Siapa penulis asli Shakespeare?

Penulis

Siapa penulis asli Shakespeare?

Sejumlah aktor teater kawakan di Inggris termasuk Sir Derek Jacobi dan Mark Rylance meluncurkan debat tentang siapa yang sebenarnya menulis karya-karya sastra yang dikatakan ditulis oleh William Shakespeare.

Hampir 300 orang telah menandatangani “deklarasi keraguan yang beralasan”, yang mereka harap akan mendorong penelitian lebih lanjut tentang isu ini.

“Saya percaya dengan teori yang mengatakan karya-karya itu adalah kolaborasi sekelompok orang. Saya tidak yakin satu orang saja mampu melakukannya,” kata Sir Derek Jacobi.

Mereka mengatakan tidak ada catatan bahwa Shakespeare menerima bayaran atas karya-karyanya.

Sementara dokumen-dokumen yang ada tentang Shakespeare, yang dilahirkan di kota Stratford-upon-Avon pada tahun 1564, tidak membuktikan bahwa dia seorang penulis.Khususnya surat wasiat yang dia tulis, yang meninggalkan istrinya “tempat tidur nomor dua terbaik saya dengan perabotan”, dan tidak berisi kalimat-kalimat indah yang membuat dia terkenal dan tidak juga menyebut buku, naskah drama atau puisi karyanya.

Keluarga buta huruf

Shakespeare Authorship Coalition yang beranggotakan 287 orang mengatakan drama-drama Shakespeare yang banyak menampilkan rincian tentang hukum tidak mungkin ditulis oleh William Shakespeare, pria kelas bawah, yang berasal dari keluarga buta huruf.

Kelompok ini bertanya mengapa sebagian besar karya drama Shakespeare berlatar keluar kelas atas atau bangsawan, dan mengapa kota Stratford-upon-Avon tidak pernah disebut di dalam karya-karya tersebut.

“Bagaimana dia bisa mengetahui kehidupan bangsawan Italia, dan menggambarkan rinciannya dengan akurat?” tambah kelompok itu.

Teori konspirasi tentang penulis karya Shakespeare yang sebenarnya sudah beredar sejak abad ke-18. Berdasarka teori-teori itu, beberapa orang, termasuk penulis drama Christopher Marlowe, bangsawan Edward de Vere dan Francis Bacon dikatakan menggunakan Shakespeare sebagai nama samaran.

“Menurut saya perkiraan terkuat kemungkinan adalah Edward de Vere, karena si penulis menulis tentang pengalamannya, kehidupannya dan sifatnya,” kata Sir Derek.

Deklarasi itu, yang diresmikan di Teater Minerva di Chichester, Inggris selatan, juga memuat nama 20 tokoh penting yang pernah meragukan karya Shakespeare, termasuk Mark Twain, Orson Welles, Sir John Gielgud dan Charlie Chaplin.

‘Pertanyaan sah’

Salinan deklarasi ini diserahkan kepada Dr William Leahy, dekan Sastra Inggris di Universita Brunel di London dan penyusun jurusan S2 pertama tentang studi tenang siapa penulis karya Shakespeare, yang akan diluncurkan akhir bulan ini.

“Sejak dua tahun ini saja berjuang untuk memasukkan topik ini ke dalam pembahasan akademisi,” kata Dr Leahy.

“Ini adalah pertanyaan sah, karena ada misteri dan pembahasan intelektual akan mendekatkan kita ke inti masalah ini.”

“Saya tidak mengatakan kami akan mendapatkan semua jawabannya. Bukan itu intinya. Tentu saja, di situ letak pertanyaannya.”

Realisme, Tohari, dan Logika Ilmiah

Sastra Indonesia

Realisme, Tohari, dan Logika Ilmiah

Salah satu contoh nyata karya sastra yang kental dengan realisme di Indonesia adalah sastrawan Ahmad Tohari. Karya-karya Ahmad Tohari yang kebanyakan adalah novel bercorak realis. Tohari bisa berbicara kondisi politik tanah air, kebudayaan masyarakat tradisional, psikologi dan batin manusia, intrik, siasat, dan strategi seakan sedang menghadapi suatu peperangan, filsafat hidup, juga berbicara tentang kesenian. Saat membaca karya-karya Tohari tersebut seakan kita melihat Tohari sebagai seorang ilmuwan yang menguasai banyak hal. Tohari bisa tampil seperti filsuf, antropolog, atau seorang guru bangsa. Meski begitu kita tetap merasakan tuturan Tohari tersebut begitu estetis. Kita tak perlu disibukkan dengan istilah-istilah tehnis yang rumit yang membuat kita harus membuka kamus atau ensiklopedi. Tohari telah meramunya dengan begitu indah namun mampu mengajak kita berpikir ilmiah secara menyenangkan bahkan menemukan keasyikan yang luar biasa. Tohari juga seperti tak sedang menggurui meski ia bisa tampil seperti guru yang sedang berdiri mengajar di ruang kelas. Ia mampu merangsang imaginasi kita dan mengajak berpikir ilmiah.

Ketika kita membaca karya master piece nya yang berupa trilogi berjudul Ronggeng Dukuh Paruk misalnya, betapa memukau baik secara tehnis dan isi yang bisa kita gali dari novel tersebut. Penggambaran watak dan karakter serta suasana batin juga tradisi kuat yang dipegang dan diyakini sebuah masyarakat di pedalaman di Banyumas membuat kita seakan sedang membaca sebuah karya antropologi yang dahsyat.

Jejak itu sesungguhnya juga telah terlihat pada karya-karya awal Tohari seperti Kubah dan Lingkar Tanah Lingkar Air yang kental dengan nuansa politis, Tohari seakan sedang mengajak kita menelaah sebuah proses perubahan darn pergolakan tokohnya. Potret yang kuat yang disajikan dengan memukau tentu saja membuat pembaca makin tertarik dan hanyut secara imaginatif dalam irama yang dimainkan Tohari. Pembaca pemula sekalipun tak akan mengalami kesulitan saat membaca novel-novel Tohari, Tohari seakan berbicara dengan orang banyak dengan bahasa yang ringan dan mudah dimengerti namun semua memgandung pesan dan bobot yang sangat kuat.

Selain menulis banyak novel yang jumlahnya telah mencapai belasan judul, Tohari juga menulis cerpen, meski produktifitas cerpen Tohari masih kalah jauh dibanding dengan novel-novelnya. Meski begitu cerpen-cerpen Tohari juga mendapat banyak apresiasi. Cerpen Tohari pernah mendapat penghargaan dan menjadi cerpen pilihan terbaik sebuah media massa nasional yang menerbitkan karya pilihan pada setiap tahun.

Beberapa waktu lalu kita kembali disuguhkan cerpen Tohari berjudul “Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus” yang dimuat Kompas pada Minggu, 4 Desember 2016. Tak seperti cerpen-cerpen kontemporer para penulis generasi kini yang penuh dengan permainan kata yang kadang nampak rumit dan begitu tehnis juga dengan menggunakan logika yang memutar-mutar hingga kemudian pembaca harus mengernyitkan kening untuk memahaminya, Tohari justru menggunakan bahasa yang begitu sederhana dan seolah mengalir begitu saja namun sesungguhnya ia sedang berbicara hal yang ilmiah dan sangat mungkin banyak pembaca tak memahami sebelumnya persoalan yang Tohari bahas hingga ia kemudian menjelaskan pada kita.

Lewat cerpen tersebut sesungguhnya Tohari sedang tampil sebagai seorang guru biologi yang sedang menjelaskan secara ilmiah tentang perbedaan anatomi hewan antara kambing dan anjing. Meski Tohari juga menggunakan istilah-istilah biologi lain seperti nama-nama tumbuhan dalam bahasa latin, seakan semua mengalir di logika kita secara ringan dan menyenangkan tanpa kita dipaksa seperti murid yang sedang menghapal keras.

Penjelasan tentang anatomi kambing dan anjing dengan model dialog antara dua tokoh utama tersebut bukan juga hal yang tanpa risiko karena sang perempuan warung juga seakan tampil sebagai seorang murid nakal yang ingin mengganggu penjelasan sang guru. Lewat tokoh “saya” yang sedang menyadarkan sang murid bernama Jubedi yang sedang tak konsentrasi dengan mata pelajaran hingga Jubedi tak sadar jika ia sedang makan sop anjing padahal Jubedi paham benar akan materi tersebut. Tohari ingin mengembalikan konsentrasi sang murid, meski ada murid nakal yang lain sedang mengganggu. Tokoh “saya” pada akhirnya memang tak berhasil menyadarkan Jubedi, itu karena tokoh “saya” memilih cara yang paling halus dan tak langsung saat menegur Jubedi walau sesungguhnya jika cara frontal yang dipilih tokoh “saya” saat menyampaikan pelajaran pada Jubedi, tentu sangat mudah, hanya saja tokoh “saya” mempertimbangkan bahwa ada “perempuan warung” di situ dan tokoh “saya” tentu saja mempertimbangkan aspek psikologis murid nakal tersebut. Jika saja tokoh “saya” kekeuh untuk mengambil sikap frontal, mungkin yang terjadi kemudian akan ada keributan di rumah makan tersebut.

Pada dasarnya Tohari berhasil mengemas pelajaran biologi atau ilmu hayat dalam cerpen tersebut dengan cara yang sederhana namun memukau. Tohari memang seorang guru yang bijaksana yang mengajak kita berpikir ilmiah dengan cara yang menyenangkan. Selain itu Tohari menyampaikan pesan moral yang dalam tanpa perlu menyakiti perasaan siapapun. Barangkali cerpen tersebut bisa menjadi suatu acuan bagi generasi masa kini, bahwa meski kreatifitas, tehnik, dan inovasi dalam karya sastra telah mengalami kemajuan begitu pesat, tapi kita tak boleh lupa jika karya sastra juga memiliki pesan yang harus disampaikan pada pembaca. Karya sastra tentu tak boleh semata sebuah keasyikan para penulisnya namun abai terhadap gagasan yang harus dikomunikasikan pada pembaca. Setiap penulis memang memiliki gaya dan pilihan aliran masing-masing juga memiliki kebebasan untuk menuangkan karya dengan cara yang disukai namun pesan dan nilai tentu saja lebih bermakna jika mengandung universalitas. Penulis dan pembaca sesungguhnya berada pada suatu alur dialektika. Proses dialektik antara penulis dan pembaca akan menentukan seberapa kuat karya bisa diterima dan berpengaruh pada sebuah masyarakat. Penulis tentu memiliki idealisme sendiri, dan itu adalah hak setiap orang, tapi pembaca juga memiliki penilaian yang tak bisa diabaikan. Selera apapun yang dipilih oleh seseorang namun yang pasti dan tak bisa dihindari adalah mampukah penulis dan pembaca bisa saling memahami dan berinteraksi karena bagaimanapun pembaca memiliki tempat yang signifikan pada suatu karya sastra.

Pengertian Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog

Pengertian Monolog Prolog Dialog Epilog Bahasa Indonesia
Pengertian  Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog

Banyak yang bertanya mengenai istilah Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog dalam dunia sastra, khususnya menulis fiksi. Setelah pembelajaran mengenai menghidupkan dialog, banyak yang ingin mengetahui perbedaan Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog. Istilah-istilah ini sebenarnya istilah yang kita temui dalam karya sastra, dan biasa dipakai dalam sastra drama. Istilah lainnya seperti, Babak, Adegan, Mimik, Pantomim, Pantomimik, Gestur, Bloking, Gait, Improvisasi, Ilustrasi, Kontemporer, dll adalah istilah yang muncul dalam sastra lisan(drama) sama halnya istilah Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog.

Seiring perkembangan, istilah-istilah diatas tidak hanya dipakai dalam sastra drama saja melainkan juga dipakai dalam sastra tulisan (Novel, prosa, dll). Nah kita akan coba bahas satu-satu mengenai Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog

Pengertian  Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog

Dialog
Dialog adalah sebuah percakapan yang dilakukan oleh 2 tokoh atau lebih dengan maksud tertentu untuk tujuan jalannya cerita.
Dalam karya sastra tulisan atau menulis fiksi, dialog memiliki banyak fungsi. Selain untuk menggambarkan percakapan tokoh-tokohnya, dialog juga bisa memunculkan karakter dari masing-masing tokoh. Dialog juga bisa memunculkan perbedaan budaya dari masing-masing tokoh. Misalnya dengan dialek atau bahasa percakapan yang berbeda logat. Juga berfungsi sebagai penggambaran seting/latar pada sebuah cerita.

Monolog
Monolog adalah percakapan yang dilakukan oleh tokoh tunggal kepada dirinya sendiri. Monolog bisa berbentuk percakapan dengan dirinya sendiri dalam cermin, atau percakapan yang berbunyi dalam hati yang berkata pada diri sendiri.

Fungsi dari Monolog biasanya untuk menegaskan keinginan atau harapan dari tokoh tersebut terhadapa sesuatu hal. Bisa juga berbentuk emosional, penyesalan, atau tokoh yang berandai-andai.

Prolog
Prolog bisa disebut juga pengantar naskah yang isinya satu atau beberapa keterangan atau pendapat pengarang mengenai cerita yang akan disajikan. Atau bisa diartikan, prolog merupakan pendahuluan atau peristiwa pendahuluan.

Fungsi dari prolog berguna untuk menerangkan dan membeberkan situasi. Prolog disusun bertujuan untuk membangkitkan minat pemebaca terhadap isi dalam sebuah tulisan(Novel), atau minat penonton (jika dalam sebuah pertunjukan drama/teater). Oleh karena itu biasanya dalam sebuah drama, prolog sering berisi sinopsis lakon, pengenalan para okoh, serta konflik-konflik yang akan terjadi dalam cerita tersebut

Jika Prolog adalah pembuka, maka penutupnya disebut Epilog.

Epilog
Epilog adalah kata penutup yang mengakhiri sebuah cerita. Epilog pada umumnya berisi mengenai amanat, ata kesimpulan dan pelajaran yang bisa diambil dari cerita tersebut. Epilog yang merupakan bagian penutup pada karya sastra penting sebagai bekal bagi pembaca/penonton agar mampu mengambil hikmah dari konflik-konflik dalam cerita serta penyelesaiannya, dan biasanya akan muncul kalimat bijak dalam epilog tersebut

Fungsi dari Epilog adalah menyampaikan inti dari cerita, hikmah, atau komentar atas cerita yang baru saja disajikan. Selain sebagai penutup, epilog juga berfungsi untuk menegaskan pesan-pesan moral, tatanilai, maupun refleksi hidup dan kehidupan yang diceritakan.

Demikian mengenai Dialog, Monolog, Prolog, dan Epilog, semoga bisa memberikan penjelasan yang sesuai dengan apa yang anda butuhkan. Terima Kasih.

Pengertian Tentang Paragraf

pengertian-paragraf

Pengertian Tentang Paragraf

Paragraf adalah sekumpulan kalimat yang saling berkaitan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain. Paragraf juga salah satu kesatuan pikiran, suatu kesatuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Himpunan dari kalimat-kalimat yang bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah gagasan. Dalam paragraf, gagasan menjadi jelas oleh uraian-uraian tambahan, yang maksudnya tidak lain untuk menampilkan pokok pikiran tadi secara lebih jelas.

Pengertian Paragraf

Dalam batasan kamus, Kamus Linguistik yang disusun Harimurti Kridalaksana membatasi pengertian paragraf:
1.  Paragraf  adalah satuan bahasa yang mengandung satu tema dan perkembangannya;
2. Paragraf  adalah bagian wacana yang mengungkapkan pikiran atau hal tertentu yang lengkap tetapi yang masih berkaitan dengan isi seluruh wacana; dapat terjadi dari satu kalimat atau sekelompok kalimat yang berkaitan.

Sedangkan definisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia paragraf adalah bagian wacana yang mengungkapkan satu pikiran atau satu tema yang lengkap dalam ragam tulis ditandai oleh baris pertama yang menjorok ke dalam atau jarak spasi yang lebih.

Paragraf juga disebut sebagai karangan singkat, karena dalam bentuk inilah penulis menuangkan ide atau pikirannya sehingga membentuk suatu topik atau tema pembicaraan. Dalam 1(satu) paragraf terdapat beberapa bentuk kalimat, kalimat-kalimat itu ialah kalimat pengenal, kalimat utama (kalimat topik), kalimat penjelas, dan kalimat penutup. Kalimat-kalimat ini terangkai menjadi satu kesatuan yang dapat membentuk suatu gagasan. Panjang pendeknya suatu paragraf dapat menjadi penentu seberapa banyak ide pokok paragraf yang dapat diungkapkan.

Sebuah karangan yang tidak dibagi dalam paragraf-paragraf pasti akan sangat meyulitkan pembacanya. Pembaca akan kelelahan dan jenuh menghadapi seluruh karangan sekaligus, terlebih jika karangan tersebut cukup panjang. Pembaca seakan-akan dipaksa untuk terus membaca sampai selesai, tanpa memberinya kesempatan untuk berhenti sejenak untuk kemudian memusatkan konsentrasi kembali. Paragraf sebenarnya tak ubahnya seperti anak tangga. Pembaca (ibarat pemanjat) akan sangat sulit sampai pada puncak pemahaman dengan sekali lompat, jika anak tangga yang menjadi penolong tidak tersedia.

Dengan adanya paragraf-paragraf, pembaca akan tahu di mana pokok gagasan dimulai dan di mana berakhirnya, untuk berikutnya berpindah lagi ke gagasan berikutnya. Begitu seterusnya sampai selesai. Dengan demikian, pembaca dapat dengan mudah menapaki anak-anak tangga tanpa menjumpai kesulitan, karena gagasan-gagasan pokok ditata berurutan menuju ke suatu pengertian yang total, yang hendak disampaikan karangan itu.

Untuk unsur-unsur paragraf telah dijelaskan dalam postingan Unsur-unsur Paragraf

Pada dasarnya, jenis paragraf dibagi menjadi 5, diantaranya Narasi, Deskripsi , Eksposisi, Argumentasi, dan Persuasi. Tetapi, dari setiap jenis paragraf, akan terbagi lagi karena adanya perpaduan atau campuran.

Sedangkan Paragaraf Deduktif dan Induktif adalah salah satu jenis paragraf yang dilihat dari letak gagasan utamanya. Akan kita jelaskan pada postingan Paragaraf deduktif dan Induktif

Macam-macam Paragraf

1.  Paragraf Narasi
Menceritakan atau mengisahkan suatu kejadian atau peristiwa sehingga tampak seolah-olah pembaca mengalami sendiri peristiwa itu. Paragraf narasi adalah paragraf yang menceritakan satu atau beberapa kejadian dan bagaimana berlangsungnya peristiwa-peristiwa tersebut. Kalimat-kalimat dalam paragraf narasi yang berisi rangkaian kejadian atau peristiwa biasanya disusun menurut urutan waktu (kronologis).

Isi paragraf  narasi boleh tentang fakta yang benar-benar terjadi, boleh pula tentang sesuatu yang khayali. Otobiografi atau biografi seorang tokoh terkenal biasanya ditulis dalam bentuk narasi, dan isi karangan itu memang benar-benar nyata atau berdasar fakta sejarah yang tidak dibuat-buat. Tetapi cerpen, novel, hikayat, drama, dongeng, dan lain-lain seringkali hanyalah hasil kreasi daya khayal seorang pengarang, yang sebenarnya cerita itu sendiri tak pernah terjadi.

Hal-hal yang berkaitan dengan narasi :
– Berbentuk cerita atau kisahan
– Menonjolkan pelaku
– Menurut perkembangan dari waktu ke waktu
– Disusun secara sistematis

Jenis-jenis paragraf narasi :
– Narasi ekspositorik (narasi teknis), adalah narasi yang memiliki sasaran penyampaian informasi secara tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan memperluas pengetahuan orang tentang kisah seseorang.
– Narasi sugestif, adalah narasi yang berusaha untuk memberikan suatu maksud tertentu, menyampaikan suatu amanat terselubung kepada para pembaca atau pendengar sehingga tampak seolah-olah melihat.

2.  Paragraf Deskripsi
Menggambarkan sesuatu (objek) secara terperinci atau mendetil sehingga tampak seolah-olah pembaca melihat, mendengar, dan merasakannya sendiri. Paragraf deskripsi mempunyai ciri-ciri yang khas, yaitu bertujuan untuk melukiskan suatu objek. Paragraf ini berisi gambaran mengenai suatu hal/ keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.

Paragraf deskripsi selalu berusaha melukiskan dan mengmukakan sifat, tingkah laku seseorang, suasana dan keadaan suatu tempat atau sesuatu yang lain. Misalnya, suasana kampung yang begitu damai, tenteram, dan saling menolong, dapat dilukiskan dalam karangan deskripsi. Juga suasana hiruk pikuk ketika terjadi kebakaran, dapat pula disajikan dalam bentuk deskripsi.

3.  Paragraf Eksposisi
Paragraf eksposisi adalah Paragraf yang berusaha menerangkan suatu hal atau suatu gagaan. Dalam memaparkan sebuah ide pokok, kita dapat menjelaskan dan melengkapinya dengan memberi keterangan yang cukup atau dapat pula mengembangkannya sehingga menjadi luas dan gampang dimengerti. Memaparkan tentang sesuatu dengan tujuan memberi informasi (menambah wawasan).

Berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.

Langkah menyusun eksposisi :
– Menentukan topik/ tema
– Menetapkan tujuan
– Mengumpulkan data dari berbagai sumber
– Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
– Mengembangkan kerangka menjadi karangan eksposisi.

4. Paragraf Argumentasi
Mengungkapkan ide, gagasan, atau pendapat penulis dengan disertai bukti dan fakta. Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Paragraf argumentasi atau persuasi merupakan jenis karangan yang paling sukar bila dibandingkan dengan tiga jenis yang telah diuraikan di muka. Tetapi hal itu tidak berarti bahwa jenis karangan argumentasi ini lebih penting dan lebih berharga daripada jenis karangan narasi, deskripsi, atau eksposisi. Karangan argumentasi lebih sukar karena pada jenis karangan ini pengarang wajib mengemukakan argumentasi (alasan), bukti atau contoh yang dapat meyakinkan, sehingga terpengaruh dan membenarkan gagasan, pendapat, sikap, dan keyakinannya. Untuk meyakinkan orang lain agar terpengaruh dan kemudian bertindak seperti yang diinginkan, tentu ada persyaratannya.

Pengarang harus berpikir secara kritis dan logis. Dia harus terbuka menerima pendapat orang lain, lalu menganalisis dan mempertimbangkannya secara baik dan rasional. Agar apat mengajukan argumentasi, pengarang sudah pasti harus memiliki pengetahuan dan pandangan yang cukup luas tentang hal yang diperbincangkan.

Kelogisan berpikir, keterbukaan sikap dan keluasan pandangan terhadap masalah yang diperbincangkan , akan banyak sekali peranannya untuk mempengaruhi orang lain. Maka ini semua merupakan persyaratan yang diperlukan untuk membikin karangan argumentasi.itulah sebabnya, tadi dikatakan karangan argumentasi atau persuasi itu lebih sukar. Kecuali lebih sukar, karangan argumentasi juga lebih beresiko karena karangan ini berpendapat dan berusaha meyakinkan orang lain, maka sangat boleh jadi pengarangnya berbeda atau bahkan berlawanan pendapat dengan pembaca.

Sementara itu, jenis karangan narasi, deskripsi, atau eksposisi, resiko yang dihadapi dihadapi pengarang biasanya relatif lebih kecil.

Langkah menyusun argumentasi :
– Menentukan topik/ tema
– Menetapkan tujuan
– Mengumpulkan data dari berbagai sumber
– Menyusun kerangka karangan sesuai dengan topik yang dipilih
– Mengembangkan kerangka menjadi karangan argumentasi

5. Paragraf Persuasi
-Paragraf yang bertujuan untuk meyakinkan dan membujuk seseorang agar melakukan sesuatu yang dikehendaki penulis. Karangan yang berisi ajakan kepada pembaca dengan menyampaikan alasan, contoh, dan bukti yang meyakinkan sehingga pembaca membenarkannya dan bersedia melaksanakan ajakan hal-hal yang baik demi kepentingan masyarakat banyak.

Giri-ciri persuasi :
– Harus menimbulkan kepercayaan pendengar/pembacanya.
– Bertolak atas pendirian bahwa pikiran manusia dapat diubah.
– Harus menciptakan persesuaian melalui kepercayaan antara. pembicara/penulis dan yang diajak berbicara/pembaca.
– Harus menghindari konflik agar kepercayaan tidak hilang dan tujuan tercapai.
– Harus ada fakta dan data secukupnya.
– Ditinjau dari segi medan pemakaiannya, karangan persuasi dibagi menjadi empat macam, yaitu :
– Persuasi politik
– Persuasi pendidikan
– Persuasi advertensi
– Persuasi propaganda

Demikian ulasan mengenai Paragraf dan Jenis-jenis Paragraf, semoga bermanfaat ya, terima kasih sudah membaca.

Pengertian dan Jenis-jenis Karangan Sesuai Dengan Isinya

karangan

Pengertian dan Jenis-jenis Karangan Sesuai Dengan Isinya

Jenis-jenis karangan sangat beragam bisa dilihat dari berbagai sisi, mulai dari sis jenis karangan menurut bobot isinya, sisi jenis karangan dilihat dari cara penyampaiannya, juga tujuan penyampaiannya. Bagi yang sedang menjalani studi dan membutuhkan materi jenis-jenis karangan ini, semoga artikel ini bisa memberikan pencerahan.

Pengertian dan Jenis-jenis Karangan

Mengarang berarti ‘menyusun’ atau ‘merangkai‘. Pada dasarnya mengarang tidak hanya dalam bentuk tertulis. Seperti halnya berkomunikasi, kegiatan mengarang yang juga menggunakan bahasa sebagai mediumnya dapat berlangsung secara lisan. Seseorang yang berbicara,misalnya dalam sebuah diskusi atau berpidato secara serta-merta (impromptu), otaknya terlebih dahulu harus megarang sebelum mulutnya berbicara. Pada saat berbicara, sang pembicara itu sebenarnya “bekerja keras” mengorganisasikan isi pembicaraanya agar teratur, terarah/terfokus, sambil memikir-mikirkan susunan kata, pilihan kata, struktur kalimat; bahkan cara penyajiannya (misalnya deduktif atau induktif; klimaks atau antiklimaks).

Jadi, Karangan adalah hasil penjabaran suatu gagasan secara resmi dan teratur tentang suatu topik tahu pokok bahasan.Setiap karangan yang ideal pada prinsipnya mrerupakan uraian yang lebih tinggi atau lebih luas dari alinea.

Jenis Karangan menurut Bobot Isinya :

1. Karangan Ilmiah
Karangan ilmiah adalah karangan atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan, peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu, disusun menurut metode tertentu dengan sistematika penulisan yang bersantun bahasa dan isinya dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya/ keilmiahannya.(Eko Susilo, M. 1995:11).

Tujuan karangan ilmiah, diantaranya:
– Memberi penjelasan
– Memberi komentar atau penilaian
– Memberi saran
– Menyampaikan sanggahan, serta membuktikan hipotesa.

Jenis-jenis karangan ilmiah, diantaranya :

a. Skripsi
Skripsi ialah karya tulis (ilmiah) mahasiswa untuk melengkapi syarat mendapatkan gelar sarjana (S1). Skripsi ditulis berdasarkan pendapat (teori) orang lain yang didukung dengan data dan fakta empiris-objektif, baik berdasarkan penelitian langsung; observasi lapangan atau penelitian di laboratorium, atau studi kepustakaan.

b. Tesis
Tesis adalah jenis karya ilmiah yang bobot ilmiahnya lebih dalam dan tajam dibandingkan skripsi. Ditulis untuk menyelesaikan pendidikan pascasarjana. Penyususnan Tesis dituntut kemampuan untuk menggunakan istilah tehnis; dari istilah sampai tabel, dari abstrak sampai bibliografi.

c. Disertasi
Disertasi ditulis berdasarkan penemuan (keilmuan) orisinil dimana penulis mengemukan dalil yang dibuktikan berdasarkan data dan fakta valid dengan analisis terinci. Disertasi memuat penemuan-penemuan baru, pandangan baru yang filosofis, tehnik atau metode baru tentang sesuatu sebagai cerminan pengembangan ilmu yang dikaji dalam taraf yang tinggi.Peserta didik memiliki kecerdasan yang luar biasa diberikan kesempatan untuk memasuki program pendidikan dan ketrampilan sesuai dengan gaya dan irama belajarnya.

2. Karangan Semi Ilmiah
Karangan semi ilmiah adalah karangan yang menyajikan fakta dan fiksi dalam satu tulisan. Penulisannya menggunakan konsep yang tidak formal karena tidak sepenuhnya mengikuti metode ilmiah. Penulisan yang baik dan benar, ditulis dengan bahasa konkret, gaya bahasanya formal, kata-katanya teknis dan didukung dengan fakta umum yang dapat dibuktikan kebenarannya.

Contoh Karangan Semi Ilmiah :
– opini
– editorial
– resensi
– anekdot
– hikayat
– Feature

Ciri-ciri Karangan Semi-Ilmiah :
Emotif : kemewahan dan cinta lebih menonjol, tidak sistematis, lebih mencari keuntungan dan sedikit informasi.
– Persuasif : penilaian fakta tanpa bukti. Bujukan untuk meyakinkan pembaca, mempengaruhi sikap cara berfikir pembaca dan cukup informative.
– Deskriptif : pendapat pribadi, sebagian imajinatif dan subjektif.

3.  Karangan Non Ilmiah
Karangan Non Ilmiah (Fiksi) adalah satu ciri yang pasti ada dalam tulisan fiksi adalah isinya yang berupa kisah rekaan. Karangan non-ilmiah ditulis berdasarkan fakta pribadi, dan umumnya bersifat subyektif. Bahasanya bisa konkret atau abstrak, gaya bahasanya formal dan populer, walaupun kadang-kadang juga formal dan teknis.

Ciri-ciri :
– Bersifat persuasif
– Ditulis berdasarkan fakta pribadi
– Fakta yang disimpulkan subyektif
– Bersifat imajinatif
– Gaya bahasa konotatif dan populer
– Situasi didramatisir
– tidak memuat hipotesis
– Penyajian digabung dengan sejarah
Contoh : cerpen, puisi, novel, komik, dll.

Jenis Karangan menurut Menurut Cara Penyajian dan Tujuan Penyampaiannya :

1. Deskripsi (Pelukisan)
Karangan deskripsi adalah karangan yang memaparkan secara rinci dengan menyertakan bukti-bukti sehingga pembaca seolah-seolah terlibat didalamnya secara langsung.

Ciri-ciri karangan deskripsi :
1. Melibatkan dengan panca indra pembaca
2. Penggunaan objek didapat dengan pengamatan bentuk, warna serta keadaan objek secara langsung
3.  Unsur perasaan lebih tajam daripada pikiran

2. Narasi (Pengisahan)
Karangan narasi ialah karangan yang menyajikan serangkaian peristiwa yang biasanya disusun menurut urutan waktu.Yang termasuk narasi ialah cerpen, novel, roman, kisah perjalanan, biografi, dan autobiografi.

Ciri-ciri karangan Narasi
– Menyajikan serangkaian berita atau kejadian
– Disajikan dalam urutan waktu serta kejadian yang menunjukkan peristiwa awal sampai akhir
– Menampilkan pelaku peristiwa atau kejadian
– Latar (setting) digambarkan secara hidup dan terperinci

3. Eksposisi (Pemaparan)
Karangan Eksposisi adalah karangan yang menjelaskan, menerangkan, memberitahukan suatu masalah atau objek agar orang lain mengetahuinya.

Ciri-ciri karangan Eksposisi :
– Menjelaskan informasi agar pembaca mengetahuinya
– Menyatakan sesuatu yang benar-benar terjadi (daya faktual)
– Tidak terdapat unsur mempengaruhi atau memaksakan kehendak
– Menunjukkan analisis atau penafsiran secara objektif terhadap fakta yang ada
– Menunjukkan sebuah peristiwa yang terjadi tentang proses kerja sesuatu

4. Argumentasi (Pembahasan)
Karangan argumentasi adalah karangan yang mengutarakan alasan yang bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.

Ciri-ciri karangan Argumentasi :
– Berusaha meyakinkan pembaca akan kebenaran gagasan pengarang sehingga kebenaran itu diakui oleh pembaca
– Pembuktian dilengkapi dengan data, fakta, grafik, tabel, gambar
– Dalam argumentasi pengarang berusaha mengubah sikap, pendapat atau pandangan pembaca
– Dalam membuktikan sesuatu, pengarang menghindarkan keterlibatan emosi dan menjauhkan subjektivitas
– Dalam membuktikan kebenaran pendapat pengarang, kita dapat menggunakan bermacam-macam pola pembuktian.

5. Persuasi (Pengajakan)
Karangan persuasi bertujuan untuk mengajak atau mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu untuk tujuan tertentu.

6. Campuran (Kombinasi)
Karangan Campuran Merupakan sebuah karangan murni , misalnya eksposisi atau persuasi, sering ditemukan karangan campuran atau kombinasi. Isinya dapat merupakan gabungan eksposisi dengan deskripsi, atau eksposisi dengan argumentasi.

Orang yang merangkai atau menyusun kata, kalimat, dan alinea tidak disebut membuat karangan jika tidak sesuai dengan kaidah yang ada. Demikian mengenai Jenis-jenis karangan yang ada di dalam bahasa Indonesia. Terima Kasih.

Cara Menuliskan Gelar dan Singkatan yang Sesuai EYD

index

Cara Menuliskan Gelar dan Singkatan yang Sesuai EYD

Bagaimana cara menulis gelar dan singkatan yang benar sesuai EYD??  Tentu ada pedoman pedoman khusus yang harus diikuti agar seragam dan bisa dimengerti semua orang. Singkatan yaitu bentuk yang dipendekkan yang terdiri atas satu huruf atau lebih, sedangkan untuk akronim yaitu singkatan yang berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata yang diperlukan sebagai kata.

Dalam menulis akronim, hendaknya memperhatikan syarat syarat sebagai berikut :
– Jumlah suku kata akronim janga melebihi jumlah suku kata yang lazim pada kata indonesia.
– Sebuah Akronim dibentuk dengan mengindahkan keserasian kombinasi vocal dan konsonan yang sesuai dengan pola kata indonesia yang lazim.

Menulis Nama dan Gelar Sesuai EYD

Untuk aturan menulis nama dan gelar yang sesuai dengan EYD :
– tanda titik dipakai pada akhir singkatan nama orang, apabila nama tersebut ditulis dengan lengkap, tanda titik tidak dipergunakan.
– Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga dan marga.
– tanda titik dipakai pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat dan sapaan.

1. Singkatan

A. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat diikuti dengan tanda titik.
Misalnya:
– Muh. Yamin
– Sman Hs.
– M.B.A. (Master of business administration)
– M.sc. (Master of science)
– S.pd. (Sarjana Pendidikan)
– Bpk. (Bapak)
– Sdr. (kolonel)

B. Singkatan nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta nama dokumen resmi yang terdisi atas huruf awal kata ditulis dengan huruf capital dan tidak diikuti dengan tanda titik.
Misalnya :
– MPR (Majelis Perwakilan)
– PGRI ( Persatuan Guru Republik Indonesia)

C. Singkatan umum yang terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu titik.
Misalnya :
– dsb. (dan sebagainya)
– hlm. (halaman)

D. Singkatan Umum yang terdiri atas dua huruf, setiap huruf diikuti titik.
Misalnya :
– a.n. (atas nama)
– d.a. (dengan Alamat)

E. Lambang Kimia, singkatan satuan ukuran, takaran, timbangan dan mata uang tidak diikuti tanda titik.
Misalnya :
– Cu (kuprum)
– Cm ( sentimeter)

2. Akronim

a. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital.
Misalnya :
ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
LAN (Lembaga Administrasi Negara)
SIM (surat izin mengemudi)

b. Akronim nama diri yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis dengan huruf awal huruf kapital.
Misalnya:
Akabri (Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia)
Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia)
Sespa (Sekolah Staf Pimpinan Administrasi)
Pramuka (Praja Muda Karana)

c. Akronim yang buka nama diri yang berupa gabungan, suku kata, ataupun gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis seluruhnya dengan huruf kecil.
Misalnya:
pemilu ( pemilihan umum)
rapim (rapat pimpinan)
rudal (peluru kendali)
tilang (bukti pelanggaran)

PENULISAN GELAR YANG BENAR

– Cara penulisan gelar akademik mengikuti aturan yang berlaku dalam EYD, yaitu pada aturan tentang penulisan singkatan, pemakaian tanda titik (.), dan pemakaian tanda koma (,). Ketentuan lengkapnya sebagai berikut:
– Setiap gelar ditulis dengan tanda titik sebagai antara antarhuruf pada singkatan gelar yang dimaksud.
– Gelar ditulis di belakang nama orang.
Antara nama orang dan gelar yang disandangnya, dibubuhi tanda koma.
– Jika di belakang nama orang terdapat lebih dari satu gelar, maka di antara gelar-gelar tersebut disisipi tanda koma.

1. Cara Penulisan Gelar Sarjana (S1)
– S.P. (sarjana pertanian)
– S.Pd. (sarjana pendidikan)
– S.Pd.I. (sarjana pendidikan Islam)
– S.Psi. (sarjana psikologi)
– S.Pt. (sarjana peternakan)
– S.E. (sarjana ekonomi)
– S.Ag. (sarjana agama)
– S.Fil. (sarjana filsafat)
– S.Fil.I. (sarjana filsafat Islam)
– S.H. (sarjana hukum)
– S.H.I. (sarjana hukum Islam)
– S.Hum. (sarjana humaniora)
– S.I.P. (sarjana ilmu politik)
– S.Kar. (sarjana karawitan)
– S.Ked. (sarjana kedokteran)
– S.Kes. (sarjana kesehatan)
– S.Kom. (sarjana komputer)
– S.K.M. (sarjana kesehatan masyarakat)
– S.S. (sarjana sastra)
– S.Si. (sarjana sains)
– S.Sn. (sarjana seni)
– S.Sos. (sarjana sosial)
– S.Sos.I. (Sarjana Sosial Islam)
– S.T. (sarjana teknik)
– S.Th. (sarjana theologi)
– S.Th.I. (sarjana theologi Islam)

2. Cara Penulisan Gelar Magister (S2)
– M.Ag. (magister agama)
– M.E. (magister ekonomi)
– M.E.I. (magister ekonomi Islam)
– M.Fil. (magister filsafat)
– M.Fil.I. (magister filsafat Islam)
– M.H. (magister hukum)
– M.Hum. (magister humaniora)
– M.H.I. (magister hukum Islam)
– M.Kes. (magister kesehatan)
– M.Kom. (magister komputer)
– M.M. (magister manajemen)
– M.P. (magister pertanian)
– M.Pd. (magister pendidikan)
– M.Pd.I. (magister pendidikan Islam)
– M.Psi. (magister psikologi)
– M.Si. (magister sains)
– M.Sn. (magister seni)
– M.T. (magister teknik)

3. Cara Penulisan Gelar Doktor (S3)
Dr (doktor)

4. Cara Penulisan Gelar Diploma
– Diploma satu (D1), sebutan profesional ahli pratama, disingkat A.P.
– Diploma dua (D2), sebutan profesional ahli muda, disingkat A.Ma.
– Diploma tiga (D3), sebutan profesional ahli madya, disingkat A.Md.
– Diploma empat (D4), sebutan profesional ahli, disingkat A.

5. Gelar Sarjana Luar Negeri
– B.A. (Bechelor of Arts)
– B.Sc. (Bechelor of Science)
– B.Ag. (Bechelor of Agriculture)
– B.E. (Bechelor of Education)
– B.D. (Bechleor of Divinity)
– B.Litt. (Bechelor of Literature)
– B.M. (Bechelor of Medicine)
– B.Arch. (Bechelor of Architrcture), dsb.

6.  Gelar Master Luar Negeri
– M.A. (Master of Arts)
– M.Sc. (Master of Science)
– M.Ed. (Master of Education)
– M.Litt. (Master of Literature)
– M.Lib. (Master of Library)
– M.Arch. (Master of Architecture)
– M.Mus. (Master of Music)
– M.Nurs. (Master of Nursing)
– M.Th. (Master of  Theology)
– M.Eng. (Master of Engineering)
– M.B.A. (Master of Business Administration)
– M.F. (Master of Forestry)
– M.F.A. (Master of Fine Arts)
– M.R.E. (Master of Religious Ediucation)
– M.S. (Mater of Science)
– M.P.H. (Master of Public Health), dsb.

7. Gelar Doktor Luar Negeri

– Ph.D. (Doctor of Philosophy);                      =>               Sigit Sugito, Ph.D.
– Ed.D. (Doctor of Education);                       =>               Sigit Sugito, Ed.D.
– Sc.D. (Doctor of Science);                          =>               Sigit Sugito, Sc.D.
– Th.D. (Doctor of Theology);                       =>               Sigit Sugito, Th.D.
– Pharm.D. (Doctor of Pharmacy);                  =>               Sigit Sugito, Pharm.D.
– D.P.H. (Doctor of Public Health);                 =>               Sigit Sugito, D.P.H.
– D.L.S. (Doctor of Library Science);               =>               Sigit Sugito, D.L.S.
– D.M.D. (Doctor of Dental Medicince);           =>               Sigit Sugito, D.M.D.
– J.S.D. (Doctor of Science of Jurisprudence). =>               Sigit Sugito, J.S.D., dsb.

Apa Arti penulisan DR., Dr., dan dr.?

– Dr.(H.C.) digunakan untuk gelar kehormatan Doktor Honoris Causa yaitu doktor kehormatan yang diberikan oleh suatu perguruan tinggi kepada seseorang sesuai dengan ketokohan dalam suatu bidang tertentu.
– Dr. adalah singkatan doktor, suatu gelar pendidikan Strata Tiga (S3). Dr. merupakan gelar akademik tertinggi. Contoh penulisan yang salah: DR. IR. HARYADI atau DR. IR. Haryadi; seharusnya: Dr. Ir. HARYADI atau Dr. Ir. Haryadi.
– dr. adalah singkatan bagi dokter (ahli penyakit) yang merupakan sebutan profesional untuk seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan profesi dokter. Contoh penulisan yang salah: DR. USMAN atau Dr. Usman; seharusnya: dr. USMAN atau dr. Usman.

Sering ditanyakan, bagaimana menuliskan gelar ini di awal kalimat. Hal ini adalah masalah tata kalimat. Hindari penulisan singkatan (termasuk gelar) di awal kalimat. Menyiasati masalah tersebut maka penulisan ‘dr. A’ di awal kalimat seharusnya diubah menjadi ‘Dokter A’. Perhatikan contoh di bawah ini!

– dr. Akbar sedang memeriksa pasiennya. (SALAH)
– Dokter Akbar sedang memeriksa pasiennya. (BENAR)

Jika di antara nama dan gelar tidak dibubuhi tanda koma, maka penulisan gelar tersebut salah dan singkatan tersebut tidak bermakna gelar, melainkan bisa bermakna nama keluarga, marga, dan sebagainya. Jadi, Muhamad Ilyasa SH (tanpa koma di antara nama dan SH) bisa berarti Muhamad Ilyasa Sutan Harun atau Muhamad Ilyasa Saleh Hamid, dan sebagainya.

Demikian mengenai Penulisan Gelar dan Singkatan sesuai dengan Ejaan yang Disempurnakan. Terima kasih.

Mahasiswa Italia Menyukai Bahasa dan Sastra Indonesia

UNAS_ITALI-8

Mahasiswa Italia Menyukai Bahasa dan Sastra Indonesia

Sebanyak 55 mahasiswa Italia mengikuti kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Napoli Orientale (UNO) yang dibuka sejak tahun 1964.

UNO yang berdiri tahun 1732 itu satu-satunya perguruan tinggi di Italia yang mengajarkan studi ketimuran (oriental studies) memiliki jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, ujar Counsellor Pensosbud, KBRI Roma, Musurifun Lajawa kepada koresponden Antara di London, Inggris, Jumat (16/4).

Musurifun Lajawa mengatakan Dubes RI untuk Italia, Mohamad Oemar, memberikan kuliah umum di hadapan sekitar 70 mahasiswa dan staf pengajar UNO, di Napoli.

Dia mengatakan, mahasiswa tampak antusias mengikuti penjelasan Dubes mengenai perkembangan terakhir dan berbagai capaian Indonesia sejak awal era reformasi 1999, terutama perkembangan demokrasi yang berdampak positif berbagai sektor pembangunan.

Sebelum acara kuliah umum Dubes mengadakan pertemuan dengan Wakil Rektor UNO Urusan Hubungan Luar Negeri, Prof Giuseppe Cataldi yang ingin meningkatkan kerja sama dan menjajaki untuk membuka studi keislaman. Dubes mengatakan Indonesia menyambut baik keinginan Universitas Napoli Orientale (UNO) untuk pengembangan studi bahasa Indonesia dan menjajaki pembukaan studi keislaman dengan fokus Islam di Indonesia dan Asia Tenggara.

Untuk itu, KBRI Roma mengajak peran serta Depdiknas, perguruan tinggi dan lembaga terkait di Indonesia untuk merealisasikan rencana tersebut. Dubes Oemar menjelaskan implementasi hubungan kerja sama kebudayaan RI-Italia yang ditandatangani 1997 umumnya masih dalam bentuk kerja sama pendidikan, terutama pemberian beasiswa.

Dikatakannya, Pemerintah Indonesia terus mengupayakan perbaikan mutu program beasiswa Darmasiswa RI yang ditawarkan kepada mahasiswa di berbagai negara, termasuk mahasiswa Italia untuk belajar bahasa, seni dan budaya di sejumlah universitas pilihan di Indonesia.

Sebagai tindaklanjutnya, KBRI Roma memberikan kesempatan kepada mantan penerima Darmasiswa, termasuk dari UNO untuk magang di KBRI Roma untuk mengetahui perkembangan Indonesia sambil meningkatkan kemampuan bahasa.  Terkait dengan kerja sama studi keislmanan, Dubes Oemar dan Prof Cataldi sepakat menjajaki kerja sama antara UNO dengan mitranya di Indonesia dalam bentuk petukaran dosen dan mahasiswa serta riset bersama.

Sebagai langkah awal, KBRI Roma akan membantu mengupayakan kunjungan pakar Islam Indonesia yang melakukan lawatan di Italia atau negara tetangga untuk memberikan kuliah umum di UNO mengenai Islam di Indonesia.

Kuliah umum Dubes dan staf KBRI Roma di UNO merupakan suatu tradisi yang telah berlangsung sejak masa-masa awal pembukaan studi bahasa Indonesia di UNO. Prof Faizah Soenoto, pakar bahasa Indonesia yang pensiun tahun ini telah membesarkan studi bahasa Indonesia di UNO selama 45 tahun. Posisinya saat ini digantikan Prof Antonia Soriente, bekas murid dan asistennya, yang menyelesaikan studi tingkat pascasarjananya di Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1995.

Tentang Sastra Indonesia

sastra-indonesia

Tentang Sastra Indonesia

Puisi dan prosa tulisan dalam bahasa Jawa, Melayu, Sunda, dan bahasa lain dari bangsa Indonesia. Mereka termasuk karya lisan dan kemudian disimpan dalam bentuk tertulis oleh masyarakat Indonesia, sastra lisan, dan literatur modern yang mulai muncul di awal abad 20 sebagai akibat dari pengaruh Barat.

Banyak dari lagu-lagu Indonesia, atau puisi, yang secara lisan oleh profesional imam-penyanyi mewujudkan tradisi yang memiliki fungsi agama. Improvisasi memainkan peran besar dalam jenis puisi, dan ada alasan untuk percaya bahwa dalam bentuknya yang sekarang banyak itu adalah tidak usia yang besar. Bentuk prosa lisan Indonesia sangat bervariasi dan mencakup mitos, cerita hewan dan “dongeng binatang,” dongeng, legenda, teka-teki dan teka-teki, dan anekdot dan cerita petualangan. Pahlawan ilahi dan hewan epik kisah ini menunjukkan pengaruh sastra India dan literatur tertulis budaya tetangga lainnya.

Sastra yang ditulis di Indonesia telah diawetkan dalam berbagai bahasa dari Sumatera (Aceh, Batak, Rejang, Lampong, dan Melayu), dalam bahasa Jawa (Sunda dan Madura serta Jawa), di Bali dan Lombok, dan di lebih bahasa penting dari Sulawesi Selatan (Makassar dan Bugis). Sejauh ini yang paling penting dalam kuantitas dan kualitas adalah literatur dalam bahasa Jawa dan Melayu.

Contoh paling awal dari tanggal sastra Jawa dari ce abad ke-9 atau 10. Posisi penting dalam literatur awal ini ditempati oleh prosa Jawa dan versi puitis dari dua epos Hindu yang besar, Mahabharata dan Ramayana. Orang Jawa juga dipinjam dari puisi pengadilan canggih India dalam bahasa Sanskerta, dalam proses membuatnya Jawa dalam ekspresi, bentuk, dan perasaan.

Ketika Islam mencapai Jawa di abad ke-15, kecenderungan mistis di dalamnya dimasukkan oleh orang Jawa menjadi literatur mereka sendiri nyata mistis agama. pengaruh Muslim terutama subur selama awal abad ke-17 di Aceh, di mana Melayu untuk pertama kalinya menjadi ditulis bahasa sastra penting. Di Jawa, legenda Muslim dari orang-orang kudus digabungkan dengan mitologi dan kosmologi Hindu yang diturunkan untuk menghasilkan karya-karya imajinatif dari narasi sejarah di mana unsur-unsur magis-mistis memainkan peran penting.
Topik serupa

Orang Jawa dan literatur Melayu menurun di bawah pengaruh dominasi kolonial Belanda pada abad ke-18 dan ke-19. Hanya di abad ke-20 melakukan sastra Indonesia modern muncul, terkait erat seperti itu untuk gerakan nasionalis dan ideal baru bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Setelah 1920 sastra Indonesia modern dengan cepat muncul. Muhammad Yamin dan penyair terkemuka lainnya pada saat ini dipengaruhi oleh bentuk dan mode ekspresif Romantis, Parnassian, dan simbolis ayat dari Eropa. Novel Indonesia pertama juga muncul pada tahun 1920 dan 30-an; ini adalah karya khas daerah oleh Abdul Muis dan lain-lain di mana tema sentral adalah perjuangan antara generasi, antara beban menyesakkan tradisionalisme dan dorongan untuk kemajuan modern.

Pada tahun 1933, dengan munculnya review Pudjangga Baru ( “The New Penulis”), generasi baru intelektual mulai menilai apakah untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional atau secara sadar menerima norma-norma Barat dalam upaya untuk membangun budaya modern tapi benar-benar Indonesia. Diskusi ini terganggu oleh pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, yang akhirnya putus generasi yang masih terikat erat dengan situasi kolonial Indonesia. Dengan revolusi nasionalis Indonesia tahun 1945, generasi baru penulis muda sungguh-sungguh nasionalis dan idealis yang mengaku humanisme universal yang datang ke permukaan. inspirasi dan pemimpin mereka adalah penyair besar Chairil Anwar, yang meninggal pada tahun 1949 pada usia 27. Penulis yang paling menonjol muncul saat ini adalah Pramoedya Ananta Toer, yang mendukung revolusi menyebabkan penangkapannya pada tahun 1947 oleh pemerintah kolonial Belanda. Dia menulis novel yang diterbitkan pertamanya, Perburuan (1950; The Fugitive), sementara dipenjara.