangga menjadi penulis yang “dianak-tirikan” di negerinya sendiri.

Tak bisa dimungkiri, pekan gembira penulis internasional telah dijadikan jaminan “naik kelas” oleh para sastrawan sosialita dalam jenjang karir kepengarangan mereka. Seorang sastrawan sosialita merasa perlu menyebutkan sederet rekam-jejak acara pekan gembira penulis “internasional” mana saja yang pernah dihadirinya demi keinginan untuk tampil lebih besar daripada karyanya sendiri. Serupa makna kata “sosialita” yang berasal dari kata “sosial” dan “elit”, dengan mengikuti kegiatan “sosial” semacam itu maka seorang sastrawan sosialita berharap menjadi bagian “elit” sastra Indonesia dan dunia (Barat).

Ketika Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Poerbotjaraka, Sutomo, dan Ki Hajar Dewantara berkumpul lewat majalah Pujangga Baru, Suara Umum, Pewarta Deli dan Wasita, lahirlah apa yang dikenal sebagai Polemik Kebudayaan. Beberapa tahun kemudian, ketika Chairil Anwar, Sitor Situmorang dan Angkatan ’45 yang lain bertemu dan berbincang bersama maka lahirlah Surat Kepercayaan Gelanggang. Tidak begitu lama setelah peristiwa itu, ketika A.S. Dharta, M.S. Ashar, Henk Ngantung, Joebar Ajoeb dan seniman kiri lain berkumpul, lahirlah Manifesto Lekra.

Sekarang, ketika para sastrawan sosialita berkumpul dalam acara yang berlabel internasional maka apa yang mereka hasilkan tiada lain hanyalah manifesto foto unjuk diri di media sosial dengan wajah sumringah karena merasa telah menjadi bagian dari penulis dunia (Barat).

Dunia Sastra di Masa Paling Kelam Sejarah Indonesia

dunia sastra

Dunia Sastra di Masa Paling Kelam Sejarah Indonesia

Sastrawan – Pada tahun 1950-an Sejumlah seniman muda berkumpul. Mereka hendak mempersoalkan kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan RI.

Untuk menindaklanjuti orientasi itu, para seniman muda ini kemudian mengeluarkan ‘Surat Kepercayaan Gelanggang’ pada 18 Februari 1950. Isinya menyikapi persoalan kebudayaan sekaligus‎ menunjukkan orientasi kebudayaan mereka.

“Mereka memperkuat, bahkan mengembangkan pendapat Sutan Takdir Alisjahbana. Bahwa orientasinya bukan ke Barat saja, tapi mendunia,” ‎tulis Asep Sambodja dalam bukunya Historiografi Sastra Indonesia 1960-an.

‎Cuma selang 6 bulan kemudian, tepatnya 17 Agustus 1950, lahir organisasi resmi yang fokus pada bidang budaya. Namanya Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Nama-nama besar di Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah penggagas dari lahirnya Lekra. Sebut saja DN Aidit, MS Ashar, dan AS Dharta. ‎Meski ada orang-orang itu, namun mayoritas anggota Lekra bukan berasal dari PKI.

‎Sejak ‘mengudara’ setelah 10 tahun kelahirannya, Lekra menjadi ‘penguasa’ dalam dunia kebudayaan Indonesia, khususnya kesusastraan. Apalagi, Lekra memang dikenal dekat dengan PKI dan kekuasaan Orde Lama di bawah kepemimpinan Sukarno.

Pada 1960 itu, selain Lekra ada 3 kelompok ‎sastrawan lainnya. Sastrawan Manifes Kebudayaan, sastrawan yang berafiliasi pada partai politik, dan sastrawan independen. Namun, perseteruan meruncing hanya menyisakan Lekra dan Manifes yang bertarung pada tataran ideologi dan paham yang dianut.

“2 kelompok lain cenderung bersimpati pada Manifes Kebudayaan,” kata sastrawan sekaligus dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia ini.

‎Perseteruan kedua kelompok sastrawan ini juga berujung pada karya-karya yang mereka lahirkan. Pengaruh kedekatan dengan kekuasaan, membuat Lekra ‘meminjam’ tangan penguasa untuk membungkam sastrawan Manifes. Hasilnya, Sukarno melarang Manikebu pada 8 Mei 1964. Termasuk karya-karya sastra mereka dilarang beredar. Alasan pelarangan itu, karena Manifes dianggap kontrarevolusi.

‎Dari sinilah, dunia kesusastraan Indonesia memasuk‎i masa-masa paling kelam dalam sejarahnya. Sebab, hanya berselang kurang lebih setahun, meletuslah peristiwa yang juga tak kalah suram dalam sejarah Ibu Pertiwi. Peristiwa 30 September.

PKI dituding sebagai dalang di balik penculikan 6 jenderal plus 1 perwira muda tentara Angkatan Darat dalam peristiwa itu. Dampaknya, PKI kemudian harus dibumihanguskan. Termasuk semua yang berkaitan dan berafiliasi dengan partai ‘Palu dan Arit’ itu. Tak terkecuali Lekra.

Hal yang dirasakan Manifes dirasakan pula oleh para sastrawan Lekra pascaperistiwa yang membawa Jenderal Soeharto dari Pangkostrad menjadi Presiden ke-2 Indonesia itu.

Bandul Berbalik

Manifes semacam berbalik menjadi ‘penguasa’ atas dunia kesusastraan Indonesia. Seiring dengan Soeharto menjadi penguasa Tanah Air selama 32 tahun.

Ajip Rosidi dalam Laut Biru Langit Biru mengibaratkan ‎keadaan itu sebagai bandul pada lonceng. Yang tadinya menimpa sisi yang satu pada lonceng sampai menimbulkan bunyi, kini berbalik menimpa sisi yang satunya lagi dengan menimbulkan bunyi yang serupa.

“Demikianlah hukum bandul lonceng‎,” kata Ajip.

Ajip menyebut, setelah satu ekstremitas yang hanya mengakui realisme-sosialis sebagai paham–yang digenggam Lekra, kini meloncat pada ekstremitas lain yang hanya mengakui dan menghargai karya-karya yang bersifat eksperimental saja. Ya, tak ada peredaran karya-karya sastra ciptaan para sastrawan Lekra selama Orde Baru berkuasa.

Berbeda dengan karya-karya sastrawan Manifes–yang bebas beredar di toko buku, dibaca, dan menjadi koleksi perpusatakaan-perpustakaan sekolah–semua karya sastrawan Lekra dilarang ‘keluar’. Bahkan untuk sekadar mejeng di etalase-etalase toko buku saja haram hukumnya. Lebih dari itu, banyak karya mereka yang dirampas oleh aparat dan dibakar.

Soal perampasan dan pembakaran itu tanyakan saja pada Pramoedya Ananta Toer, novelis ‘nyaris’ peraih Nobel. Pram tak bisa berbuat banyak saat menyaksikan karya-karyanya dirampas atau dibakar dari perpustakaan pribadinya di rumahnya saat penangkapan pada 13 Oktober 1965. Sedikitnya ada 8 naskah tulisan yang belum sempat diterbitkan tak luput disita, tak diketahui nasibnya sampai sekarang.

Inilah masa paling kelam bagi kesusastraan Indonesia yang menenggelamkan ‘harta karunnya’ dan membuat rugi kesusastraan Indonesia itu sendiri. Seperti Asep tulis:

“Ada yang hilang dalam sejarah sastra Indonesia 1960-an itu, yakni aset budaya yang luar biasa. Dan alangkah ruginya kita jika karya sastra yang telah dihasilkan oleh sastrawan-sastrawan Lekra itu dibiarkan tetap berada di kamar‎ yang tertutup rapat dan terlarang. Yang makin lama akan lenyap dimakan rayap.”

Pantun, Kekhasan Bangka yang Nyaris Tenggelam

Pantun-Bangka-Belitung

Pantun, Kekhasan Bangka yang Nyaris Tenggelam

Bangsa Melayu bangsa pujangga, gembiranya dalam senyum, marahnya tetap santun, dan bicaranya menggunakan pantun. Ungkapan itu tidaklah berlebihan bila kita datang ke Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Masyarakat di sana memang senang berpantun, tak terkecuali ketika senang maupun lara. Pendek kata Bangka bisa diibaratkan bagai samudera pantun.

Terbang tinggi burung gelatik
Mari berhinggap di pohon mati
Pantun adalah puisi klasik
Lebih mudah untuk dimengerti

Begitulah penggalan pantun yang diucapkan seorang warga yang tengah bertamasya di taman rekreasi di Bangka. Dia pun kembali berpantun ketika melihat hamparan sawah.

Pagi hari turun ke sawah
Makan padi anak tekukur
Pantun sangat berguna bagi kita
Salah satu sebabnya, menghibur

Kairo adalah salah seorang warga Bangka yang sangat gemar berpantun. Meski berprofesi sebagai tukang parkir, dia tak pernah berhenti berpantun. Tak heran pula bila Kario tidak pernah terlihat murung.

Berbagai keadaan bisa menjadi inspirasi bagi Kario untuk berpantun. Di rumah dia berpantun. Di tempat kerja juga demikian. Bahkan ketika hendak makan dan saat mengurusi burung peliharaannya, lelaki yang juga berprofesi sebagai guru honorer ini pun berpantun.

Buah jambu rasanya kelat
Warnanya merah pohonnya rimbun
Wahai masyarakat
Hendaklah kita rajin berpantun

Bahkan pantun di Bangka meresap sampai ke berbagai sendi kehidupan. Tapi, itu dahulu. Kini tak sedikit orang Bangka yang memilih menjadi penambang timah maupun pengrajin kerupuk. Memang, sekarang Bangka lebih dikenal sebagai penghasil kerupuk dan timahnya.

Dahulu, pantun bisa dihadirkan di mana saja tanpa melihat bobot acaranya. Namun, seiring waktu, seni bertutur ini jarang sekali terdengar di tengah masyarakat. Di pesta pernikahan, misalnya.

Kondisi ini jelas memprihatinkan. Padahal bahasa pantun sangat cair dan tidak lekang waktu. Sebab itu, untuk melestarikan kebudayaan yang sudah turun temurun ini, banyak sekolah di Bangka mewajibkan murid-muridnya untuk membudayakan pantun, baik di ruang kelas maupun saat istirahat.

Batang rambutan buahnya lebat
Buahnya lebat pohonnya rimbun
Walaupun Bapak Kario sekolah dasar tidak tamat
Tapi kami senang bisa berpantun

Menurut pujangga, pantun adalah bentuk puisi tradisonal yang terdiri atas empat baris serangkap, empat perkataan sebaris, mempunyai rima a-b-a-b dengan beberapa variasi dan pengecualian. Tiap-tiap rangkap terbagi dua rangkap pembayang atau sampiran dan maksud. Setiap rangkap tidak dapat berdiri sendiri, memerlukan beberapa rangkap lain untuk melengkapkan keseluruhan ide.

Namun kekuatan sebuah pantun terletak pada cara pengungkapan yang santun dan halus. Ketika manusia kehilangan pola dalam bertutur, maka yang terjadi adalah ungkapan keinginan dan gejolak. Kekuatan sebuah pantun adalah warisan adat istiadat yang sarat dengan nilai-nilai.

Siapa penulis asli Shakespeare?

Penulis

Siapa penulis asli Shakespeare?

Sejumlah aktor teater kawakan di Inggris termasuk Sir Derek Jacobi dan Mark Rylance meluncurkan debat tentang siapa yang sebenarnya menulis karya-karya sastra yang dikatakan ditulis oleh William Shakespeare.

Hampir 300 orang telah menandatangani “deklarasi keraguan yang beralasan”, yang mereka harap akan mendorong penelitian lebih lanjut tentang isu ini.

“Saya percaya dengan teori yang mengatakan karya-karya itu adalah kolaborasi sekelompok orang. Saya tidak yakin satu orang saja mampu melakukannya,” kata Sir Derek Jacobi.

Mereka mengatakan tidak ada catatan bahwa Shakespeare menerima bayaran atas karya-karyanya.

Sementara dokumen-dokumen yang ada tentang Shakespeare, yang dilahirkan di kota Stratford-upon-Avon pada tahun 1564, tidak membuktikan bahwa dia seorang penulis.Khususnya surat wasiat yang dia tulis, yang meninggalkan istrinya “tempat tidur nomor dua terbaik saya dengan perabotan”, dan tidak berisi kalimat-kalimat indah yang membuat dia terkenal dan tidak juga menyebut buku, naskah drama atau puisi karyanya.

Keluarga buta huruf

Shakespeare Authorship Coalition yang beranggotakan 287 orang mengatakan drama-drama Shakespeare yang banyak menampilkan rincian tentang hukum tidak mungkin ditulis oleh William Shakespeare, pria kelas bawah, yang berasal dari keluarga buta huruf.

Kelompok ini bertanya mengapa sebagian besar karya drama Shakespeare berlatar keluar kelas atas atau bangsawan, dan mengapa kota Stratford-upon-Avon tidak pernah disebut di dalam karya-karya tersebut.

“Bagaimana dia bisa mengetahui kehidupan bangsawan Italia, dan menggambarkan rinciannya dengan akurat?” tambah kelompok itu.

Teori konspirasi tentang penulis karya Shakespeare yang sebenarnya sudah beredar sejak abad ke-18. Berdasarka teori-teori itu, beberapa orang, termasuk penulis drama Christopher Marlowe, bangsawan Edward de Vere dan Francis Bacon dikatakan menggunakan Shakespeare sebagai nama samaran.

“Menurut saya perkiraan terkuat kemungkinan adalah Edward de Vere, karena si penulis menulis tentang pengalamannya, kehidupannya dan sifatnya,” kata Sir Derek.

Deklarasi itu, yang diresmikan di Teater Minerva di Chichester, Inggris selatan, juga memuat nama 20 tokoh penting yang pernah meragukan karya Shakespeare, termasuk Mark Twain, Orson Welles, Sir John Gielgud dan Charlie Chaplin.

‘Pertanyaan sah’

Salinan deklarasi ini diserahkan kepada Dr William Leahy, dekan Sastra Inggris di Universita Brunel di London dan penyusun jurusan S2 pertama tentang studi tenang siapa penulis karya Shakespeare, yang akan diluncurkan akhir bulan ini.

“Sejak dua tahun ini saja berjuang untuk memasukkan topik ini ke dalam pembahasan akademisi,” kata Dr Leahy.

“Ini adalah pertanyaan sah, karena ada misteri dan pembahasan intelektual akan mendekatkan kita ke inti masalah ini.”

“Saya tidak mengatakan kami akan mendapatkan semua jawabannya. Bukan itu intinya. Tentu saja, di situ letak pertanyaannya.”

Realisme, Tohari, dan Logika Ilmiah

Sastra Indonesia

Realisme, Tohari, dan Logika Ilmiah

Salah satu contoh nyata karya sastra yang kental dengan realisme di Indonesia adalah sastrawan Ahmad Tohari. Karya-karya Ahmad Tohari yang kebanyakan adalah novel bercorak realis. Tohari bisa berbicara kondisi politik tanah air, kebudayaan masyarakat tradisional, psikologi dan batin manusia, intrik, siasat, dan strategi seakan sedang menghadapi suatu peperangan, filsafat hidup, juga berbicara tentang kesenian. Saat membaca karya-karya Tohari tersebut seakan kita melihat Tohari sebagai seorang ilmuwan yang menguasai banyak hal. Tohari bisa tampil seperti filsuf, antropolog, atau seorang guru bangsa. Meski begitu kita tetap merasakan tuturan Tohari tersebut begitu estetis. Kita tak perlu disibukkan dengan istilah-istilah tehnis yang rumit yang membuat kita harus membuka kamus atau ensiklopedi. Tohari telah meramunya dengan begitu indah namun mampu mengajak kita berpikir ilmiah secara menyenangkan bahkan menemukan keasyikan yang luar biasa. Tohari juga seperti tak sedang menggurui meski ia bisa tampil seperti guru yang sedang berdiri mengajar di ruang kelas. Ia mampu merangsang imaginasi kita dan mengajak berpikir ilmiah.

Ketika kita membaca karya master piece nya yang berupa trilogi berjudul Ronggeng Dukuh Paruk misalnya, betapa memukau baik secara tehnis dan isi yang bisa kita gali dari novel tersebut. Penggambaran watak dan karakter serta suasana batin juga tradisi kuat yang dipegang dan diyakini sebuah masyarakat di pedalaman di Banyumas membuat kita seakan sedang membaca sebuah karya antropologi yang dahsyat.

Jejak itu sesungguhnya juga telah terlihat pada karya-karya awal Tohari seperti Kubah dan Lingkar Tanah Lingkar Air yang kental dengan nuansa politis, Tohari seakan sedang mengajak kita menelaah sebuah proses perubahan darn pergolakan tokohnya. Potret yang kuat yang disajikan dengan memukau tentu saja membuat pembaca makin tertarik dan hanyut secara imaginatif dalam irama yang dimainkan Tohari. Pembaca pemula sekalipun tak akan mengalami kesulitan saat membaca novel-novel Tohari, Tohari seakan berbicara dengan orang banyak dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti namun semua memgandung pesan dan bobot yang sangat kuat.

Selain menulis banyak novel yang jumlahnya telah mencapai belasan judul, Tohari juga menulis cerpen, meski produktifitas cerpen Tohari masih kalah jauh dibanding dengan novel-novelnya. Meski begitu cerpen-cerpen Tohari juga mendapat banyak apresiasi. Cerpen Tohari pernah mendapat penghargaan dan menjadi cerpen pilihan terbaik sebuah media massa nasional yang menerbitkan karya pilihan pada setiap tahun.

Beberapa waktu lalu kita kembali disuguhkan cerpen Tohari berjudul “Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus” yang dimuat Kompas pada Minggu, 4 Desember 2016. Tak seperti cerpen-cerpen kontemporer para penulis generasi kini yang penuh dengan permainan kata yang kadang nampak rumit dan begitu tehnis juga dengan menggunakan logika yang memutar-mutar hingga kemudian pembaca harus mengernyitkan kening untuk memahaminya, Tohari justru menggunakan bahasa yang begitu sederhana dan seolah mengalir begitu saja namun sesungguhnya ia sedang berbicara hal yang ilmiah dan sangat mungkin banyak pembaca tak memahami sebelumnya persoalan yang Tohari bahas hingga ia kemudian menjelaskan pada kita.

Lewat cerpen tersebut sesungguhnya Tohari sedang tampil sebagai seorang guru biologi yang sedang menjelaskan secara ilmiah tentang perbedaan anatomi hewan antara kambing dan anjing. Meski Tohari juga menggunakan istilah-istilah biologi lain seperti nama-nama tumbuhan dalam bahasa latin, seakan semua mengalir di logika kita secara ringan dan menyenangkan tanpa kita dipaksa seperti murid yang sedang menghapal keras.

Penjelasan tentang anatomi kambing dan anjing dengan model dialog antara dua tokoh utama tersebut bukan juga hal yang tanpa risiko karena sang perempuan warung juga seakan tampil sebagai seorang murid nakal yang ingin mengganggu penjelasan sang guru. Lewat tokoh “saya” yang sedang menyadarkan sang murid bernama Jubedi yang sedang tak konsentrasi dengan mata pelajaran hingga Jubedi tak sadar jika ia sedang makan sop anjing padahal Jubedi paham benar akan materi tersebut. Tohari ingin mengembalikan konsentrasi sang murid, meski ada murid nakal yang lain sedang mengganggu. Tokoh “saya” pada akhirnya memang tak berhasil menyadarkan Jubedi, itu karena tokoh “saya” memilih cara yang paling halus dan tak langsung saat menegur Jubedi walau sesungguhnya jika cara frontal yang dipilih tokoh “saya” saat menyampaikan pelajaran pada Jubedi, tentu sangat mudah, hanya saja tokoh “saya” mempertimbangkan bahwa ada “perempuan warung” di situ dan tokoh “saya” tentu saja mempertimbangkan aspek psikologis murid nakal tersebut. Jika saja tokoh “saya” kekeuh untuk mengambil sikap frontal, mungkin yang terjadi kemudian akan ada keributan di rumah makan tersebut.

Pada dasarnya Tohari berhasil mengemas pelajaran biologi atau ilmu hayat dalam cerpen tersebut dengan cara yang sederhana namun memukau. Tohari memang seorang guru yang bijaksana yang mengajak kita berpikir ilmiah dengan cara yang menyenangkan. Selain itu Tohari menyampaikan pesan moral yang dalam tanpa perlu menyakiti perasaan siapapun. Barangkali cerpen tersebut bisa menjadi suatu acuan bagi generasi masa kini, bahwa meski kreatifitas, tehnik, dan inovasi dalam karya sastra telah mengalami kemajuan begitu pesat, tapi kita tak boleh lupa jika karya sastra juga memiliki pesan yang harus disampaikan pada pembaca. Karya sastra tentu tak boleh semata sebuah keasyikan para penulisnya namun abai terhadap gagasan yang harus dikomunikasikan pada pembaca. Setiap penulis memang memiliki gaya dan pilihan aliran masing-masing juga memiliki kebebasan untuk menuangkan karya dengan cara yang disukai namun pesan dan nilai tentu saja lebih bermakna jika mengandung universalitas. Penulis dan pembaca sesungguhnya berada pada suatu alur dialektika. Proses dialektik antara penulis dan pembaca akan menentukan seberapa kuat karya bisa diterima dan berpengaruh pada sebuah masyarakat. Penulis tentu memiliki idealisme sendiri, dan itu adalah hak setiap orang, tapi pembaca juga memiliki penilaian yang tak bisa diabaikan. Selera apapun yang dipilih oleh seseorang namun yang pasti dan tak bisa dihindari adalah mampukah penulis dan pembaca bisa saling memahami dan berinteraksi karena bagaimanapun pembaca memiliki tempat yang signifikan pada suatu karya sastra.

Mahasiswa Italia Menyukai Bahasa dan Sastra Indonesia

UNAS_ITALI-8

Mahasiswa Italia Menyukai Bahasa dan Sastra Indonesia

Sebanyak 55 mahasiswa Italia mengikuti kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Napoli Orientale (UNO) yang dibuka sejak tahun 1964.

UNO yang berdiri tahun 1732 itu satu-satunya perguruan tinggi di Italia yang mengajarkan studi ketimuran (oriental studies) memiliki jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, ujar Counsellor Pensosbud, KBRI Roma, Musurifun Lajawa kepada koresponden Antara di London, Inggris, Jumat (16/4).

Musurifun Lajawa mengatakan Dubes RI untuk Italia, Mohamad Oemar, memberikan kuliah umum di hadapan sekitar 70 mahasiswa dan staf pengajar UNO, di Napoli.

Dia mengatakan, mahasiswa tampak antusias mengikuti penjelasan Dubes mengenai perkembangan terakhir dan berbagai capaian Indonesia sejak awal era reformasi 1999, terutama perkembangan demokrasi yang berdampak positif berbagai sektor pembangunan.

Sebelum acara kuliah umum Dubes mengadakan pertemuan dengan Wakil Rektor UNO Urusan Hubungan Luar Negeri, Prof Giuseppe Cataldi yang ingin meningkatkan kerja sama dan menjajaki untuk membuka studi keislaman. Dubes mengatakan Indonesia menyambut baik keinginan Universitas Napoli Orientale (UNO) untuk pengembangan studi bahasa Indonesia dan menjajaki pembukaan studi keislaman dengan fokus Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.

Untuk itu, KBRI Roma mengajak peran serta Depdiknas, perguruan tinggi dan lembaga terkait di Indonesia untuk merealisasikan rencana tersebut. Dubes Oemar menjelaskan implementasi hubungan kerja sama kebudayaan RI-Italia yang ditandatangani 1997 umumnya masih dalam bentuk kerja sama pendidikan, terutama pemberian beasiswa.

Dikatakannya, Pemerintah Indonesia terus mengupayakan perbaikan mutu program beasiswa Darmasiswa RI yang ditawarkan kepada mahasiswa di berbagai negara, termasuk mahasiswa Italia untuk belajar bahasa, seni dan budaya di sejumlah universitas pilihan di Indonesia.

Sebagai tindaklanjutnya, KBRI Roma memberikan kesempatan kepada mantan penerima Darmasiswa, termasuk dari UNO untuk magang di KBRI Roma untuk mengetahui perkembangan Indonesia sambil meningkatkan kemampuan bahasa.  Terkait dengan kerja sama studi keislmanan, Dubes Oemar dan Prof Cataldi sepakat menjajaki kerja sama antara UNO dengan mitranya di Indonesia dalam bentuk petukaran dosen dan mahasiswa serta riset bersama.

Sebagai langkah awal, KBRI Roma akan membantu mengupayakan kunjungan pakar Islam Indonesia yang melakukan lawatan di Italia atau negara tetangga untuk memberikan kuliah umum di UNO mengenai Islam di Indonesia.

Kuliah umum Dubes dan staf KBRI Roma di UNO merupakan suatu tradisi yang telah berlangsung sejak masa-masa awal pembukaan studi bahasa Indonesia di UNO. Prof Faizah Soenoto, pakar bahasa Indonesia yang pensiun tahun ini telah membesarkan studi bahasa Indonesia di UNO selama 45 tahun. Posisinya saat ini digantikan Prof Antonia Soriente, bekas murid dan asistennya, yang menyelesaikan studi tingkat pascasarjananya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1995.

Tentang Sastra Indonesia

sastra-indonesia

Tentang Sastra Indonesia

Puisi dan prosa tulisan dalam bahasa Jawa, Melayu, Sunda, dan bahasa lain dari bangsa Indonesia. Mereka termasuk karya lisan dan kemudian disimpan dalam bentuk tertulis oleh masyarakat Indonesia, sastra lisan, dan literatur modern yang mulai muncul di awal abad 20 sebagai akibat dari pengaruh Barat.

Banyak dari lagu-lagu Indonesia, atau puisi, yang secara lisan oleh profesional imam-penyanyi mewujudkan tradisi yang memiliki fungsi agama. Improvisasi memainkan peran besar dalam jenis puisi, dan ada alasan untuk percaya bahwa dalam bentuknya yang sekarang banyak itu adalah tidak usia yang besar. Bentuk prosa lisan Indonesia sangat bervariasi dan mencakup mitos, cerita hewan dan “dongeng binatang,” dongeng, legenda, teka-teki dan teka-teki, dan anekdot dan cerita petualangan. Pahlawan ilahi dan hewan epik kisah ini menunjukkan pengaruh sastra India dan literatur tertulis budaya tetangga lainnya.

Sastra yang ditulis di Indonesia telah diawetkan dalam berbagai bahasa dari Sumatera (Aceh, Batak, Rejang, Lampong, dan Melayu), dalam bahasa Jawa (Sunda dan Madura serta Jawa), di Bali dan Lombok, dan di lebih bahasa penting dari Sulawesi Selatan (Makassar dan Bugis). Sejauh ini yang paling penting dalam kuantitas dan kualitas adalah literatur dalam bahasa Jawa dan Melayu.

Contoh paling awal dari tanggal sastra Jawa dari ce abad ke-9 atau 10. Posisi penting dalam literatur awal ini ditempati oleh prosa Jawa dan versi puitis dari dua epos Hindu yang besar, Mahabharata dan Ramayana. Orang Jawa juga dipinjam dari puisi pengadilan canggih India dalam bahasa Sanskerta, dalam proses membuatnya Jawa dalam ekspresi, bentuk, dan perasaan.

Ketika Islam mencapai Jawa di abad ke-15, kecenderungan mistis di dalamnya dimasukkan oleh orang Jawa menjadi literatur mereka sendiri nyata mistis agama. pengaruh Muslim terutama subur selama awal abad ke-17 di Aceh, di mana Melayu untuk pertama kalinya menjadi ditulis bahasa sastra penting. Di Jawa, legenda Muslim dari orang-orang kudus digabungkan dengan mitologi dan kosmologi Hindu yang diturunkan untuk menghasilkan karya-karya imajinatif dari narasi sejarah di mana unsur-unsur magis-mistis memainkan peran penting.
Topik serupa

Orang Jawa dan literatur Melayu menurun di bawah pengaruh dominasi kolonial Belanda pada abad ke-18 dan ke-19. Hanya di abad ke-20 melakukan sastra Indonesia modern muncul, terkait erat seperti itu untuk gerakan nasionalis dan ideal baru bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Setelah 1920 sastra Indonesia modern dengan cepat muncul. Muhammad Yamin dan penyair terkemuka lainnya pada saat ini dipengaruhi oleh bentuk dan mode ekspresif Romantis, Parnassian, dan simbolis ayat dari Eropa. Novel Indonesia pertama juga muncul pada tahun 1920 dan 30-an; ini adalah karya khas daerah oleh Abdul Muis dan lain-lain di mana tema sentral adalah perjuangan antara generasi, antara beban menyesakkan tradisionalisme dan dorongan untuk kemajuan modern.

Pada tahun 1933, dengan munculnya review Pudjangga Baru ( “The New Penulis”), generasi baru intelektual mulai menilai apakah untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional atau secara sadar menerima norma-norma Barat dalam upaya untuk membangun budaya modern tapi benar-benar Indonesia. Diskusi ini terganggu oleh pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, yang akhirnya putus generasi yang masih terikat erat dengan situasi kolonial Indonesia. Dengan revolusi nasionalis Indonesia tahun 1945, generasi baru penulis muda sungguh-sungguh nasionalis dan idealis yang mengaku humanisme universal yang datang ke permukaan. inspirasi dan pemimpin mereka adalah penyair besar Chairil Anwar, yang meninggal pada tahun 1949 pada usia 27. Penulis yang paling menonjol muncul saat ini adalah Pramoedya Ananta Toer, yang mendukung revolusi menyebabkan penangkapannya pada tahun 1947 oleh pemerintah kolonial Belanda. Dia menulis novel yang diterbitkan pertamanya, Perburuan (1950; The Fugitive), sementara dipenjara.