Pantun, Kekhasan Bangka yang Nyaris Tenggelam

Pantun-Bangka-Belitung

Pantun, Kekhasan Bangka yang Nyaris Tenggelam

Bangsa Melayu bangsa pujangga, gembiranya dalam senyum, marahnya tetap santun, dan bicaranya menggunakan pantun. Ungkapan itu tidaklah berlebihan bila kita datang ke Pulau Bangka, Provinsi Bangka Belitung. Masyarakat di sana memang senang berpantun, tak terkecuali ketika senang maupun lara. Pendek kata Bangka bisa diibaratkan bagai samudera pantun.

Terbang tinggi burung gelatik
Mari berhinggap di pohon mati
Pantun adalah puisi klasik
Lebih mudah untuk dimengerti

Begitulah penggalan pantun yang diucapkan seorang warga yang tengah bertamasya di taman rekreasi di Bangka. Dia pun kembali berpantun ketika melihat hamparan sawah.

Pagi hari turun ke sawah
Makan padi anak tekukur
Pantun sangat berguna bagi kita
Salah satu sebabnya, menghibur

Kairo adalah salah seorang warga Bangka yang sangat gemar berpantun. Meski berprofesi sebagai tukang parkir, dia tak pernah berhenti berpantun. Tak heran pula bila Kario tidak pernah terlihat murung.

Berbagai keadaan bisa menjadi inspirasi bagi Kario untuk berpantun. Di rumah dia berpantun. Di tempat kerja juga demikian. Bahkan ketika hendak makan dan saat mengurusi burung peliharaannya, lelaki yang juga berprofesi sebagai guru honorer ini pun berpantun.

Buah jambu rasanya kelat
Warnanya merah pohonnya rimbun
Wahai masyarakat
Hendaklah kita rajin berpantun

Bahkan pantun di Bangka meresap sampai ke berbagai sendi kehidupan. Tapi, itu dahulu. Kini tak sedikit orang Bangka yang memilih menjadi penambang timah maupun pengrajin kerupuk. Memang, sekarang Bangka lebih dikenal sebagai penghasil kerupuk dan timahnya.

Dahulu, pantun bisa dihadirkan di mana saja tanpa melihat bobot acaranya. Namun, seiring waktu, seni bertutur ini jarang sekali terdengar di tengah masyarakat. Di pesta pernikahan, misalnya.

Kondisi ini jelas memprihatinkan. Padahal bahasa pantun sangat cair dan tidak lekang waktu. Sebab itu, untuk melestarikan kebudayaan yang sudah turun temurun ini, banyak sekolah di Bangka mewajibkan murid-muridnya untuk membudayakan pantun, baik di ruang kelas maupun saat istirahat.

Batang rambutan buahnya lebat
Buahnya lebat pohonnya rimbun
Walaupun Bapak Kario sekolah dasar tidak tamat
Tapi kami senang bisa berpantun

Menurut pujangga, pantun adalah bentuk puisi tradisonal yang terdiri atas empat baris serangkap, empat perkataan sebaris, mempunyai rima a-b-a-b dengan beberapa variasi dan pengecualian. Tiap-tiap rangkap terbagi dua rangkap pembayang atau sampiran dan maksud. Setiap rangkap tidak dapat berdiri sendiri, memerlukan beberapa rangkap lain untuk melengkapkan keseluruhan ide.

Namun kekuatan sebuah pantun terletak pada cara pengungkapan yang santun dan halus. Ketika manusia kehilangan pola dalam bertutur, maka yang terjadi adalah ungkapan keinginan dan gejolak. Kekuatan sebuah pantun adalah warisan adat istiadat yang sarat dengan nilai-nilai.

Tentang Sastra Indonesia

sastra-indonesia

Tentang Sastra Indonesia

Puisi dan prosa tulisan dalam bahasa Jawa, Melayu, Sunda, dan bahasa lain dari bangsa Indonesia. Mereka termasuk karya lisan dan kemudian disimpan dalam bentuk tertulis oleh masyarakat Indonesia, sastra lisan, dan literatur modern yang mulai muncul di awal abad 20 sebagai akibat dari pengaruh Barat.

Banyak dari lagu-lagu Indonesia, atau puisi, yang secara lisan oleh profesional imam-penyanyi mewujudkan tradisi yang memiliki fungsi agama. Improvisasi memainkan peran besar dalam jenis puisi, dan ada alasan untuk percaya bahwa dalam bentuknya yang sekarang banyak itu adalah tidak usia yang besar. Bentuk prosa lisan Indonesia sangat bervariasi dan mencakup mitos, cerita hewan dan “dongeng binatang,” dongeng, legenda, teka-teki dan teka-teki, dan anekdot dan cerita petualangan. Pahlawan ilahi dan hewan epik kisah ini menunjukkan pengaruh sastra India dan literatur tertulis budaya tetangga lainnya.

Sastra yang ditulis di Indonesia telah diawetkan dalam berbagai bahasa dari Sumatera (Aceh, Batak, Rejang, Lampong, dan Melayu), dalam bahasa Jawa (Sunda dan Madura serta Jawa), di Bali dan Lombok, dan di lebih bahasa penting dari Sulawesi Selatan (Makassar dan Bugis). Sejauh ini yang paling penting dalam kuantitas dan kualitas adalah literatur dalam bahasa Jawa dan Melayu.

Contoh paling awal dari tanggal sastra Jawa dari ce abad ke-9 atau 10. Posisi penting dalam literatur awal ini ditempati oleh prosa Jawa dan versi puitis dari dua epos Hindu yang besar, Mahabharata dan Ramayana. Orang Jawa juga dipinjam dari puisi pengadilan canggih India dalam bahasa Sanskerta, dalam proses membuatnya Jawa dalam ekspresi, bentuk, dan perasaan.

Ketika Islam mencapai Jawa di abad ke-15, kecenderungan mistis di dalamnya dimasukkan oleh orang Jawa menjadi literatur mereka sendiri nyata mistis agama. pengaruh Muslim terutama subur selama awal abad ke-17 di Aceh, di mana Melayu untuk pertama kalinya menjadi ditulis bahasa sastra penting. Di Jawa, legenda Muslim dari orang-orang kudus digabungkan dengan mitologi dan kosmologi Hindu yang diturunkan untuk menghasilkan karya-karya imajinatif dari narasi sejarah di mana unsur-unsur magis-mistis memainkan peran penting.
Topik serupa

Orang Jawa dan literatur Melayu menurun di bawah pengaruh dominasi kolonial Belanda pada abad ke-18 dan ke-19. Hanya di abad ke-20 melakukan sastra Indonesia modern muncul, terkait erat seperti itu untuk gerakan nasionalis dan ideal baru bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Setelah 1920 sastra Indonesia modern dengan cepat muncul. Muhammad Yamin dan penyair terkemuka lainnya pada saat ini dipengaruhi oleh bentuk dan mode ekspresif Romantis, Parnassian, dan simbolis ayat dari Eropa. Novel Indonesia pertama juga muncul pada tahun 1920 dan 30-an; ini adalah karya khas daerah oleh Abdul Muis dan lain-lain di mana tema sentral adalah perjuangan antara generasi, antara beban menyesakkan tradisionalisme dan dorongan untuk kemajuan modern.

Pada tahun 1933, dengan munculnya review Pudjangga Baru ( “The New Penulis”), generasi baru intelektual mulai menilai apakah untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional atau secara sadar menerima norma-norma Barat dalam upaya untuk membangun budaya modern tapi benar-benar Indonesia. Diskusi ini terganggu oleh pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, yang akhirnya putus generasi yang masih terikat erat dengan situasi kolonial Indonesia. Dengan revolusi nasionalis Indonesia tahun 1945, generasi baru penulis muda sungguh-sungguh nasionalis dan idealis yang mengaku humanisme universal yang datang ke permukaan. inspirasi dan pemimpin mereka adalah penyair besar Chairil Anwar, yang meninggal pada tahun 1949 pada usia 27. Penulis yang paling menonjol muncul saat ini adalah Pramoedya Ananta Toer, yang mendukung revolusi menyebabkan penangkapannya pada tahun 1947 oleh pemerintah kolonial Belanda. Dia menulis novel yang diterbitkan pertamanya, Perburuan (1950; The Fugitive), sementara dipenjara.