SASTRAWAN SOSIALITA

SASTRAWAN SOSIALITA

Dalam Kondisi kesusastraan indonesia Muktahir, ujaran Roland Barthes dalam The Death Author yang berbunyi, “Penulis mati setelah karya tercipta”, seolah tidak berlaku lagi. Penulis,dalam hal ini sastrawan, ternyata menolak mati. Nmaun dengan keras kepala, ia memilih tetap hidup untuk menyiarkan karyanya yang telah tercipta, sekalian berusaha membuat dirinya terus menerus muncul di depan umum, bahkan melebihi kemunculan pembahasan tentang karya itu. Inilah masa ketika lampu sorot lebih tertuju kepada sastrawan dari pada karyanya.

Jika semula ajang sosialita hanya menjadi rutinitas pergaulan perempuan elit perkotaan untuk berbagi cerita sambil memamerkan barang terbaru masing-masing dan mengudap makanan ala kafe atau restoran mahal, kini sebagian sastrawan pun melakukannya.

Dalam era budaya populer, sastrawan bukan lagi makhluk penyendiri yang gemar bersunyi-sunyi dalam ruang sempit serupa Manusia Kamar dalam cerpen Seno Gumira Ajidarma, melainkan sudah menjadi bagian dari apa yang oleh Jean Baudrillard dalam The Consumer Society: Myth and Structures diistilahkan sebagai drugstore atau pusat perdagangan baru.

Di tempat dimana semua kebutuhan, mulai dari barang belanjaan, makanan hingga seni-budaya dan hiburan tersedia, di salah satu sudut kafe atau pusat kebudayaannya, sebagian sastrawan biasanya berkumpul untuk bertukar kabar terbaru setelah lelah menghasilkan karya yang dianggap babon atau usai menghadiri undangan pertunjukan sana-sini. Inilah tapal yang menandai kelahiran sastrawan sosialita.

Dulu, pena adalah senjata andalan penulis untuk melahirkan karya. Kini, para sastrawan sosialita membutuhkan lebih dari sekadar perangkat untuk mencipta karya sebab ia menolak mati setelahnya. Kehadiran gadget pun menjadi penting. Dengan gadget, sastrawan sosialita bisa terus unjuk diri agar keberadaaannya terjaga.

Tak mengherankan jika kemudian jumlah pengikut seorang sastrawan sosialita di media sosial menjadi penting untuk mengukuhkan posisinya. Selain itu, agar tak kehilangan oksigen untuk tetap hadir dan diperhitungkan, ruang hidup baru lewat rupa-rupa acara sosialita terus dicarinya. Salah satunya lewat pekan gembira.

Pekan Gembira

Beberapa tahun terakhir ini, acara semacam pekan gembira untuk para penulis sastra kian marak digelar di Indonesia. Sebut saja Ubud Writers and Reader Festival, Makassar International Writers Festival, Borobudur Writers and Cultural Festival, Salihara Literary Biennale, hingga Asean Literary Festival. Acara-acara tersebut bukan semata sebagai ajang para sastrawan bertemu dan berbincang sastra, tetapi juga sebagai ajang bersosialita.

Merujuk pada penamaan pekan gembira yang memakai bahasa Inggris, hal tersebut tentu bertujuan untuk memperlihatkan bahwa kegiatan itu bukanlah acara kumpul-kumpul biasa. Bahasa, dalam kajian Gayatri Spivak dalam The Burden of English, bukan semata rangkaian kata yang digetarkan oleh lidah, melainkan mengandung ideologi tertentu.

Ketika bahasa Inggris, yang diakui sebagai bahasa dunia dan pernah menjadi bahasa kolonial, dipakai dalam penyebutan sebuah acara yang diadakan di negara-bukan-berbahasa Inggris maka hal tersebut sudah pasti bukan untuk gagah-gagahan semata, melainkan demi menampilkan pesan “internasional” yang ada di dalamnya.

Tentu saja, makna “internasional” bukan merujuk pada negara Kamerun, Libia atau Nepal misalnya, tetapi Eropa atau Amerika Serikat. Dengan melihat acara ini sebagai pintu masuk untuk menjadi bagian dari komunitas penulis “internasional”, tak urung banyak sastrawan sosialita mengajukan diri ikut serta.

Ironisnya, mereka rela bersaing satu sama lain untuk masuk ke dalam daftar tampil yang hanya menyediakan tempat sebagai penampil “kelas dua”, mendampingi penulis internasional yang sebenarnya; bangga menjadi penulis yang “dianak-tirikan” di negerinya sendiri.

Tak bisa dimungkiri, pekan gembira penulis internasional telah dijadikan jaminan “naik kelas” oleh para sastrawan sosialita dalam jenjang karir kepengarangan mereka. Seorang sastrawan sosialita merasa perlu menyebutkan sederet rekam-jejak acara pekan gembira penulis “internasional” mana saja yang pernah dihadirinya demi keinginan untuk tampil lebih besar daripada karyanya sendiri. Serupa makna kata “sosialita” yang berasal dari kata “sosial” dan “elit”, dengan mengikuti kegiatan “sosial” semacam itu maka seorang sastrawan sosialita berharap menjadi bagian “elit” sastra Indonesia dan dunia (Barat).

Ketika Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Poerbotjaraka, Sutomo, dan Ki Hajar Dewantara berkumpul lewat majalah Pujangga Baru, Suara Umum, Pewarta Deli dan Wasita, lahirlah apa yang dikenal sebagai Polemik Kebudayaan. Beberapa tahun kemudian, ketika Chairil Anwar, Sitor Situmorang dan Angkatan ’45 yang lain bertemu dan berbincang bersama maka lahirlah Surat Kepercayaan Gelanggang. Tidak begitu lama setelah peristiwa itu, ketika A.S. Dharta, M.S. Ashar, Henk Ngantung, Joebar Ajoeb dan seniman kiri lain berkumpul, lahirlah Manifesto Lekra.

Sekarang, ketika para sastrawan sosialita berkumpul dalam acara yang berlabel internasional maka apa yang mereka hasilkan tiada lain hanyalah manifesto foto unjuk diri di media sosial dengan wajah sumringah karena merasa telah menjadi bagian dari penulis dunia (Barat).

JANGAN SALAH GUNAKAN! BERKARYA SENI BUKAN BERARTI BEBAS ANTI DISIPLIN

jangan slaah

JANGAN SALAH GUNAKAN! BERKARYA SENI BUKAN BERARTI BEBAS ANTI DISIPLIN

“Seniman adalah sebuah tanda dari kehidupan yang melepas bebas suatu kehidupan” -Chairil Anwar, penyair- Namanya juga jagongan, pasti forumnya tidak resmi atau setengah resmi. Apalagi topik jagongannya mengenai soal seni, yang kata orang adalah bagian ekspresi kebebasan. Seni -termasuk seni teater- identik dengan kebebasan. Kalau tidak salah tafsir, hal itu juga tersirat dari quote penyair Chairil Anwar, bahwa seniman adalah sebuah tanda dari kehidupan yang melepas-bebas.

Ungkapan Chairil tersebut tentu bukan sebuah isarat seorang seniman hidup semau kita, akan tetapi sebagaimana Sastrawan Syam Sdp memahami ungkapan Chairil tersebut sebagai sebuah ketidakpercayaan pada apa yang disebutnya sebagai “hukum wahyu” dalam proses kreatif, dimana inspirasi akan datang sendiri pada penyair untuk minta ditulis. Pemahaman demikian oleh Chairil disebut dangkal dan picik, tak lebih dari angin lalu saja.

Untuk menghasilan sebuah karya seni –lebih-lebih karya seni yang baik- seorang seniman harus dibekali sikap disiplin diri. Itulah mengapa, sekali lagi itulah mengapa, Dramawan Andhi Setyo Wibowo, saat berbicara dalam Jagongan Seni di Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FIP Universitas Hasyim Asy’ari “sekuat tenaga” menegaskan, bahwa berkesenian membutuhkan kediplinan yang bisa jadi mengalahkan militer. Kedisiplinan tentu saja bukan hanya monopoli tentara atau militer. Akan tetapi seorang seniman butuh kedisiplinan. Karena itu, tidak kalah dengan militer, seorang seniman adalah sosok yang dituntut untuk disiplin.

Berkarya seni tetap tidak lepas dari proses produksi. Ada sebuah proses penciptaan dan produksi seni, yang di dalamnya sarat dengan time scheduling, proses dan manajemen melahirkan karya seni. Dan hal ini ditemukan dalam setiap berkesenian, apapun bidangnya.

Saya mengutip sebuah cerita penulis sandiwara, roman dan cerita pendek asal Inggris, W Somerset Maugham (1874 – 1965) yang sampai usia tuanya tetap menulis tidak kurang dari 1000 perkataan setiap pagi sebelum sarapan. Meski ia sudah menjadi penulis ternama, ia tetap menulis apapun itu. Ternyata yang dilakukan Maugham berbuah manis, dimana lebih dari 50 bukunya disukai oleh berjuta orang di seluruh dunia. Dengan aktivitas tersebut Maugham dapat menjaga, memperkaya dan lihai meracik kata (ibnumufti.web.id). Begitu juga Penulis Joanne Kathleen Rowling yang jamak kita sapa JK Rowling yang karena keterbatasan dana untuk mengcopy naskah tulisannya, maka ia menyalin naskah tersebut dengan mengetik ulang menggunakan sebuah mesin ketik manual di setiap harinya.

Sama yang disampaikan Cak Kepik (sapaan ini lebih karib untuk Dramawan Andhi Setyo Wibowo) yang mencontohkan, sebuah drama teater juga membutuhkan sebuah proses yang sarat dengan kedisiplinan. Cak Kepik yang sudah malang-melintang di panggung drama tahu betul, antara proses berteater dan disiplin bak ibarat dua sisi keping mata uang yang tidak bisa dilepaskan.

Drama adalah sebuah karya sastra yang dipanggungkan. Dalam memanggungkan sebuah karya sastra dalam sebuah drama teater harus melalui proses produksi, sehingga dibutuhkan tim keproduksian, memerlukan sebuah manajemen waktu yang baik, mulai dari urusan surat-menyurat, penggalian dana, proses dekorasi stage/panggung, penulisan naskah, penyutradaraan, hingga penentuan aktor dalam sebuah casting. Semua itu membutuhkan sebuah kedisiplinan.

Dalam forum Art Exhibition and Literature #1 di Unhasy, Budayawan Binhad Nurrohmat juga mewanti-wanti, bahwa meski seorang sastrawan dewasa ini bisa menulis karya dengan gaya bebas, akan tetapi seorang sastrawan itu lebih dari sekedar asal mengeluarkan kata. Mereka lebih banyak membaca, entah itu buku, manusia, atau alam. Belum lagi, sebelum sebuah karya lahir, diblejeti dalam sebuah forum diskusi sastra untuk mentashih atau menguji sebuah karya sastra.