Puisi-puisi Taufiq Ismail

Puisi-puisi Taufiq Ismail
INDONESIA KERANJANG SAMPAH NIKOTIN

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok. Kalau klarifikasi sorga ditentukan oleh jumlah langit yang melapisinya. Maka negeri kita bagi maskapai rokok, sorga langit ketujuh klasifikasinya.

Indonesia adalah keranjang besar yang menampung semua sampah nikotin. Keranjang sampah nikotin luar biasa besarnya. Dari pinggir barat ke pinggir timur, jarak yang mesti ditempuh melintasi 3 zona waktu yaitu 8 jam naik pesawat jet, 10 hari kalau naik kapal laut, satu tahun kalau naik kuda Sumba, atau 5 tahun kalau saban hari naik kuda kepang Ponorogo.

Keranjang sampah ini luar biasa besarnya. Bukan saja sampah nikotin, tapi juga dibuangkan ke dalamnya berjenis cairan, serbuk, berbagai aroma dan warna, alkohol, heroin, kokain, sabu-sabu, ekstasi, dan marijuana, berbagai racun dan residu, erotisme dan vcd biru. Sebut saja semua variasi klasifikasi limbah dunia mulut Indonesia menganga menerimanya.

Semua itu, karena gerbang di halaman rumah kita terbuka luas, kita tergoda oleh materialisme dan disuap kapitalisme fikiran sehat kita kaku dan tangan kanan kiri terbelenggu dengan ramah dan sopan kiriman sampah itu diterima.

Di pintu depan bandara, karena urgennya modal mancanegara, karena tak tahan nikmatnya komisi dan upeti, dengan membungkuk-bungkuk kita berkata begini,

“Silahkan masuk semua, silakan. Monggo, monggo mlebet, dipun, sakecakaken. Sog asup sadayana, asup, asup. Ha lai ka talok, bahe banalah angku, bahe banalah.”

Keranjang sampah ini luar biasa kapasitasnya. Pedagang-pedagang nikotin yang dinegeri asalnya babak belur digebuki. Di pengadilan bermilyar dolar dendanya. Ketahuan penipunya dan telah memenuhi jutaan penghisapnya. Diusir terbirit-birit akhirnya berlarian ke dunia ketiga. Dan dengan rasa rendah diri luar biasa kita sambut mereka bersama-sama.

” Monggo, monggo den, linggih rumiyin. Ngersakaken menopo den bagus. Mpun, ngendiko mawon. Aih aih si aden, kasep pisan. Tos lami, sumping, di dieu, Indonesia? Alaa, ranca bana oto angku ko. Sabana rancak. Bao caronyo kami, supayo … ”

Demikian dengan rasa hormat yang lumayan berlebihan. Para pedagang nikotin dari negeri jauh di tepi langit sana. Penyebar penyakit rokok dan pencabut nyawa anak bangsanya. Terlibat pengadilan dan tertimbun bukti. Di negeri sendiri telah diusiri dan dimaki-maki. Ke dunia ketiga mereka melarikan diri. Pabrik-pabrik mereka ditutup di negeri sendiri. Lalu didirikan di Dunia Ketiga, termasuk negeri kita ini. Di depan hidung kita penyakit dipindah kesini. Dan untuk mereka kita hamparkan merahnya permadani. Lalu bangsa kita ditipu dengan gemerlapannya advertensi. Inilah nasib bangsa yang miskin dan pemerintah yang lemah. Semua bertumpu pada pemasukan uang sebagai orientasi.

PEROKOK ADALAH SERDADU BERANI MATI

Para perokok adalah pejuang gagah berani. Berada di dekat kawan-kawan saya perokok ini. Saya serasa berdampingan dengan rombongan serdadu berani mati. Veteran dua Perang Dunia, Perang Vietnam, Perang Revolusi Dan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perhatikanlah upacara mereka menyala belerang berapi. Dengan khimadnya batang tembakau dihunus dan ditaruh antara dua jari. Dengan hormatnya Tuhan Sembilan Senti. Disisipkan antara dua bibir, digeser agak ke tepi. Sementara itu sudah siap An Naar, nyala api sebagai sesaji.

Hirupan pertama dilaksanakan penuh kasih sayang dan hati-hati. Kemudian dihembuskan asapnya, ke kanan atau ke kiri. Mata pun terpicing-picing tampak nikmat sekali. Berlindung pada adiksi dari tekanan hidup sehari-hari. Lena kerja, lupa politik, mana ingat anak dan isteri.

Para perokok adalah serdadu-serdadu gagah berani. Untuk kenikmatan 5 menit mereka tidak peduli 25 macam penyakit yang dengan gembira menanti-menanti. Saat untuk menerkam dari setiap penjuru dan sisi.

Paru-paru obstruksi kronik bronkhitis kronik dan emfisema. Gangguan jantung pembulu darah arteriosklerosis hipertensi dan gangguan pembulu darah otak. kanker rongga mulut, nasopharynx, oropharynx, hypopharynx dan rongga hidung. Lalu sinus paranasal, larynx, esophagus dan lambung. Radang pankreas, hati, ginjal, ureter dan kandung kemih. Radang cervix uteri dan sumsum tulang, infertilitas dan impotensi. Daftar ini belum disusun secara alfabetis, dan sebenarnya (ini rahasia profesi medis) penyakit yang 25 ini cuma nama samaran julukan pura-pura saja.

Nama aslinya penyakit rokok.

Rokok, abang kandung narkoba ini tak tertandingi dalam soal adiksi. 4000 macam racun didapatkan sepanjang sembilan senti. Untuk orgamus nikotin 5 menit itu serdadu tembakau ini mana peduli terhadap hari depan anak-anak yang masih memerlukan pencarian rezeki. Terhadap bagaimana terlantarnya kelak janda yang dulu namanya isteri. Atau nasib duda yang dulu namanya suami. Terhadap pengotoran udara depan belakang, kanan dan kiri. Dalam memuaskan ego, dengan sengaja mendestruksi diri pribadi.

Betapa beratnya memenangkan Perang Melawan Diri Sendiri.

Perjalanan Hidup dan Biografi Taufiq Ismail

Perjalanan Hidup dan Biografi Taufiq IsmailTaufiq Ismail gelar Datuk Panji Alam Khalifatullah, (lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, 25 Juni 1935; umur 78 tahun), ialah seorang penyair dan sastrawan Indonesia. Taufiq Ismail lahir dari pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu, Agam dan Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera Barat.[1] Ayahnya adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di Solo, Semarang, dan Yogyakarta, SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan. Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan sendiri, ia menjadi dokter hewan dan ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau di Selat Malaka.

Kegiatan: Semasa kuliah aktif sebagai Aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII), Ketua Senat Mahasiswa FKHP-UI (1960-1961) dan WaKa Dewan Mahasiswa UI (1961-1962).

Di Bogor pernah jadi guru di SKP Pamekar dan SMA Regina Pacis, juga mengajar di IPB. Karena menandatangani Manifesto Kebudayaan, gagal melanjutkan studi manajemen peternakan di Florida (1964) dan dipecat sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor. Ia menulis di berbagai media, jadi wartawan, salah seorang pendiri Horison (1966), ikut mendirikan DKJ dan jadi pimpinannya, Pj. Direktur TIM, Rektor LPKJ dan Manajer Hubungan Luar Unilever. Penerima beasiswa AFS International Scholarship, sejak 1958 aktif di AFS Indonesia, menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Bina Antarbudaya, penyelenggara pertukaran pelajar antarbangsa yang selama 41 tahun (sejak 1957) telah mengirim 1700 siswa ke 15 negara dan menerima 1600 siswa asing di sini. Taufiq terpilih menjadi anggota Board of Trustees AFSIS di New York, 1974-1976.

Pengkategoriannya sebagai penyair Angkatan ’66 oleh Hans Bague Jassin merisaukannya, misalnya dia puas diri lantas proses penulisannya macet. Ia menulis buku kumpulan puisi, seperti Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan, Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi Sastra Aceh, dan lain-lain.

Banyak puisinya dinyanyikan Himpunan Musik Bimbo, pimpinan Samsudin Hardjakusumah, atau sebaliknya ia menulis lirik buat mereka dalam kerja sama. Iapun menulis lirik buat Chrisye, Yan Antono (dinyanyikan Ahmad Albar) dan Ucok Harahap. Menurutnya kerja sama semacam ini penting agar jangkauan publik puisi lebih luas.

Taufiq sering membaca puisi di depan umum. Di luar negeri, ia telah baca puisi di berbagai festival dan acara sastra di 24 kota Asia, Australia, Amerika, Eropa, dan Afrika sejak 1970. Baginya, puisi baru ‘memperoleh tubuh yang lengkap’ jika setelah ditulis, dibaca di depan orang. Pada April 1993 ia membaca puisi tentang Syekh Yusuf dan Tuan Guru, para pejuang yang dibuang VOC ke Afrika Selatan tiga abad sebelumnya, di 3 tempat di Cape Town (1993), saat apartheid baru dibongkar. Pada Agustus 1994 membaca puisi tentang Laksamana Cheng Ho di masjid kampung kelahiran penjelajah samudra legendaris itu di Yunan, RRC, yang dibacakan juga terjemahan Mandarinnya oleh Chan Maw Yoh.

Bosan dengan kecenderungan puisi Indonesia yang terlalu serius, di awal 1970-an menggarap humor dalam puisinya. Sentuhan humor terasa terutama dalam puisi berkabar atau narasinya. Mungkin dalam hal ini tiada teman baginya di Indonesia. Antologi puisinya berjudul Rendez-Vous diterbitkan di Rusia dalam terjemahan Victor Pogadaev dan dengan ilustrasi oleh Aris Aziz dari Malaysia (Rendez-Vous. Puisi Pilihan Taufiq Ismail. Moskow: Humanitary, 2004.)

Penghargaan: Mendapat Anugerah Seni dari Pemerintah (1970), Cultural Visit Award dari Pemerintah Australia (1977), South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand (1994), Penulisan Karya Sastra dari Pusat Bahasa (1994). Dua kali ia menjadi penyair tamu di Universitas Iowa, Amerika Serikat (1971-1972 dan 1991-1992), lalu pengarang tamu di Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur (1993).

Bibliografi: Ismael, Taufiq (1995). Prahara Budaya:kilas-balik ofensif Lekra/PKI dkk.:kumpulan dokumen pergolakan sejarah (dalam bahasa Bahasa Indonesia). Bandung: Mizan dan H.U. Republika. hlm. 469. ISBN 979-433-064-7.
Taufiq Ismail. Vernite Mne Indoneziyu (Kembalikan Indonesia Padaku). Puisi Pilihan. Diselenggarakan dan diterjemahkan oleh Victor Pogadaev. Moskow: Klyuch-C, 2010, ISBN 978-5-93136-119-2

Catatan kaki: Harian Singgalang, Ketika Sastrawan Jadi Datuk, 30 Maret 2009
Sumber: Ismail,Taufiq. 2004. Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia. Jakarta: Yayasan Indonesia.

Puisi-Puisi Karya Aziz Abdul Gofar

Puisi-Puisi Aziz Abdul Gofar

Pertanda Laut
buat emprit sawah

aku butuh ketemu denganmu
perempuan yang membawa pertanda laut
dalam tahun-tahun membentuk kita
dan menuruti hasrat memburu sesuatu
masih adakah sebuah tanda tak tersentuh
menyimpan rahasia tak terduga

perempuan yang membawa pertanda laut
gedung-gedung sekolah tersenyum putih
aku mengantarmu menaiki tangga kereta
lalu kutunggu di kaki-kaki dinding
membaca deru dari debu tanah lapang

kemudian kukirimkan isyarat laut
yang berjuntai di tubir jingga
kau sudah ngerti aku tak lagi
menghalau emprit-emprit sawah
menjaga ladang dan menelisik kabut
sesuatu telah terjadi dan orang-orang
datang dengan cerita yang sama

aku ingin mengantarmu
sejak dari kelok di tikungan
yang di kawal sekumpulan bambu
menggamitmu menyeberang kali berbatu
beberapa muncul aliran kecil
beberapa malam lepas tak terduga

aku selalu ingin mengikuti jejakmu
meloncati parit-parit dan bubu
yang akan kusampaikan pada
anak angin yang menyusup
ketika kata-kata sampai di depan pintu
ilalang di seberang sana itu perdu
membikin kata-kata menjadi tenang

aku masih ingin memandangimu mengetuk kaca
menunggu sejenak menelisik bunga di taman depan
kuharap ia bakal membikin kau ingat
dengan kalimat yang kuucap di malam pekat

aku selalu ingin memandang sebelum hilang
perempuan harum tanah sawah
tahun-tahun memenjarakan keberadaan
tadi siang adanya datang dalam mimpi
Pelangi di Halaman Belakang
Sepanjang Ponorogo-Bandung

dan ini ombak kembali bertemu semenanjung/ dari tumpukan karang menjelma pantai tak berujung/ bara dan api memadam lautan mendung/ sebelum memburu suar dalam angin yang digulung/ dan kepada pelangi yang menjembatani pulauku dan pulaumu/ kepada penjaga anjungan yang memegang bendera kecil di atas perahu/ aku melipat seluruh malu menjadi segulung senyum tersipu/ lalu perjumpaan kembali seperti kabar burung di sayap angin/ tentang cerita lama yang kita titipkan pada kegaduhan/ padahal kita selalu memaksa zaman bergegas/ ataukah lensaku berembun dan ini zaman jalannya rabun/ beda apakah, selama kubangan berselisih hari/ kemarin aku tawarkan cara hidup serupa tanah/ dan bagaimanakah cara hidupmu yang serupa itu/ toh, anak-anak begitu cepat tumbuh dewasa/ dan kita masih asyik bercanda sebagai gembala

kepada mimpi-mimpikah rindu ini kita payungi/ kedatangannya selalu menjadi perihal tak terhentikan/ selama ini ia tak mengenal ketika/ dari gelisah yang gagal kita padamkan/ perjanjian kita untuk memupusnya melahirkan desau gerimis/ di manakah naungan teduh perlindungan kita saat berjauh/ rumbai atapnya luruh lalu terjatuh/ padahal sisa mendung masih bersembunyi di balik semak liar/ aku merasa takut jika ia datang dan segala jadi terbakar/ sebab rindu yang berkecamuk terlanjur tumbuh dan menjalar/ seperti mimpi yang datang sebelum pagi tadi/ ia selalu ngerti aku yang menyembunyikan rindu/ menatap lekat hingga aku merasa dekat/ dalam semarak malam kerinduan menemukan wajah kota/ yang timur adalah sunyi lembah dan ngarai telaga basah/ yang selatan adalah angin persawahan dan kaki perbukitan/ yang barat adalah suara hutan dan sejarah bebatuan/ yang utara adalah gemuruh gempita peradaban/ merangkum rindu menjadi pendar segala penjuru/ tetapi cuma dengan hati perempuan/ perempuan yang rindu/ aku rela membagi hatiku yang pula rindu/ dan aku cuma mencari pembenaran pada perempuan/ dalam gelepar ketika terlanjur tertawan/ah, mengapa rumah selalu berkeliaran/ di ladang-ladang rindu yang/ begitu jauh/ bersebab hati yang sendiri

di lantai tiga menerawang ke arah bandara/ kunang-kunang datang dan pergi/ selepas saja hingga pagi dini/ ini malam hampir merdeka/ dari redup temaram hotel bintang lima/ sejak kemarin aku ingin memberimu kabar/ ketika cicak membunuh kupu-kupu di dekat lampu/ aku ingin memberimu kabar ketika seorang kawan mengundang/ kemudian kubayangkan wajahmu di lampu-lampu jalan kota/ getaran damai sunyi/ merambat dari sudut-sudut trotoar tua/ sementara dalam ruang-ruang yang terpisah sepasang tangga/ mereka menggubah sepi dengan sengkala diam/ aku ingin memberi kabar padamu/ akan kuceritakan kali pertama bagaimana aku bertemu mereka/ juga tentang duri dan jalan-jalan berlobang yang luput tak terbaca/ sambil kupautkan arah pandang dari lantai dua/ terasa bara menguap membelah udara malam/ menyebar lewat mata lalu berjatuhan di bibir sunyi/ sebelum aku memutuskan menaiki tangga kembali/ aku urung memberi kabar padamu/ tidak pula pada bunga-bunga dan anggur/ juga pada rembulan kota

lalu adamu dan mereka tak pernah lalai mengunjungiku/ datang dan pergi dalam sengkala kesadaranku/ silih berganti menjadi seribu petisi/ adamu dan mereka tak meracun dan sungguh ada/ aku juga setia membawa cawannya/ setetes demi setetes sampai bilah dadaku/ aku masih setia membawa cawan juga penala/ mereka semakin mengada selama/ kujaga dalam jamur-jamur di kepalaku/ aku tidak akan menyesal dengan alunan kota ini/ biar serupa angin gunung yang sesekali menyapa ngarai/ ranumnya membelai rumput-rumput dan hutan jati/ akan ada nama-nama dan macam kota-kota lain/ di ini kota mimpi memberikan nama yang elok/ menjagai dengan manis dan mendongengkan/ hari esok yang penuh rahasia nyanyi malam

5 Penulis Terkenal Indonesia Ini Karyanya Diterjemahkan Berbagai Bahasa

Indonesia bisa dikatakan sebagai gudangnya sastrawan hebat. Karya-karya anak negeri tak kalah keren kok dengan tulisan dari penulis-penulis negera lain. Pun, karya mereka juga sudah go international karena dianggap sangat menarik untuk dipelajari. Maka dari itu, tak jarang hasil karya dari para penulis berbakat Indonesia diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing.

Karena ada begitu banyak penulis berbakat yang dimiliki bangsa ini, sudah sepatutnya kita berbangga hati. Nah, mau tahu siapa saja mereka? Berikut adalah lima penulis berbakat Indonesia yang karyanya sudah go international dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa.

1. Goenawan Mohamad

Siapa yang tak pernah mendengar nama besarnya. Dia adalah salah satu sastrawan terkemuka di Indonesia yang karyanya bahkan sudah dibaca hingga ke luar negeri. Lahir di Batang pada 29 Juli 1941, Goenawan semasa muda lebih dikenal sebagai penyair. Bersama beberapa kawannya, dia kemudian mendirikan majalah berita Tempo pada tahun 1971. Sayangnya, tahun 1994 penerbitan Tempo dihentikan karena dianggap terlalu keras mengkritik rezim Orde Baru.

Setelah Soeharto jatuh pada 1998, barulah Tempo dibuka kembali. Untuk memperluas cakupan dari kantor berita ini, Tempo kemudian mengeluarkan surat kabar harian yang disebut Koran Tempo. Setelah menjabat selama dua periode (1971-1993 dan 1998-1999), Goenawan akhirnya berhenti sebagai wartawan. Meski begitu, dia tetap setia untuk berkarya di dunia seni dan sastra.

Soal karya tak perlu ditanya, karena tulisan-tulisan Goenawan sudah menembus hingga ke tingkat internasional. Seperti misalnya, kumpulan puisi dalam Parikesit (1969) dan Interlude (1971) telah diterjemahkan ke bahasa Belanda, Inggris, Jepang, dan Perancis. Bukunya yang berjudul Tuhan dan Hal Hal yang Tak Selesai (2007) juga sempat dibuat edisi bahasa Inggrisnya dengan judul On God and Other Unfinished Things. Buku tersebut diterjemahkan oleh Laksmi Pamuntjak.

2. Andrea Hirata

Karya-karya Andrea Hirata yang begitu cemerlang di dunia sastra berhasil membuat para pembaca kagum padanya. Selain jago merangkai kata, pria kelahiran Belitung, 24 Oktober 1967, ini juga dikenal sebagai seorang akademisi. Andrea sempat mengenyam pendidikan di luar negeri, ketika dirinya mendapat beasiswa program master di Universitas Sheffield Hallam, Britania Raya.

Kala itu, tesis Andrea yang ditulis untuk bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan dia bahkan berhasil lulus cum laude. Sekarang, tesis tersebut telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan menjadi buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.

Selain itu, novel-novel yang dikarangnya juga mendapat apresiasi yang sangat positif dari pembaca di luar negeri. Terbukti, tetralogi Laskar Pelangi sudah diterjemahkan ke dalam 21 bahasa, termasuk Jepang dan Italia. Dan karyanya itu juga telah menjadi Best Seller Internasional.

3. Buya Hamka

Pria yang masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia ini memang dikenal dengan karya romannya yang menyentuh hati. Tentunya, kamu masih ingat dengan film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck yang langsung bikin publik terpikat dengan karakter Zainuddin dan Hayati. Selain novel tersebut, Di Bawah Lindungan Ka’bah juga sudah diangkat ke layar lebar beberapa waktu lalu.

Karya roman dari Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama penanya, Hamka, juga telah diterjemahkan ke bahasa asing, termasuk Arab. Tak hanya aktif di dunia sastra, Hamka juga dikenal sebagai tokoh terkemuka Muhammadiyah. Dia sempat menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama.

Di bidang akademik, Hamka juga sering diminta untuk mengisi seminar dan ceramah. Untuk segala kontribusinya, Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia pernah mengganjarnya dengan gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta, telah mengukuhkan Hamka sebagai guru besar.

4. Pramoedya Ananta Toer

Berbakat dan berani. Dua kata itu bisa menggambarkan sosok Pramoedya Ananta Toer yang begitu cemerlang dengan karya-karya sastranya. Lahir di Blora, Jawa Tengah, dia dianggap sebagai salah satu pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Selama masa hidupnya, Pramoedya diketahui telah menghasilkan lebih dari 50 karya. Dan semuanya telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing.

Sastrawan yang meninggal pada 30 April 2006 ini sebetulnya memiliki nama Pramoedya Ananta Mastoer. Namun kata Mas kemudian dihilangkan dari Mastoer, karena dianggapnya terkesan aristokratik. Selama berkecimpung di dunia sastra, Pramoedya pernah dibui selama 3 tahun pada masa kolonial dan 1 tahun pada masa Orde Lama. Bahkan, rezim Orde Baru pernah menahannya selama 14 tahun, tanpa melalui proses pengadilan sama sekali.

Untuk segala kontribusinya di dunia sastra, Pramoedya telah diganjar dengan berbagai penghargaan, seperti Ramon Magsaysay Award, Wertheim Award, UNESCO Madanjeet Singh Prize, Doctor of Humane Letters, dan masih banyak lagi.

5. Chairil Anwar

Karyanya yang berjudul “Aku” masih diperdengarkan hingga sekarang. Ya, siapa lagi kalau bukan Chairil Anwar. Lahir di Medan, Sumatera Utara, pada 26 Juli 1922, Chairil kerap dijuluki “Si Binatang Jalang”. Puisi-puisi yang ditulisnya memang sangat mengena di hati. Hal ini karena Chairil sangat cerdas dalam memilih kata yang sangat pas dan apik.

Kecintaannya pada karya sastra, terutama puisi, dimulai ketika dia dan ibunya pindah ke Jakarta pada 1940. Dia pertama kali mempublikasikan puisinya pada tahun 1942. Sejak itu, Chairil pun semakin aktif menulis dan memasukkan beragam tema dalam puisinya. Sayangnya, kondisi fisik Chairil tak seprima karya-karya puisinya.

Dia bahkan akhirnya meninggal di usia yang masih muda, yakni 27 tahun. Menurut pengakuan beberapa kerabatnya, Chairil memang sudah sejak lama menderita sakit, dan diperkirakan dirinya meninggal akibat TBC. Meski begitu, karya dari pujangga ini tetap dikenang sampai sekarang. Bahkan, karya-karya Chairil sudah banyak diterjemahkan ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman, bahasa Rusia dan Spanyol.

Pengertian Karya Sastra Beserta Bentuk, Fungsi dan Jenisnya

Pengertian Karya Sastra

Karya Sastra adalah penciptaan disampaikan kepada komunikatif tentang maksud penulis untuk tujuan estetika. Karya-karya ini sering mengatakan, baik di pertama atau ketiga orang, dengan plot dan melalui penggunaan berbagai perangkat sastra yang berhubungan dengan waktu mereka.

Bentuk Karya Sastra

Ada beberapa fungsi sastra, salah satunya disampaikan oleh amriyan Sukandi adalah untuk mengkomunikasikan ide-ide dan menyalurkan pikiran dan perasaan dari pembuat estetika manusia. Gagasan itu disampaikan melalui mandat yang umumnya ada dalam literatur.

Selain ide, dalam literatur ada juga deskripsi peristiwa, gambar psikologis, dan pemecahan masalah jangkauan dinamis. Hal ini dapat menjadi sumber ide dan inspirasi bagi pembaca. Konflik dan tragedi yang digambarkan dalam karya sastra untuk memberikan kesadaran kepada pembaca bahwa ini bisa terjadi dalam kehidupan nyata dan dialami langsung oleh pembaca.

Kesadaran yang membentuk semacam kesiapan batin untuk mengatasi kondisi sosial yang berlaku dalam masyarakat. Sastra juga berguna untuk pembaca sebagai media hiburan.

Jenis-jenis Karya Sastra

Puisi – Karya sastra yang terikat oleh bait dan array, kata singkat tapi kaya makna, kata-kata yang tidak fulgar tapi dibungkus dengan kekerasan, baik klise atau tidak klise.

Pantun – Berasal dari Sumatera, Indonesia. Sajak terikat oleh garis pada setiap baris, dengan rumus abab. Pada pertama dan kedua baris adalah sampiran, sedangkan baris ketiga dan keempat adalah isi.

Roman – Fiksi yang menceritakan kisah hidup seseorang pemuda dari masa kanak-kanak sampai mati, atau dari bayi sampai dewasa. Roman adalah karya sastra lama.

Novel – Bentuk sastra yang menceritakan kisah fiksi kehidupan seseorang yang dianggap mengesankan. Misalnya, hanya memberitahu remaja untuk orang dewasa. Semua karakter dalam novel adalah fiktip belaka, tetapi disesuaikan dengan waktu ketika cerita itu ditulis. Jadi terjadi seakan-akan itu terjadi pada saat itu. Novel ini termasuk sastra modern.

Cerpen – Seperti namanya, cerita pendek biasanya terdiri dari 2-5 lembar kertas folio atau ukuran F4. Cerita pendek hanya menceritakan peristiwa yang paling berkesan yang menimpa tokoh utama.

Dongeng – Cerita lama yang biasanya tidak diketahui anonim, mengatakan hanya dari mulut ke mulut. Meskipun kini telah dikumpulkan dalam bentuk tertulis. Di masa lalu sudah menjadi kebiasaan ketika orang tua menceritakan kisah membuai dia. Sekarang hampir tidak ada orang tua mendongeng kepada anak-anak mereka.

Legenda – Sebenarnya hampir sama dengan dongeng, tidak diketahui siapa penulisnya. Namun legenda mengatakan tempat asal atau kisah kerajaan kuno. Misalnya “Sangkuriang” menceritakan asal-usul Gunung Maras.

Naskah Drama – Cerita lengkap dengan adegan dan dialog dari karakter. Dalam bermain aktor yang terorganisasi dengan baik cerita tentang bagaimana berbicara, adegan, dan ekspresi di wajahnya. Drama biasanya dimulai dengan prolog. Selain dialog antara para pemain, ada juga monolog karakter. Monolog adalah karakter berbicara dengan dirinya sendiri.

Biografi Asrul Sani


Lahir : Rao, Pasaman, 10 Juni 1927
Meninggal : Jakarta. 11 Januari 2004, Pukul 22.15 WIB
Istri : (1) Siti Nurani dan (2) Mutiara Sarumpaet
Anak : Tiga putra, tiga putri, enam cucu
Ayah : Sultan Marah Sani Syair Alamsyah, gelar Yang Dipertuan Rao Mapattunggal Mapatcancang

Pendidikan :
-Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Indonesia (IPB)
-Dramaturgi dan sinematografi di University of Southern California,Amerika Serikat tahun 1955-1957
-Sekolah Seni Drama di Negeri Belanda tahun 1951-1952
-SLTP hingga SLTA di Jakarta
-SD di Rao, Sumatera Barat

Karir Politik :
-Anggota DPR GR 1966-1971 mewakili Partai Nahdhatul Ulama
-Anggota DPR RI 1972-1982 mewakili PPP

Pendiri :
-“Gelanggang Seniman Merdeka”
-Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI)

Kegiatan Pergerakan : Lasjkaer Rakjat Djakarta, Tentara Pelajar di Bogo
Kegiatan Penerbitan : Menerbitkan “Suara Bogor”, redaktur majalah kebudayaan “Gema Suasana”, anggota redaksi “Gelanggang”, ruang kebudayaan Majalah’ Siasat”, dan wartawan Majalah “Zenith”
Konsep Kebudayaan : “Surat Kepercayaan Gelanggang”

Penghargaan :
-Tokoh Angkatan 45
-Bintang Mahaputra Utama, tahun 2000
-Enam buah Piala Citra pada Festifal Film Indonesia (FFI)
-Film Terbaik pada Festival Film Asia tahun 1970

Karya Puisi : “Tiga Menguak Takdir” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin, “Surat dari Ibu”, “Anak Laut”, 19 buah puisi dan lima buah cerpen sebelum penerbitan antologi “Tiga Menguak Takdir” tahun 1950, lalu sesudahnya tujuh buah puisi, enam buah cerpen, enam terjemahan puisi, tiga terjemahan drama, dan puisi-puisi lain yang dimuat antara lain di yang dimuat di majalah “Siasat”, “Mimbar Indonesia”, dan “Zenith”.
Karya Film : “Titian Serambut Dibelah Tudjuh”, “Apa yang Kau Cari Palupi” “Monumen”, “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”, “Naga Bonar”,. “Pagar Kawat Berduri”, “Salah Asuhan”, “Para Perintis Kemerdekaan”, “Kemelut Hidup”
Alamat rumah : Kompleks Warga Indah, Jalan Attahiriyah No. 4E, Peiaten. Kalibata. Jakarta Selatan

Biografi W.S Rendra


Nama Pena : WS Rendra
Nama Lengkap : Willibrordus Surendra Broto Rendra
Lahir : Solo, 7 Nopember 1935 71
Agama : Islam
Istri : Ken Zuraida

Pendidikan:
– SMA St. Josef, Solo
– Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
– American Academy of Dramatical Art, New York, USA (1967)

Karya-Karya Drama :
– Orang-orang di Tikungan Jalan
– SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor
– Oedipus Rex
– Kasidah Barzanji
– Perang Troya tidak Akan Meletus
– dll

Sajak/Puisi :
– Jangan Takut Ibu
– Balada Orang-Orang Tercinta (Kumpulan sajak)
– Empat Kumpulan Sajak
– Rick dari Corona
– Potret Pembangunan Dalam Puisi
– Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta
– Pesan Pencopet kepada Pacarnya
– Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)
– Perjuangan Suku Naga
– Blues untuk Bonnie
– Pamphleten van een Dichter
– State of Emergency
– Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api
– Mencari Bapak
– Rumpun Alang-alang
– Surat Cinta
– dll

Kegiatan Lain :
– Anggota Persilatan PGB Bangau Putih

Penghargaan :
– Hadiah Puisi dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (1957)
– Anugerah Seni dari Departemen P & K (1969)
– Hadiah Seni dari Akademi Jakarta (1975)

Biodata :
W.S Rendra dilahirkan di Solo, 7 November 1935. Beliau mendapat pendidikan di Jurusan Sastera Barat Fakultas Sastra UGM (tidak tamat), kemudian memperdalam pengetahuan mengenai drama dan teater di American Academy of Dramatical Arts,’ Amerika Syarikat (1964-1967).

Sekembali dari Amerika, beliau mendirikan Bengkel Teater di Yogyakarta dan sekaligus menjadi pemimpinnya. Tahun 1971 dan 1979 dia membacakan sajak-sajaknya di Festival Penyair International di Rotterdam. Pada tahun 1985 beliau mengikuti Festival Horizonte III di Berlin Barat, Jerman, Kumpulan puisinya; Ballada Orang – orang Tercinta, (1956), 4 Kumpulan Sajak (1961), Blues untuk Bonnie (1971), Sajak – Sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam puisi (1980), Disebabkan Oleh Angin (1993), Orang Rangkasbitung (1993) dan Perjalanan Aminah (1997).

Mengenal lebih dalam tentang Chairil Anwar. Penulis asal Medan, Sumatra Utara

Chairil Anwar adalah seorang penyair yang berasal dari Indonesia. Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di Majalah Nisan pada tahun 1942, saat itu ia baru berusia 20 tahun. Ia juga dikenal sebagai “Si Bintang Jalang” dalam karya-nya, yaitu “Aku”. Ia telah menulis sebanyak 94 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai pelopor Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia.


Biodata Chairil Anwar
Nama Lengkap : Chairil Anwar
Tanggal Lahir : 26 Juli 1922
Tempat Lahir : Medan, Indonesia
Pekerjaan : Penyair
Kebangsaan : Indonesia
Nama Orang Tua : Toeloes (ayah) dan Saleha (ibu)

Biografi Chairil Anwar
Chairil Anwar dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922. Ia merupakan anak tunggal dari pasangan Toeloes dan Saleha, ayahnya berasal dari Taeh Baruah. Ayahnya pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Inderagiri, Riau. Sedangkan ibunya berasal dari Situjug, Limapuluh Kota, ia masih punya pertalian kerabat dengan Soetan Sjahrir, Perdana Menteri pertama Indonesia.

Sebagai anak tunggal yang biasanya selalu dimanjakan oleh orang tuanya, namun Chairil Anwar tidak mengalami hal tersebut. Bahkan ia dibesarkan dalam keluarga yang terbilang tidak baik. Kedua orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sewaktu kecil Nenek dari Chairil Anwar merupakan teman akrab yang cukup mengesankan dalam hidupnya. Kepedihan mendalam yang ia alami pada saat neneknya meninggal dunia.

Chairil Anwar bersekolah di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi pada masa penjajahan Belanda. Dia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), sekolah menengah pertama Hindia Belanda, tetapi dia keluar sebelum lulus. Dia mulai menulis puisi ketika remaja, tetapi tidak satupun puisi yang berhasil ia buat yang sesuai dengan keinginannya.

Meskipun ia tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, tetapi ia tidak membuang waktunya sia-sia, ia mengisi waktunya dengan membaca karya-karya pengarang Internasional ternama, seperti : Rainer Maria Rike, W.H. Auden, Archibald Macleish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Ia juga menguasai beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.

Pada saat berusia 19 tahun, ia pindah ke Batavia (sekarang berubah nama menjadi Jakarta) bersama dengan ibunya pada tahun 1940 dimana ia mulai kenal dan serius menggeluti dunia sastra. Puisi pertama yang telah ia publikasikan, yaitu pada tahun 1942. Chairil terus menulis berbagai puisi. Puisinya memiliki berbagai macam tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme.

Selain nenek, ibu adalah wanita yang paling Chairil cinta. Ia bahkan terbiasa menyebut nama ayahnya, Tulus, di depan sang ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.

Dunia Sastra
Nama Chairil Anwar mulai terkenal dalam dunia sastra setelah pemuatan tulisannya di “Majalah Nisan” pada tahun 1942, pada saat itu dia berusia dua puluh tahun. Namun, saat pertama kali mengirimkan puisi-puisinya di “Majalah Pandji” untuk dimuat, banyak yang ditolak karena dianggap terlalu individualistis. Hampir semua puisi-puisi yang dia tulis merujuk pada kematian. Puisinya beredar di atas kertas murah selama masa pendudukan Jepang di Indonesia yang tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Salah satu puisinya yang paling terkenal dan sering dideklamasikan berjudul Aku (“Aku mau hidup Seribu Tahun lagi!”). Selain menulis puisi, ia juga menerjemahkan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Dia juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan Gema Suasana. Dia juga mendirikan “Gelanggang Seniman Merdeka” pada tahun 1946.

Kumpulan puisinya antara lain: Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949); Deru Campur Debu (1949), Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Seniman Pelopor Angkatan 45 Asrul Sani dan Rivai Apin), Aku Ini Binatang Jalang (1986), Koleksi sajak 1942-1949″, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986); Derai-derai Cemara (1998). Buku kumpulan puisinya diterbitkan Gramedia berjudul Aku ini Binatang Jalang (1986).

Ketika menjadi penyiar radio Jepang di Jakarta, Chairil jatuh cinta kepada Sri Ayati tetapi hingga akhir hayatnya Chairil tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkannya. Kemudian ia memutuskan untuk menikah dengan Hapsah Wiraredja pada 6 Agustus 1946. Mereka dikaruniai seorang putri bernama Evawani Alissa, namun karena masalah kesulitan ekonomi, mereka berdua akhirnya bercerai pada akhir tahun 1948.

Puisi “Aku”
Chairil Anwar pertama kali membaca “AKU” di Pusat Kebudayaan Jakarta pada bulan Juli 1943. Hal ini kemudian dicetak dalam Pemandangan dengan judul “Semangat”, sesuai dengan dokumenter sastra Indonesia, HB Jassin, ini bertujuan untuk menghindari sensor dan untuk lebih mempromosikan gerakan kebebasan. “AKU” telah pergi untuk menjadi puisi Anwar yang paling terkenal.

“Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Akhir Hayat”

Akhir Hayat
Vitalitas puitis Chairil tidak pernah diimbangi dengan kondisi fisiknya. Sebelum menginjak usia 27 tahun, sejumlah penyakit telah menimpanya. Chairil meninggal dalam usia muda di Rumah Sakit CBZ (sekarang Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo), Jakarta pada tanggal 28 April 1949, penyebab kematiannya tidak diketahui pasti. Ia dimakamkan sehari kemudian di Taman Pemakaman Umum Karet Bivak, Jakarta.

Menurut catatan rumah sakit tersebut, ia dirawat karena tifus. Meskipun demikian, ia sebenarnya sudah lama menderita penyakit paru-paru dan infeksi yang menyebabkan dirinya makin lemah, sehingga timbullah penyakit usus yang membawa kematian dirinya yakni ususnya pecah. Tapi, menjelang akhir hayatnya ia menggigau karena tinggi panas badannya, dan di saat dia insaf akan dirinya dia mengucap, “Tuhanku, Tuhanku…”.

Makamnya diziarahi oleh ribuan pengagumnya dari masa ke masa. Hari meninggalnya juga selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar. Kritikus sastra Indonesia asal Belanda, A. Teeuw menyebutkan bahwa “Chairil telah menyadari akan mati muda, seperti tema menyerah yang terdapat dalam puisi berjudul Jang Terampas Dan Jang Putus”.

6 Penulis Indonesia yang sudah Sampai Mendunia

pramoedya-ananta-toer

6 Penulis Indonesia yang sudah Sampai Mendunia

Ditengah kritikan tajam menyoal budaya membaca di indonesia dan produktifitas karya tulis menulisnya, berikut ini penulis kepunyaan Indonesia yang sudah sampai mendunia :

Berikut ini Penulis penulis indonesia yang sudah sampai mendunia :

1. Pramoedya Ananta Toer
Siapa yang tak kenal dengan Pram, penulis yang tetap produktif meski dalam penjara. Karyanya yang luar biasa salah satunya adalah Tetralogi Pulau Buru yang ditulis oleh dirinya ditengah keterasingan ketika menjadi tahanan politik di Pulau Buru selama 10 tahun. Pram telah menghasilkan lebih dari 50 buku dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41 bahasa asing. Prestasinya sebagai sastrawan kebanggaan Indonesia membuatnya diganjar dengan berbagai penghargaan internasional seperti Fredom to Write Award dari PEN American Center, penghargaan dari The Fund for Free Expression, Wertheim Award, Ramon Magsaysay Award, UNESCO Madanjeet Singh Prize dan masih banyak lagi.

2. Suwarsih Djojopuspito
Nama ini mungkin masih terdengar asing di telinga kita. Suwarsih Djojopuspito lahir pada 21 April 1912 merupakan salah satu penulis Indonesia yang hidup dan merasakan masa penjajahan di Indonesia. Semasa hidupnya setidaknya Suwarsih menghasilkan 9 buku yang bukan hanya terbit di Indonesia tetapi juga diakui di negeri Belanda. Karyanya yang terkenal berjudul Manusia Bebas atau Buiten het Gareel dalam bahasa Belanda.

3. Taufik Ismail
Taufik Ismail merupakan salah satu sastrawan kebanggan kita, lahir pada 25 Juni 1935 karya-karyanya diterjemahkan kedalam banyak bahasa salah satunya Inggris, Prancis, Jerman, Rusia dan China. Taufik Ismail dulunya berkuliah di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI (sekarang IPB), akan tetapi kesukaannya terhadap sastra menjadikannya salah satu tokoh penting yang juga turut mendirikan DKJ. Taufik Ismail pernah mendapatkan penghargaan Cultural Visit Award dari Australia, South East Asia Write Award dari Kerajaan Thailand dan masih banyak lagi.

4. Ahmad Thohari
Bagi kamu yang pernah menonton Sang Penari  pasti tahu bahwa film tersebut diangkat dari karya sastra Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Thohari. Sastrawa yang lahir pada 13 Juni 1948 ini pernah berkuliah di Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Fakultas Ekonomi Universitas Sudirman dan Fakultas Sosial Politik Universitas Sudirman. Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk karyanta telah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Jerman, Belanda dan Inggris. Selain karyanya yang diterjemahkan dalam berbagai bahasa, Ahmad Thohari pun mendapat penghargaan Sastra ASEAN, SEA Writer Award di tahun 1995.

5. NH Dini
Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang akrab kita sebut NH Dini lahir pada 29 Februari 1936 adalah seorang sastrawan, novelis dan feminis Indonesia. Peraih penghargaan SEA Write Award di bidang sastra ini telah melahirkan lebih dari 20 buku yang banyak bercerita tentang wanita. Karya-karyanya antara lain Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975), Pertemuan Dua Hati (1986) dan masih banyak lagi yang diambilnya dari realita dan kepekaan terhadap lingkungan. Anaknya, seperti kita tahu Pierre Coffin adalah Sutradara film Despicable Me.

6. Mochtar Lubis
Mochtar Lubis lahir di Padang pada 7 Maret 1922. Karya-karyanya antara lain Perempuan(1956), Kuli Kontrak(1982), Harimau! Harimau! (1975) dan banyak lagi baik cerpen, essai ataupun novel. Mochtar Lubis pernah mendapat penghargaan Magsaysay Award dari Pemerintah Filipina dan Pena Emas dari World Federation of Editor & Publisher.

demikianlah Penulis indonesia yang sudah sampai mendunia.  Namun masih banyak juga sastrawan lainnya yang dimiliki oleh indonesia yang sudah merabah internasional seperti andrea Hirata, Dewi Lestari dan masih banyak lagi. Terus mari kita tingkatkan terus kegemaran dalam membaca maupun menulis. Semoga indonesia bisa menjadi dikenal dunia yang luas dalam karyanya. Terima kasih

Tentang Sastra Indonesia

sastra-indonesia

Tentang Sastra Indonesia

Puisi dan prosa tulisan dalam bahasa Jawa, Melayu, Sunda, dan bahasa lain dari bangsa Indonesia. Mereka termasuk karya lisan dan kemudian disimpan dalam bentuk tertulis oleh masyarakat Indonesia, sastra lisan, dan literatur modern yang mulai muncul di awal abad 20 sebagai akibat dari pengaruh Barat.

Banyak dari lagu-lagu Indonesia, atau puisi, yang secara lisan oleh profesional imam-penyanyi mewujudkan tradisi yang memiliki fungsi agama. Improvisasi memainkan peran besar dalam jenis puisi, dan ada alasan untuk percaya bahwa dalam bentuknya yang sekarang banyak itu adalah tidak usia yang besar. Bentuk prosa lisan Indonesia sangat bervariasi dan mencakup mitos, cerita hewan dan “dongeng binatang,” dongeng, legenda, teka-teki dan teka-teki, dan anekdot dan cerita petualangan. Pahlawan ilahi dan hewan epik kisah ini menunjukkan pengaruh sastra India dan literatur tertulis budaya tetangga lainnya.

Sastra yang ditulis di Indonesia telah diawetkan dalam berbagai bahasa dari Sumatera (Aceh, Batak, Rejang, Lampong, dan Melayu), dalam bahasa Jawa (Sunda dan Madura serta Jawa), di Bali dan Lombok, dan di lebih bahasa penting dari Sulawesi Selatan (Makassar dan Bugis). Sejauh ini yang paling penting dalam kuantitas dan kualitas adalah literatur dalam bahasa Jawa dan Melayu.

Contoh paling awal dari tanggal sastra Jawa dari ce abad ke-9 atau 10. Posisi penting dalam literatur awal ini ditempati oleh prosa Jawa dan versi puitis dari dua epos Hindu yang besar, Mahabharata dan Ramayana. Orang Jawa juga dipinjam dari puisi pengadilan canggih India dalam bahasa Sanskerta, dalam proses membuatnya Jawa dalam ekspresi, bentuk, dan perasaan.

Ketika Islam mencapai Jawa di abad ke-15, kecenderungan mistis di dalamnya dimasukkan oleh orang Jawa menjadi literatur mereka sendiri nyata mistis agama. pengaruh Muslim terutama subur selama awal abad ke-17 di Aceh, di mana Melayu untuk pertama kalinya menjadi ditulis bahasa sastra penting. Di Jawa, legenda Muslim dari orang-orang kudus digabungkan dengan mitologi dan kosmologi Hindu yang diturunkan untuk menghasilkan karya-karya imajinatif dari narasi sejarah di mana unsur-unsur magis-mistis memainkan peran penting.
Topik serupa

Orang Jawa dan literatur Melayu menurun di bawah pengaruh dominasi kolonial Belanda pada abad ke-18 dan ke-19. Hanya di abad ke-20 melakukan sastra Indonesia modern muncul, terkait erat seperti itu untuk gerakan nasionalis dan ideal baru bahasa nasional, Bahasa Indonesia. Setelah 1920 sastra Indonesia modern dengan cepat muncul. Muhammad Yamin dan penyair terkemuka lainnya pada saat ini dipengaruhi oleh bentuk dan mode ekspresif Romantis, Parnassian, dan simbolis ayat dari Eropa. Novel Indonesia pertama juga muncul pada tahun 1920 dan 30-an; ini adalah karya khas daerah oleh Abdul Muis dan lain-lain di mana tema sentral adalah perjuangan antara generasi, antara beban menyesakkan tradisionalisme dan dorongan untuk kemajuan modern.

Pada tahun 1933, dengan munculnya review Pudjangga Baru ( “The New Penulis”), generasi baru intelektual mulai menilai apakah untuk mempertahankan nilai-nilai tradisional atau secara sadar menerima norma-norma Barat dalam upaya untuk membangun budaya modern tapi benar-benar Indonesia. Diskusi ini terganggu oleh pendudukan Jepang di Indonesia pada tahun 1942, yang akhirnya putus generasi yang masih terikat erat dengan situasi kolonial Indonesia. Dengan revolusi nasionalis Indonesia tahun 1945, generasi baru penulis muda sungguh-sungguh nasionalis dan idealis yang mengaku humanisme universal yang datang ke permukaan. inspirasi dan pemimpin mereka adalah penyair besar Chairil Anwar, yang meninggal pada tahun 1949 pada usia 27. Penulis yang paling menonjol muncul saat ini adalah Pramoedya Ananta Toer, yang mendukung revolusi menyebabkan penangkapannya pada tahun 1947 oleh pemerintah kolonial Belanda. Dia menulis novel yang diterbitkan pertamanya, Perburuan (1950; The Fugitive), sementara dipenjara.