20 Quotes Sastrawan Indonesia yang Bakal Mengubah Hidupmu Seketika

Ada banyak hal yang punya andil untuk mempengaruhi hidup kita, seperti buku, musik, hobi dan lain-lain. Begitu juga dengan quotes yang dicetuskan sastrawan Indonesia. Hanya dengan selarik-dua larik kalimat, kehidupan kita dapat terpengaruh. Memang magis.

Kita lantas dibuat sadar tentang banyak hal. Tentang kehidupan sosial, cinta yang tak picisan, penantian yang sia-sia, dan hal-hal lain yang dekat dengan keseharian. Padahal hanya dengan selarik kalimat. Tak percaya? Yuk simak quotes sastrawan Indonesia yang bakal mengubah hidupmu.

1. “Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.” – Seno Gumira Ajidarma

2. “Seorang pencerita adalah juga seorang penghapus.” ― Intan Paramaditha

3. “Aku kira, setiap penulis yang jujur, akhir-kelaknya akan kecewa dan dikecewakan.” ― Pramoedya Ananta Toer

4. “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”― Pramoedya Ananta Toer

5. “Dalam hidup kita, cuma satu yang kita punya, yaitu keberanian. Kalau tidak punya itu, lantas apa harga hidup kita ini?”― Pramoedya Ananta Toer

6. “Definisi kesepian yang sebenarnya adalah hidup tanpa tanggung jawab sosial.” ― Goenawan Mohamad

7. “Kemampuan membaca itu sebuah rahmat. Kegemaran membaca: sebuah kebahagiaan.”― Goenawan Mohamad

8. “Kau harus tahu lupa adalah lahan subur kenangan-kenangan. Biarkan ia mengalir seumpama sungai. Saatnya akan tiba, kau akan betul-betul lupa.” ― M. Aan Mansyur

9. “Mantan kekasih persis seperti utang, kita tidak pernah betul-betul melupakannya. Kita hanya selalu pura-pura melupakannya.”― M. Aan Mansyur

10. “Aku mencintaimu. Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu” ― Sapardi Djoko Damono

11. “Barangkali hidup adalah doa yang panjang, dan sunyi adalah minuman keras. ia merasa Tuhan sedang memandangnya dengan curiga; ia pun bergegas.” ― Sapardi Djoko Damono

12. “Lalu, apabila kematian adalah keperkasaan kodrati maka kehadirannya, bahkan baru gejalanya, sudah mampu membungkam segala gejolak rasa.”― Ahmad Tohari

13. “Kekalahan di bidang politik adalah kesalahan hidup secara habis-habisan dan akibatnya bahkan tertanggung juga oleh sanak-famili.”― Ahmad Tohari

14. “Kalau yang memuji itu teman baik, itu biasa. Kalau yang mencela itu musuh, juga biasa. Tapi kalau yang memuji itu musuh, dan yang mencela itu kawan, itu menyebabkan saya berpikir-pikir.” ― A.A. Navis

15. “Hal lain yang menghalangi produktivitas ialah pujian kritisi. Pujian itu bagai menantang saya, agar saya menulis yang nilainya sama dengan apa yang terbaik telah saya tulis selama ini.” ― A.A. Navis

16. “Semakin banyak yang kuketahui tentang dirinya, semakin ia tak menarik lagi. Hubungan kita bisa panjang, karena aku tak tahu seluruhnya tentang dirimu.”― Linda Christanty

17. “Kalau hendak membuat api, dengan dua potong kayu, janganlah diperpukulkan, karena maksudmu tidak akan kesampaian. Jangan potong-potong, tapi pergosok-gosokkan dengan perlahan-lahan… Jangan dengan angkara murka, hendaklah dengan sabar juga. Sabar, bukan tanda kalah, melainkan tanda seimbang, tanda sama tengah yang sejati, pangkal mula kehidupan yang benar.” ― Armijn Pane

18. “Keris dan tombak itu budaya agraris, sedangkan pistol itu budaya industrial. Dengan keris dan tombak orang mesti kenal dengan terbunuh, sedangkan dengan pistol orang dapat membunuh dari kejauhan.” ― Kuntowijoyo

19. “Kita bisa memesan bir, namun tidak bisa memesan takdir.” ― Djenar Maesa Ayu

20. “Adakah keindahan perlu dinamai?” ― Ayu Utami

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*