Asal-Usul Alam Pikiran Cina, Membaca Akar Tradisi Filsafat Cina

Judul Buku : Sejarah Filsafat Cina
Penulis : Fung Yu-Lan
Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan : 1, November 2007
Tebal : V + 458 Halaman

Kedudukan filsafat dalam peradaban Cina bisa disamakan dengan kedudukan agama pada peradaban-peradaban lain. Di Cina, filsafat selalu menjadi perhatian bagi setiap orang yang berpendidikan. Pada masa lalu, jika seseorang merupakan orang yang berpendidikan, maka pendidikan pertama yang ia terima adalah filsafat. Ketika anak-anak masuk sekolah, maka Buku Yang Empat (The Four Book) adalah pegangan wajib, yang terdiri dari Untaian Ajaran Confucius (Confucius Analects), Buku Mencius (Book of Mencius), Pelajaran Agung ( The Great Learning), dan Doktrin Jalan Tengah (The Doctrine of the Mean).

Dari tradisinya ini, filsafat Cina bertolak dari agama Confucianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Sebagian orang mangatakan bahwa Confucianisme adalah agama, bukan filsafat. Tetapi sesungguhnya Confucianisme itu bukanlah agama, sama halnya dengan Platonisme atau Aristotelianisme. Memang, benar dalam Buku Yang Empat yang menjadi Bibel bagi orang Cina seakan-akan Confucianisme adalah agama. Tetapi di buku tersebut tidak terdapat kisah tentang penciptaan dan tidak menyebutkan tentang surga atau neraka.

Istilah filsafat dan agama keduanya bersifat ambigu. Tetapi bagi orang Cina filsafat dan agama adalah satu-kesatuan yang utuh, yang tak dapat dipisahkan karena kehidupan adalah perjalan reflektif. Orang Cina percaya dari alam semesta pikiran mampu melahirkan konsep tentang kehidupan, konsep tentang alam semesta, dan konsep tentang pengetahuan melalui pemikiran reflektif tersebut.

Agama juga mempunyai hubungan dengan kehidupan. Dalam inti setiap agama besar ada suatu filsafat, kenyataanya, setiap agama besar adalah suatu filsafat dengan superstruktur tertentu, yang terdiri dari tahayul-tahayul, dogma-dogma, ritual-ritual, dan institusi-institusi. Jika orang memahami agama sebagai pengertian ini, yang sesungguhnya tak berbeda dengan penggunaan secara umum, maka orang melihat bahwa Confucianisme tidak bisa dimengerti sebagai sebuah agama.

Tentang Taoisme, terdapat perbedaan Taoisme sebagai filsafat, yang disebut dengan Tao chia (mahzab Tao) dengan Tao sebagai agama (Tao chiao). Ajarannya tidak hanya berbeda, tetapi bahkan kontradiktif. Taoisme sebagai filsafat mengajarkan doktrin agar manusia mengikuti alam, sedangkan Taoisme sebagai agama mengajarkan doktrin agar manusia menentang alam. Misalnya, menurut Lao Tzu dan Chuang Tzu, kehidupan yang diikuti oleh kematian adalah jalan alam, dan manusia harus mengikuti jalan alam ini dengan tenang. Tetapi ajaran utama Tao adalah prinsip dan teknik bagaimana cara menghindari kematian, yang jelas merupakan usaha menentang alam. Agama Tao memiliki jiwa ilmu pengetahuan, yang berusaha menaklukkan alam.

Ada juga perbedaan Buddhisme sebagai sebuah filsafat yang disebut Fo hsueh (Ajaran Budha) dan Buddhisme sebagai agama, yang disebut Fo chiao (agama Budha). Bagi orang Cina yang terpelajar, filsafat Budha lebih menarik daripada agama Budha. Sering sekali kita melihat rahib Budha dan rahib Tao sama-sama ikut serta dalam upacara kebaktian pemakaman Cina. Orang-orang bahkan memahami agama mereka sebagai kefilsafatan.

Menurut tradisi filsafat Cina, fungsi filsafat bukan untuk menambah pengetahuan positif (informasi yang sesuai dengan kenyataan), tetapi untuk meningkatkan taraf jiwa; suatu upaya untuk mencapai apa yang berada di luar dunia nyata saat ini, dan untuk mencapai nilai-nilai yang lebih tinggi daripada nilai-nilai moral. Sehingga seorang peneliti filsafat, yakni Charles Morris pernah menyatakan bahwa filsafat Cina adalah filsafat dunia ini. Tetapi filsafat Cina tidak dapat dipahami dari hal yang bersifat lahiriah saja. Sejauh yang terkait dengan ajaran utama tradisi filsafat Cina, jika kita memahaminya dengan benar, tentu tidak dapat dikatakan bersifat dunia ini, juga tidak dapat dikatakan sepenuhnya bersifat dunia lain. Filsafat Cina adalah kedua-duanya.

Dalam buku ini, Fung Yu-Lan sebagai penulisnya mengurai dengan jelas sejarah tradisi filsafat Cina klasik hingga tradisi filsafat Cina Modern. Ia memulai pembahasannya pada masa dinasti Cina pertama Hsia (2205-1766 SM) hingga dinasti Ch’ing (1644-1911 M) di mana filsafat Cina mengalami pertumbuhan dan perkembangannya, dalam persentuhannya dengan politik, ekonomi, dan budaya.

Buku ini merupakan kajian yang komprehensif atas filsafat Cina karena dengan membacanya kita akan melihat bahwa filsafat Cina itu jauh lebih luas cakupannya daripada sekedar Confucius atau Lao Tzu, atau bahkan sekedar madzhab Confucianisme atau Taoisme yang kepadanya kedua tokoh tersebut dipertalikan.

Selama kira-kira dua puluh lima abad, para pemikir Cina telah menyentuh hampir semua pokok bahasan utama yang menjadi perhatian para filsuf Barat, dan meskipun madzhab yang sudah menjadi bagian dari mereka sering melahirkan nama yang sama, hingga beberapa abad lamanya, namun isi ideologi aktual mereka sudah sangat berubah dari satu masa ke masa yang lain. Cina adalah sebuah negeri dengan rentetan sejarah filsafatnya yang amat panjang. Tak aneh jika teks agama, Islam misalnya, terdapat hadist, “carilah ilmu meski ke negeri Cina” itu karena pada hadist itu diturunkan bahkan jauh sebelumnya telah terjadi sebuah dialektika dan kemajuan yang mencengangkan di negeri tersebut.

Merawat Generasi Ideologis

Minimnya ruang sastra dalam publikasi menimbulkan kecurigaan terkait wacana untung-rugi dalam ruang sastra di media. Pasalnya, sastra bukanlah suatu hal yang dapat menarik profit bagi media.

Sementara menyempitnya ruang sastra akan mengikis kehadiran generasi ideologis kelak. Hal itu mencuat dalam diskusi publik bertema, Senjakala Ruang Sastra di Media , di Gedung OLVEH, Jakarta, akhir April lalu. Menurut penulis Djenar Maesa Ayu, terkikisnya ruang sastra akan membuat para generasi ideologis kehilangan ruang untuk berekspresi.

“Proses kreatif yang dilalui para generasi ideologis sejatinya adalah hal yang harus dianggap penting dan perlu bagi perkembangan sebuah bangsa,” katanya. Nah , persoalannya, bagaimana menjaga keberlangsungan generasi ideologis tersebut? Penulis dan sutradara Agus Noor menilai, perkembangan sastra dari waktu ke waktu mengalami perubahan yang cukup signifikan di ranah media.

Jika pada tahun 70-an terdapat beberapa media seperti majalah yang berfungsi sebagai lembaga otoritatif terhadap sastra, ketika itu pula sastra memiliki trek yang terarah dengan “legitimasi” otoritas tadi. Sementara pada tahun 80-an majalah mulai tergantikan perannya oleh media cetak harian atau koran.

Di era ini penulis dan penggiat sastra sangat terbantu dalam memublikasikan tulisannya. Media cetak harian ini pun menurutnya secara tidak langsung mengambil peran sebagai lembaga otoritatif kala itu. Namun, saat ini fungsi otoritatif hampir tidak terasa sama sekali. “Hari ini kita hampir-hampir kehilangan fungsi otoritatif terhadap sastra,” katanya.

Agus mencontohkan, saat ini hampir setiap orang bisa menuliskan tentang apa pun sesuka hati di dunia digital, termasuk sastra. Bahkan ia menilai, orang yang buta akan sastra pun banyak yang menuliskan soal sastra dengan pendekatan individualis tanpa peduli bagaimana harusnya sastra berbicara.

Jika dahulu sastrawan Seno Gumira Adjidarma merilis sebuah buku, menurutnya, telah ada reviewer yang memiliki kualitas sastra hampir setingkat dengan Seno. Dengan begitu, tulisan mengenai review tersebut secara tidak langsung begitu kuat dan dapat menjadi rujukan-rujukan yang memperkaya khazanah sastra Indonesia.

Hal sebaliknya terjadi saat ini. Menurutnya, hari ini setiap orang termasuk anak-anak generasi alay pun—dapat menulis tentang film Ada Apa Dengan Cinta 2 tanpa mempertimbangkan dan memperhatikan film Ada Apa Dengan Cinta pertama secara kontekstual dan virtual sesuai gagasan yang coba dibawa si sutradara.

Hal seperti itulah yang menurutnya, fungsi otoritatif hampir hilang sama sekali. “Siapa saja hari ini bisa menulis dan berinteraksi dengan meng-gunakan nama sastra, tapi pada ha-kikatnya (sastra itu sendiri) hilang,” katanya. Maka, jika ruang sastra makin terkikis di ranah publikasi, akan ada dua kerugian. Pertama , hilangnya fungsi otoritatif terhadap sastra.

Kedua, timbulnya persaingan yang tidak sehat. Senada dengan hal tersebut, redaktur pelaksana harian Suara Merdeka, Triyanto Triwikromo, menilai, saat ini dunia digital memiliki kebebasan yang tidak terarah sehingga menanggalkan fungsi otoritatif. Sementara itu di sisi lain juga pada 2015 dunia digital membuka ruang terhadap dunia sastra ke tempat yang belum pernah terjamah sama sekali sebelumnya.